Kunjungan Sinta Nuriyah Wahid ke Rumah Bersama Kemanusiaan Gusdurian Mojokutho
Pada hari Minggu, 1 Maret 2026, sore hari, Istri Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, yaitu Sinta Nuriyah Wahid, mengunjungi Rumah Bersama Kemanusiaan Gusdurian Mojokutho di Pare, Kabupaten Kediri. Kunjungan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan, menjelang bulan Ramadan yang merupakan bulan suci bagi umat Islam.
Rumah Bersama Kemanusiaan Gusdurian Mojokutho adalah tempat yang menyediakan pengasuhan bagi para lansia, anak-anak istimewa, anak hebat, serta guru ngaji. Dalam kunjungan tersebut, Sinta Nuriyah hadir untuk mempererat silaturahmi dengan para penghuni rumah tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momen penting untuk memberikan santunan kepada 92 orang yang menjadi penerima manfaat.
Kegiatan Silaturahmi dan Santunan
Sinta Nuriyah menyampaikan bahwa tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memperkuat hubungan antara masyarakat dan para lansia serta anak-anak yang membutuhkan perhatian. Ia menekankan bahwa puasa tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang belajar akhlak yang baik dan budi pekerti yang luhur.
“Di bulan Ramadan ini kita diajarkan untuk saling menghargai dan memperkuat persatuan,” ujarnya di depan para penghuni rumah tersebut. Ia juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keharmonisan antar agama dan budaya di Indonesia.
Selain silaturahmi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan penyaluran santunan kepada para lansia, anak istimewa, anak hebat, serta guru ngaji. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Rincian Santunan yang Diberikan
Menurut informasi yang diperoleh, total penerima santunan mencapai 92 orang. Rinciannya adalah sebagai berikut:
- 50 lansia
- 20 anak istimewa
- 20 anak hebat
- 2 guru ngaji
Setiap lansia mendapatkan santunan berupa uang tunai sebesar Rp 100 ribu, sedangkan anak-anak menerima bantuan berupa uang tunai sebesar Rp 50 ribu, sembako, alat tulis, dan makanan ringan.
Koordinator Rumah Bersama Kemanusiaan Gusdurian Mojokutho, Anugrah Yulianto atau yang akrab disapa Antok Mbeler, menjelaskan bahwa semua bantuan diberikan sebagai bentuk dukungan dari donatur dan relawan. Menurutnya, pembangunan dan operasional rumah tersebut murni dari semangat gotong royong masyarakat tanpa adanya proposal bantuan resmi.
Sejarah dan Semangat Gotong Royong
Rumah Lansia Gusdurian Mojokutho telah berdiri sejak tahun 2008. Antok menegaskan bahwa semua aktivitas di rumah tersebut berjalan karena kepedulian masyarakat. Tidak ada usaha formal untuk mengajukan proposal bantuan, melainkan murni dari niat baik orang-orang yang ingin berbagi.
Kehadiran Sinta Nuriyah di tempat tersebut dinilai sebagai momen istimewa yang dapat memotivasi para penghuni dan pengurus. Selain itu, momen Ramadan diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, serta semangat berbagi di tengah masyarakat Pare dan sekitarnya.
Pengakuan dari Penghuni Rumah
Salah satu penghuni rumah, Lamiyati, mengungkapkan rasa senangnya dapat bertemu langsung dengan Sinta Nuriyah. Ia berharap doa dan perhatian yang diberikan membawa keberkahan bagi seluruh penghuni rumah tersebut.
“Beliau berharap kondisi lingkungan dan para mbah-mbah di sini semakin sehat, tercukupi kebutuhannya dengan bantuan orang-orang baik,” ujarnya.
Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan semangat kepedulian dan kebersamaan akan semakin berkembang, terutama di bulan Ramadan yang penuh makna.





