Mewujudkan Cinta Suku Mee Papua Tengah Melalui Festival Seni Budaya SMA Negeri 1 Deiyai

Photo 2023 12 17 18 58 20
Photo 2023 12 17 18 58 20

Festival Seni Budaya Mee di SMA Negeri 1 Waghete

SMA Negeri 1 Waghete, Deiyai menggelar festival seni budaya Mee untuk siswa kelas XII dalam rangka meningkatkan kesadaran akan budaya lokal kepada generasi muda. Acara ini berlangsung pada Jumat (27/02/2026) dan menjadi momen penting dalam upaya melestarikan warisan budaya suku Mee.

Sejak pagi hari, para siswa tampil dengan pakaian adat Koteka yang lengkap. Para siswa laki-laki memakai migabai (penutup kepala), amaapa (penyilang dada), kagamaapa (gelang lengan), serta hiasan lainnya, termasuk Ukaa Mapega (busur dan anak panah). Sementara itu, siswa perempuan mengenakan Moge dan baju-baju kulit kayu yang dirajut serta noken yang indah. Mereka berbaris di halaman sekolah sambil menunjukkan kekayaan budaya mereka.

Kepala Sekolah SMA Negeri 01 Waghete, Mariana Adii, mengatur dan memandu puluhan siswanya dalam kegiatan ini. Awalnya, rombongan siswa dan guru menuju Dinas Pendidikan Kabupaten Deiyai. Di sana, mereka melakukan ‘Waitaa’ di halaman dinas tersebut. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke halaman Kantor Bupati Deiyai.

Di tempat tersebut, para siswa diterima oleh Asisten II Setda Deiyai, Mesak Pakage, yang mewakili Bupati Deiyai. Selama pertemuan, siswa menyampaikan beberapa hal terkait apresiasi terhadap dukungan pemerintah daerah. Setelah itu, siswa kembali ke sekolah dengan jalan santai sambil melantunkan ‘Yuu Waitaa’ sambil mengelilingi kota Waghete.

Mariana Adii menjelaskan alasan utama pengajuan kunjungan ke pemerintah Daerah Deiyai. Ia mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pendidikan yang selama ini memberikan perhatian serius terhadap sekolah. Selain itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Deiyai dan Gubernur Papua Tengah.

“Kami ingin menunjukkan kepada pemerintah dan orang tua bahwa generasi muda benar-benar mencintai budaya Mee sebagai jati diri mereka,” ujar Mariana Adii.

Selain itu, ia menambahkan bahwa penggunaan atribut budaya merupakan bagian dari nilai sekolah yang diberikan dalam ujian kelas III. “Fragmen Seni dan Budaya dalam ujian untuk kelas III ini kami lakukan setiap tahun,” tambahnya.

Festival budaya ini diharapkan dapat menanamkan rasa cinta terhadap jati diri suku Mee kepada siswa kelas X dan XI serta generasi muda secara umum. Acara ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mendalam bagi siswa.

Setelah kembali ke sekolah, para siswa menampilkan beberapa atraksi budaya yang dibagi dalam empat kelompok. Guru-guru, dipimpin oleh guru Seni dan Budaya, memberikan penilaian atas atraksi yang ditampilkan. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen sekolah dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal.






Pos terkait