Migrant Care Minta Pemerintah Lindungi PMI di Tengah Ketegangan Iran-AS

Aa1xikem 1
Aa1xikem 1



JAKARTA — Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap pecahnya perang di kawasan Timur Tengah. Ia menilai konflik ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang dapat membahayakan keselamatan ratusan ribu pekerja migran, termasuk warga negara Indonesia.

Dalam pernyataannya, Wahyu menekankan bahwa perang dan penggunaan senjata merupakan bentuk arogansi kekuasaan yang justru memperparah penderitaan masyarakat sipil. Sebagai organisasi yang fokus pada advokasi pekerja migran, Migrant Care melihat dampak langsung dari eskalasi konflik di kawasan tersebut terhadap para pekerja migran Indonesia (PMI) yang tinggal di berbagai negara di wilayah itu.

Menurut dia, situasi yang penuh ketidakpastian, suasana ketakutan, serta lokasi dekat dengan area strategis yang bisa menjadi target serangan membuat para PMI berada dalam ancaman serius.

“Eskalasi perang ini dapat berdampak langsung pada ratusan ribu pekerja migran yang berada di kawasan Timur Tengah. Mereka hidup dalam ketidakpastian, dicekam rasa takut, dan berada dekat dengan situs perang,” ujar Wahyu, Minggu (1/3/2026).

Selain itu, Migrant Care juga mengharapkan pemerintah segera bertindak cepat dan bekerja sama lintas kementerian serta perwakilan RI di luar negeri. Tujuannya adalah untuk memastikan seluruh PMI di Timur Tengah tetap aman di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas.

Untuk menangani situasi ini, Migrant Care mendesak pemerintah Indonesia agar segera memastikan kondisi para PMI di wilayah terdampak. Pemerintah diminta membuka kanal informasi dan pengaduan yang mudah diakses di negara-negara terdampak konflik.

Selain itu, pemerintah juga didorong untuk secara berkala memperbarui informasi situasi terkini kepada publik dan keluarga pekerja migran di tanah air. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi kepanikan serta mencegah penyebaran informasi yang tidak akurat.

Migrant Care juga menekankan pentingnya penyusunan langkah-langkah konkret dan rencana kontinjensi, termasuk skenario evakuasi apabila situasi keamanan semakin memburuk. Langkah antisipatif dinilai krusial untuk menjamin keselamatan dan perlindungan maksimal bagi pekerja migran Indonesia di kawasan konflik.

“Keselamatan pekerja migran Indonesia harus menjadi prioritas utama di tengah eskalasi perang yang tidak menentu ini,” ujar Wahyu.

Pos terkait