Momen Langka Pesut Mahakam Terekam Drone di Perairan Desa Pela
Momen langka kemunculan Pesut Mahakam berhasil terekam dari udara di perairan Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Rekaman tersebut diunggah oleh akun Instagram @ardi_0ei pada Sabtu (28/2/2026) dan langsung menyita perhatian warganet. Video ini menampilkan kemunculan mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur itu di aliran Sungai Mahakam, sebuah pemandangan yang kini semakin jarang ditemui.
Rekaman video ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keberadaan Pesut Mahakam yang semakin langka. Spesies ini telah lama berstatus dilindungi karena ancaman degradasi habitat dan aktivitas manusia di Sungai Mahakam. Kemunculan pesut seperti yang terekam dalam video tersebut menjadi pengingat bahwa satwa langka ini masih bertahan di alam, namun membutuhkan perhatian dan perlindungan bersama agar tidak punah.
Insiden Menegangkan Saat Pengambilan Gambar
Di balik rekaman yang tampak indah, kreator @ardi_0e mengungkap adanya insiden menegangkan. Saat drone berada di atas Sungai Mahakam, remote drone tiba-tiba mati dan mengalami lost connect. Situasi di atas kapal pun sempat tegang karena risiko drone jatuh ke sungai. Beruntung, perangkat tersebut berhasil kembali ke titik awal penerbangan dan dapat diamankan tanpa menimbulkan kerusakan.
Lokasi Perekaman
Lokasi perekaman berada di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Rekaman diambil dari udara menggunakan drone oleh akun Instagram @ardi_0ei. Video selengkapnya bisa dilihat di sini.
Jumlah Pesut Mahakam Diperkirakan Hanya Tinggal 66 Ekor
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dijadwalkan meninjau langsung habitat Pesut Mahakam di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, pada Sabtu (7/2/2026). Pesut Mahakam adalah mamalia air tawar endemik yang hanya hidup di Sungai Mahakam dan kini berstatus kritis dengan populasi tersisa sekitar 66 ekor.
Kunjungan ini bertujuan merumuskan langkah darurat penyelamatan, mengingat meski ada tujuh kelahiran baru, tercatat pula tiga kematian pesut dalam setahun terakhir yang menunjukkan ekosistem semakin terdegradasi. “Dulu jumlahnya 62, sekarang 66. Lahir tujuh, mati tiga. Ini sangat kritis. Pesut air tawar Indonesia hanya ada di sini, jadi wajib kita selamatkan,” ujar Hanif.
Hanif menegaskan pihaknya akan mengevaluasi aktivitas transportasi tongkang batubara di anak-anak sungai Mahakam yang menjadi habitat utama pesut. Tongkang adalah kapal datar berukuran besar yang digunakan untuk mengangkut batubara melalui jalur sungai. “Kami akan memastikan dan mengimbau agar pengusaha batubara mengakhiri aktivitasnya di dua sungai utama yang jadi habitat pesut,” ujarnya di sela kunjungan kerja di Balikpapan, Jumat (6/2/2026).





