Penyebab dan Solusi Keluhan Menu MBG Siswa di Tarakan
Beberapa waktu lalu, terjadi keluhan dari para siswa terkait menu Makanan Berbuka Gizi (MBG) yang disajikan di sekolah-sekolah di Tarakan, Kalimantan Utara. Masalah ini muncul setelah ditemukan bahan pangan rusak seperti telur hitam dan kurma berulat dalam menu tersebut. Selain itu, para siswa juga mengeluh bahwa menu MBG tidak bervariasi dan selalu sama, sehingga membuat mereka merasa bosan.
Peran SPPG dalam Menyediakan Menu yang Sehat
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar oleh DPRD Tarakan pada Senin (2/3/2026), Korwil SPPG Tarakan, Dewi menjelaskan bahwa penyajian telur dalam menu MBG tetap menjadi prioritas. Hal ini karena nilai gizi telur dinilai lebih tinggi dibandingkan makanan olahan seperti sosis atau nugget. Telur kaya akan protein dan kandungan gizi yang baik untuk perkembangan otak.
“Kami menerima keluhan anak-anak yang merasa bosan dengan menu yang sama. Namun, kami juga harus memberikan edukasi bahwa telur memiliki kandungan gizi yang sangat baik untuk tubuh. Lebih baik daripada makanan olahan yang kurang sehat,” ujarnya.
Pengaturan Menu Sesuai Kelompok Usia
Selain itu, BGN (Badan Garansi Nasional) telah mengintruksikan SPPG untuk menyajikan makanan sesuai dengan kelompok usia. Dalam hal ini, SPPG memiliki kewenangan untuk menentukan jenis makanan yang disajikan. Namun, penentuan ini harus mempertimbangkan kondisi dapur dan ketersediaan bahan baku.
“Jadi, tidak ada aturan yang menyatakan bahwa dalam anggaran Rp10.000, harus ada roti atau telur. Yang penting adalah kebutuhan nutrisi siswa terpenuhi,” jelas Dewi.
Usulan Label Harga untuk Transparansi Anggaran
Dalam RDP tersebut, Komisi II DPRD Tarakan mengusulkan agar setiap menu MBG dilengkapi dengan label harga. Tujuan dari usulan ini adalah untuk meningkatkan transparansi penggunaan anggaran yang dialokasikan sebesar Rp10.000 per hari. Dengan adanya label harga, penggunaan dana bisa lebih terukur dan tepat sasaran.
Misalnya, jika roti bungkus dijual dengan harga Rp2.000, maka anggaran yang digunakan bisa lebih mudah dipantau. Menjawab usulan ini, Dewi menyatakan bahwa sebenarnya hal ini bisa diterapkan. Namun, saat ini data menu dan harga per item sudah diposting oleh SPPG dalam bentuk tabel informasi.
“Beberapa SPPG juga sudah memberikan informasi dalam bentuk tabel. Dalam menu ini, kami tambahkan harga masing-masing item,” ujarnya.
Penyebaran Informasi ke Sekolah dan Siswa
Informasi mengenai harga per item ini disampaikan oleh SPPG melalui grup PIC (Pengelola Informasi Kegiatan) sekolah. PIC kemudian bertugas untuk menyampaikannya kepada penerima manfaat, yaitu siswa. Dengan demikian, siswa dapat lebih memahami penggunaan anggaran yang dialokasikan untuk MBG.
Kesimpulan
Keluhan tentang menu MBG yang monoton dan bahan pangan rusak menunjukkan pentingnya pengawasan dan transparansi dalam penyediaan makanan untuk siswa. Dengan adanya inisiatif dari DPRD dan SPPG, diharapkan ke depannya menu MBG dapat lebih bervariasi dan tetap memperhatikan kesehatan serta kenyamanan siswa. Selain itu, penambahan label harga di setiap menu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya penggunaan anggaran secara efektif dan efisien.





