Mitos Puasa: Kurus atau Gendut, GERD Kambuh?

Aa1wyjyg
Aa1wyjyg



islamipedia.id, JAKARTA – Setiap tahun, saat tiba bulan Ramadan, selalu muncul mitos baru tentang puasa yang menyebar di kalangan masyarakat. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, puasa Ramadan memiliki dampak besar terhadap perubahan gaya hidup sehari-hari. Mulai dari rutinitas kerja, budaya konsumsi saat berbuka, hingga aktivitas hobi seperti olahraga atau membaca.

Berikut beberapa mitos tentang puasa Ramadan yang populer dan sering dipercaya oleh banyak orang:

Mitos 1: Puasa Membuat Kurus atau Malah Gendut?

Banyak orang percaya bahwa puasa Ramadan bisa menjadi momen ideal untuk menurunkan berat badan. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang justru mengalami kenaikan berat badan setelah menjalani puasa Ramadan. Hal ini terjadi karena pola makan yang tidak terkendali, seperti mengonsumsi makanan berlebihan saat berbuka atau sahur.

Meski bagi mereka yang memiliki obesitas, puasa Ramadan bisa membantu menurunkan berat badan dan persentase lemak tubuh, efeknya biasanya tidak bertahan lama. Studi yang diterbitkan dalam Effect of Ramadan Fasting on Weight and Body Composition in Healthy Non-Athlete Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis (2019) menunjukkan bahwa penurunan berat badan ini tidak selalu berdampak permanen jika tidak diimbangi dengan perubahan gaya hidup yang berkelanjutan.

Mitos 2: Konsentrasi Menurun Saat Puasa

Puasa memang bisa membuat seseorang merasa lemas pada awalnya, tetapi setelah beberapa hari, konsentrasi justru bisa meningkat. Ini disebabkan oleh ritme energi yang lebih teratur. Analisis terhadap lebih dari 70 penelitian besar menunjukkan bahwa puasa jangka pendek tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja kognitif pada umumnya.

Selain itu, ada teori yang menyebut bahwa puasa bisa melatih otak. Selama puasa, otak belajar untuk mengatur energi secara lebih efisien, sehingga meningkatkan kemampuan kompensasi dan plastisitas otak. Proses ini juga bisa membantu meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang berperan penting dalam regenerasi saraf, konsentrasi, dan memori.

Mitos 3: Olahraga Berat Tidak Disarankan Saat Puasa

Banyak orang percaya bahwa puasa berarti harus menghindari olahraga berat. Faktanya, olahraga tetap bisa dilakukan dengan intensitas dan waktu yang sesuai. Olahraga ringan atau sedang bisa membantu menjaga massa otot dan metabolisme tubuh selama Ramadan.

Beberapa waktu yang cocok untuk berolahraga adalah:
Pagi setelah sahur: Latihan ringan untuk meningkatkan peredaran darah dan suplai oksigen ke otak.
Saat mendekati waktu berbuka: Olahraga ringan sampai sedang seperti jalan cepat atau jogging pendek dapat membantu membakar lemak.
Setelah tarawih: Waktu terbaik untuk latihan intensitas sedang sampai tinggi, seperti lari 5k atau olahraga permainan lapangan.

Namun, tetap ingat bahwa tujuan olahraga selama Ramadan bukan untuk mencapai performa atletik, tetapi lebih pada menjaga kesehatan dan niat spiritual.

Mitos 4: Puasa Memicu Maag dan GERD

Banyak orang percaya bahwa puasa akan memicu maag atau penyakit lambung lainnya. Faktanya, penyakit tersebut lebih disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur, makan tergesa-gesa, atau konsumsi makanan yang memicu asam lambung.

Studi menunjukkan bahwa puasa Ramadan tidak langsung menyebabkan maag atau GERD. Bagi penderita GERD yang rutin minum obat dan mengatur pola makan, puasa tidak memperburuk gejala refluks. Jika tetap mematuhi anjuran pengobatan dan makan secara teratur, gejala bisa tetap terkendali.

Mitos 5: Puasa Mengganggu Pola Hidup Normal

Ada kesalahpahaman bahwa puasa akan mengganggu segala aktivitas sehari-hari. Padahal, puasa bisa dijalani tanpa mengganggu rutinitas, asalkan disiplin dalam mengatur waktu makan dan istirahat. Dengan cara yang tepat, puasa bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kesehatan fisik dan spiritual.

Pos terkait