Muhasabah Sepuluh: Tanam Kata dengan Akar Kuat, Biar Membidik Langit

Siakap Keli Article Cover 1697209728
Siakap Keli Article Cover 1697209728

Kehadiran Pohon dalam Perjalanan Spiritual

Saat berkendara di jalan Tun Abdul Razak, saya selalu melantunkan shalawat kepada Nabi saw. Ini adalah resep keselamatan yang saya percaya. Apalagi di saat hujan deras dan angin kencang belakangan ini, yang sering merobohkan pohon yang akarnya tidak kuat, atau yang akarnya tidak kuat lagi.

As Syajarah, yang dalam bahasa Arab berarti Pohon, adalah salah satu kosa kata yang kuat menghujam dalam ingatan kami. Ketika itu, kami ditunjukkan pohon besar di depan Pesantren IMMIM Tamalanrea. Sambil menunjuk pohon mangga besar itu, Ust Saifullah Allahu Yarhamuh lalu meneriakkan; As syajarah, yang diikuti oleh kami semua, secara berulang. Akhirnya kalimat itu pun tinggal dalam ingatan yang kuat.

Dalam Surah Ibrahim, Allah memberi kita sebuah perumpamaan yang sederhana, tapi tak pernah habis direnungkan: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”

Kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya menghunjam ke tanah, cabangnya menjulang ke langit, dan ia berbuah pada setiap waktu. Saya selalu merasa ayat itu seperti bisikan, bukan perintah. Ramadhan datang setiap tahun seperti musim yang menguji akar pohon kita.

Kita menahan lapar dan dahaga, tapi yang sering lebih sulit adalah menahan kata. Lapar hanya berdiam di perut. Kata-kata berdiam ditenggorokan, dan selalu ingin keluar. Terutama ketika tubuh lelah, ketika jalanan macet, ketika pesan singkat datang dengan nada yang menyinggung. Kita mungkin tak sadar betapa rapuhnya lisan yang menguntai kata. Ia kecil, tapi bisa menjatuhkan martabat. Ia ringan, tapi bisa menimbulkan luka yang berat.

Dalam sebuah hadis, Nabi menyebut bahwa siapa yang tak meninggalkan perkataan dusta, Allah tak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. Puasa, rupanya, bukan hanya soal tubuh yang menjauh dari makanan dan juga syahwat, tapi juga tentang lisan yang belajar diam, atau hanya mengeluarkan yang baik-baik saja.

Diam, bukan pasrah, melainkan sadar. Kalimat yang baik seperti pohon. Ia tak lahir dari emosi sesaat. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih dalam: iman, mungkin. Atau kesadaran bahwa setiap kata punya jejak. Akar yang menghunjam itu seperti keyakinan yang tak mudah goyah. Orang yang lisannya terjaga bukan karena ia tak punya amarah, tapi karena ia tahu ke mana harus menambatkan amarahnya.

Cabangnya menjulang ke langit. Tapi Ramadhan juga memperlihatkan pada kita pohon-pohon lain: kalimat yang buruk, yang tercabut dari akarnya. Ia mungkin terdengar keras dan meyakinkan, tapi tak punya tanah untuk berpijak. Ia cepat menyebar, cepat pula layu. Di meja makan, di ruang rapat, di media sosial, kata-kata bisa berubah menjadi serpihan yang beterbangan, tak berbuah, hanya melukai.

Karena itu, Ramadhan bukan sekadar bulan menahan, tapi juga bulan menanam. Kita menanam ulang akar, dengan dzikir, dengan kesadaran bahwa Allah mendengar bahkan yang tak terdengar. Kita belajar bahwa tak semua yang ingin diucapkan harus diucapkan. Bahwa tak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang melukai, bahkan dalam sebuah tulisan.

Pohon itu tak tumbuh dalam sehari. Ia memerlukan musim, hujan, dan kesabaran. Begitu pula lisan yang baik. Ia dibentuk oleh Latihan, oleh kegagalan yang disadari, oleh penyesalan yang tak dibiarkan sia-sia. Dan ketika Ramadhan berlalu, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang lapar, tapi juga tentang sebatang pohon kecil dalam diri kita. Akarnya mulai menghunjam. Cabangnya mulai mencari langit. Buahnya belum lebat, tapi ia sudah ada, dan siap dipetik.

Pos terkait