Modal asing mengalir keluar, defisit pembayaran RI terburuk sejak 2010

Aa1v54uy
Aa1v54uy

Neraca Pembayaran Indonesia Mengalami Defisit pada Tahun 2025

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun 2025 mengalami defisit sebesar US$ 7,84 miliar. Angka ini menjadi yang terburuk sejak tahun 2010, berbeda jauh dari tahun sebelumnya yang mencatatkan surplus sebesar US$ 7,2 miliar.

Menurut laporan BI, defisit NPI pada tahun lalu terutama disebabkan oleh defisit pada neraca transaksi modal dan finansial yang mencapai US$ 4,2 miliar. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi tahun 2024 yang mencatatkan surplus sebesar US$ 16,4 miliar.

Sementara itu, neraca transaksi berjalan atau current account mengalami defisit sebesar US$ 1,5 miliar atau 0,1% dari PDB. Meskipun demikian, angka ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai defisit US$ 8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.

Penyebab Perbaikan Defisit Transaksi Berjalan

Perbaikan defisit transaksi berjalan didorong oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang. Kinerja ekspor meningkat, terutama dari produk manufaktur. Selain itu, surplus neraca pendapatan sekunder juga meningkat karena kenaikan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Namun, defisit neraca jasa meningkat pada tahun lalu akibat kenaikan defisit jasa telekomunikasi. Hal ini sejalan dengan ekspansi sektor informasi dan komunikasi. Di sisi lain, defisit neraca pendapatan primer melebar karena kenaikan pembayaran dividen.

Pengaruh Kenaikan Ketidakpastian Pasar Global

Defisit pada transaksi modal dan finansial dipicu oleh keluarnya aliran modal asing dari investasi portofolio dan investasi lainnya. Hal ini terjadi di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global sepanjang tahun.

Meski mengalami defisit, posisi cadangan devisa Indonesia masih meningkat. Cadangan devisa naik dari US$ 155,7 miliar pada akhir Desember 2024 menjadi US$ 156,5 miliar pada akhir Desember 2025.

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan selama 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang biasanya sekitar tiga bulan impor.

Proyeksi Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia Tahun Depan

BI memperkirakan kinerja NPI tetap baik pada tahun depan. Defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah dalam kisaran 0,9% hingga 0,1% dari PDB.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi defisit pada beberapa sektor, Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Dengan posisi cadangan devisa yang cukup besar, pemerintah dan Bank Indonesia dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi tantangan eksternal.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Neraca Pembayaran

Beberapa faktor penting yang memengaruhi kinerja NPI antara lain:

  • Ekspor Produk Manufaktur: Peningkatan ekspor produk manufaktur memberikan kontribusi positif terhadap surplus neraca perdagangan.
  • Remitansi PMI: Kenaikan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia berdampak pada surplus neraca pendapatan sekunder.
  • Kenaikan Defisit Jasa Telekomunikasi: Ekspansi sektor informasi dan komunikasi menyebabkan peningkatan defisit jasa.
  • Pembayaran Dividen: Kenaikan pembayaran dividen memperlebar defisit neraca pendapatan primer.
  • Aliran Modal Asing: Keluarnya aliran modal asing memengaruhi defisit transaksi modal dan finansial.

Dengan memahami faktor-faktor tersebut, pihak terkait dapat merancang kebijakan yang lebih tepat guna menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan stabilitas ekonomi nasional.

Pos terkait