Ramadan dan Kebutuhan Gizi Anak
Pagi itu, bulan Ramadan masih muda. Anak-anak datang ke sekolah dengan perut kosong, bukan karena tidak ada makanan di rumah, tetapi karena mereka sedang belajar menahan lapar. Di atas meja, tas merah bertuliskan SPPG dibagikan. Isinya: satu buah salak, sepuluh biji kacang goreng, setengah jagung rebus, dan goreng-goreng. MBG hari ini hadir dalam bentuk menu kering.
Di bulan yang seharusnya mengajarkan empati pada yang lapar, justru muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah menu seperti ini cukup menopang tubuh anak-anak yang berpuasa?
Ibrahim Hading, salah satu orang tua siswa, kemudian merasa prihatin dengan menu yang dibagikan kepada anak-anak di Bulukumpa. Ia merasa seharusnya penyedia lebih bisa menyediakan yang lebih baik lagi.
Ramadan dan Perubahan Kebutuhan Gizi
Ramadan bukan sekadar perubahan waktu makan. Ia mengubah pola metabolisme tubuh. Anak-anak yang berpuasa membutuhkan asupan yang cukup saat sahur dan berbuka agar energi tetap stabil hingga siang hari.
Masalahnya, menu MBG ini tidak dimakan saat pagi di sekolah seperti hari biasa. Ia akan dibawa pulang, menunggu waktu berbuka. Artinya, fungsi intervensi langsung di jam belajar—yang menjadi roh program MBG—praktis hilang.
Jika tujuannya menjaga konsentrasi dan stamina belajar, maka distribusi menu kering saat Ramadan perlu dievaluasi ulang. Karena saat jam sekolah, anak tetap dalam kondisi tanpa asupan.
Energi Cepat, Protein Terbatas
Mari kita lihat komposisinya secara jujur.
Salak memberi serat dan gula alami.
Jagung memberi karbohidrat.
Gorengan ubi menambah kalori dari minyak.
Kacang goreng menyumbang sedikit protein.
Total energi mungkin sekitar 300–350 kkal. Tetapi protein? Hanya sekitar 4–6 gram.
Untuk anak usia sekolah yang membutuhkan 35–45 gram protein per hari, angka ini terlalu kecil untuk disebut sebagai “penguat pertumbuhan”.
Ramadan justru menuntut makanan berbuka yang mengandung protein cukup agar pemulihan energi optimal. Tanpa protein yang memadai, tubuh hanya diisi ulang karbohidrat dan lemak.
Anak mungkin kenyang. Tetapi belum tentu tercukupi gizinya.
Dominasi Gorengan di Bulan Suci
Ramadan identik dengan gorengan. Itu budaya. Itu kebiasaan. Namun ketika gorengan menjadi bagian dari program yang menyandang kata “bergizi”, kita perlu berhenti sejenak.
“Apakah tidak salah menu?” Ungkap Ibrahim Hading, salah satu dari orangtua siswa yang anaknya juga mendapatkan MBG.
Ubi adalah bahan pangan baik. Tapi ketika digoreng, kandungan lemaknya meningkat. Kacang goreng pun demikian. Dalam porsi kecil mungkin tak masalah. Tetapi jika sebagian besar energi berasal dari minyak, kualitasnya perlu dipertanyakan.
Apalagi ini untuk anak-anak yang sedang tumbuh.
Antara Praktis dan Substansi
Kita memahami tantangan teknis saat Ramadan. Makanan basah mudah basi. Distribusi lebih rumit. Menu kering lebih aman. Tetapi keamanan distribusi tidak boleh mengalahkan substansi gizi.
“Kita paham, kondisinya sekarang bulan Ramadan. Anak-anak sedang berpuasa, wajar menu MBG yang mereka dapatkan di sekolah adalah menu kering. Tapi tidak seperti ini juga kan menunya?” Ungkap Baim.
Dengan anggaran yang sama, mungkinkah mengganti gorengan dengan telur rebus? Mungkinkah menambah tempe kukus atau susu UHT kecil? Mungkinkah komposisi disesuaikan khusus Ramadan, bukan sekadar “yang penting ada paket”?
“Janganlah yang penting dibagikan saja MBGnya, sesuaikan jugalah.” Tuturnya.
“Ini kan program publik, bukan hanya soal realisasi anggaran. Ia soal dampak.”
Kritik sebagai Bentuk Kepedulian
Ibrahim Hading tidak mencelah atau mengkritik keras yang namanya MBG, baginya MBG adalah program yang baik dalam semangat. Ia menunjukkan negara dan lembaga ingin hadir.
Namun menurutnya, Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi—termasuk refleksi kebijakan. Ia menambahkan bahwa jika menu yang dibagikan belum mampu memenuhi keseimbangan gizi, maka evaluasi bukanlah serangan. Ia adalah bentuk tanggung jawab.
Karena anak-anak yang berpuasa tetap belajar. Tetap bertumbuh. Tetap membutuhkan protein, vitamin, dan mineral yang cukup.
MBG itu mungkin terasa ringan ketika dibawa pulang. Tetapi harapan di dalamnya seharusnya tidak ringan.
“Jika kita menyebutnya ‘Makanan Bergizi Gratis’, maka standar bergizinya tidak boleh ikut berpuasa juga kan.” Tutup Baim.





