Peran dan Persiapan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru
Sosok Seyyed Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah disiapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru setelah ayahnya meninggal. Sebagaimana diketahui, Ali Khamenei meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat-Israel di kantornya di Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Sejumlah laporan media Iran, termasuk media pemerintah Fars, menyebut nama putra kedua Ayatollah Ali, yaitu Mojtaba Khamenei, sebagai kandidat kuat menduduki jabatan sakral ini.
Adapun sang ayah, Ali Khamenei tewas bersama sekitar 40 komandan senior. Termasuk anggota keluarganya, putrinya, menantu laki-lakinya, cucunya, dan menantu perempuannya. Ternyata Mojtaba sudah dua tahun disiapkan jadi penerus jika Ali Khamenei wafat.
Mojtaba Khamenei lahir 8 September 1969, di Mashhad, Iran. Ia adalah putra kedua Ali Khamenei. Selama pemerintahan ayahnya, ia memainkan peran penting di Kantor Pemimpin Tertinggi dan di luar pandangan publik. Ia digadang-gadang sebagai calon penerus ayahnya, meskipun muncul protes anti-pemerintah pada tahun 2022.
Anak Kandung Revolusi
Mojtaba Khamenei lahir dari keluarga ulama di Mashhad, Iran, sebuah pusat keagamaan penting bagi Syiah Dua Belas Imam. Ayah Mojtaba Khamenei, Ali Khamenei, termasuk di antara para aktivis muda yang mendukung Revolusi Iran pada tahun 1970-an dan menjadi tokoh berpengaruh di Republik Islam ketika didirikan pada tahun 1979.
Sebagai anggota Dewan Revolusi transisi, sang ayah, Ali Khamenei terlibat dalam upaya mempertahankan Republik Islam baru. Ia terikat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah gabungan pasukan paramiliter pro-revolusi yang baru terbentuk dan dimaksudkan sebagai penyeimbang bagi tentara reguler, yang sebelumnya setia kepada Shah. Setelah Irak menginvasi Iran pada tahun 1980, persatuan—dan karenanya penindasan tantangan domestik terhadap rezim—menjadi prioritas utama. IRGC terbukti tangguh dalam mengatasi ancaman baik di dalam maupun luar negeri dan diberikan sumber daya yang luas setelah tahun 1981, ketika Ali Khamenei menjadi presiden, posisi yang dipegangnya hingga tahun 1989.
Jejak Sang Putra
Setelah Mojtaba Khamenei menyelesaikan sekolah menengah pada tahun 1987, ia bergabung dengan IRGC dan bertugas pada akhir Perang Iran-Irak (1980–1988). Pada saat itu, perang telah menghancurkan Iran. Rezim berharap bahwa upaya perang yang berkelanjutan dapat memaksa Irak untuk memberikan lebih banyak konsesi, tetapi kemajuan Irak pada tahun 1988 menyebabkan Iran menerima gencatan senjata yang dimediasi PBB pada bulan Juli tahun itu.
Pada akhir perang, ayahnya menjadi pelindung kompleks militer yang kuat dan pada tahun 1989 berhasil mencapai posisi pemimpin, sebuah jabatan yang otoritas dan pengawasannya terhadap pemerintah diperkuat melalui perubahan konstitusi yang dilakukan pada tahun yang sama.
Naik Pangkat dalam Jajaran Lembaga Keagamaan
Mojtaba Khamenei menempuh pendidikan agama, dan pada akhir tahun 1990-an ia belajar di bawah bimbingan beberapa ulama konservatif terkemuka Islam Syiah di pesantren di Qom. Ia akhirnya mulai mengajar di pesantren tersebut. Pada awal abad ke-21, ia memiliki koneksi yang kuat tidak hanya di dalam IRGC tetapi juga dengan ulama-ulama terkemuka Iran. Keterlibatannya di Kantor Pemimpin Tertinggi Iran memperkuat jaringan pribadinya dengan tokoh-tokoh berpengaruh dan menempatkannya sebagai perantara kekuasaan atas nama ayahnya.
Mulai Disorot Tahun 2005
Perhatian publik pertama kali tertuju pada Mojtaba Khamenei setelah pemilihan presiden tahun 2005. Mahmoud Ahmadinejad, seorang konservatif yang relatif tidak dikenal publik yang bersaing melawan tokoh-tokoh politik berpengaruh, muncul sebagai kuda hitam di hari-hari terakhir kampanye. Kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh bahwa Mojtaba Khamenei telah memanfaatkan koneksinya untuk memengaruhi hasil pemilihan demi kemenangan Ahmadinejad.
Campur tangan dalam pemilu 2009 jauh lebih mencolok. Ahmadinejad, yang pada masa jabatan pertamanya gagal mengatasi masalah ekonomi dan mengambil sikap provokatif yang merusak reputasi internasional Iran, memenangkan suara jauh lebih banyak dari yang diperkirakan. Ketika demonstrasi pecah, Dewan Penjaga Pemimpin Tertinggi menemukan ketidaksesuaian yang memengaruhi jutaan suara tetapi mengklaim bahwa ketidaksesuaian tersebut tidak cukup signifikan untuk memengaruhi hasil pemilu. Meskipun demikian, pihak oposisi menuduh Mojtaba Khamenei terlibat dalam campur tangan tersebut. Ia diyakini telah mengatur penindakan brutal terhadap para demonstran yang sebagian besar damai.
Sayap intelijen IRGC, di bawah naungan Kantor Pemimpin Tertinggi, diperluas secara besar-besaran pada saat ini dan menjadi saingan Kementerian Intelijen dan Keamanan. Sementara itu, Mojtaba Khamenei mulai mengajar kursus tingkat lanjut di Qom yang biasanya hanya diperuntukkan bagi ulama Syiah yang paling terkemuka. Meskipun ia hampir tidak dikenal karena kecerdasan teologisnya, ia menikmati prestise sebagai putra kesayangan pemimpin spiritual Republik Islam.
Sudah Dipersiapkan Menggantikan Sang Ayah
Kini, dikutip dari Bhaskar English pada Minggu (1/3/2026), persiapan untuk menjadikan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi telah dilakukan dua tahun terakhir. Meski demikian, pencalonan ini belum dikonfirmasi secara resmi. Menurut laporan media, Ayatollah Ali Khamenei mengisyaratkan Mojtaba sebagai calon penerus pada 2024, di tengah kekhawatiran atas kondisi kesehatannya. Laporan juga menyebutkan bahwa Majelis Pakar menggelar diskusi rahasia pada 26 September 2024 terkait isu suksesi. Khamenei dilaporkan meminta anggota terpilih untuk membahas persoalan tersebut secara pribadi.
Nama Mojtaba dikatakan mendapat dukungan kuat dari kalangan ulama berpengaruh. Meski Mojtaba dipandang sebagai kandidat potensial, keputusan akhir tetap berada di tangan Majelis Pakar. Majelis Pakar merupakan lembaga yang memiliki kewenangan memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi Iran. Badan ini terdiri dari 88 ulama yang dipilih untuk menentukan otoritas keagamaan tertinggi negara.





