Komentar dan Seruan dari MUI Terkait Konflik Timur Tengah
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Dalam pernyataannya, MUI meminta pemerintah Indonesia untuk segera menarik diri dari Board of Peace, lembaga internasional yang dianggap tidak mampu menjalankan mandatnya dengan baik.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. MUI menilai bahwa konflik ini berpotensi memperburuk stabilitas global serta mengancam prinsip-prinsip hukum internasional. Pihaknya juga mempertanyakan peran sentral Amerika Serikat dalam Board of Peace, khususnya dalam upaya penyelesaian konflik Palestina.
Menurut MUI, keterlibatan Washington justru memunculkan keraguan mengenai tujuan utama Board of Peace. Apakah lembaga tersebut benar-benar bertujuan menciptakan perdamaian yang adil atau sekadar memperkuat struktur keamanan global yang tidak seimbang dan mengesampingkan kemerdekaan Palestina.
Serangan yang terjadi pada akhir Februari dilaporkan memicu sejumlah ledakan di ibu kota Iran, Teheran, serta beberapa kota lainnya. Media lokal Iran yang dikutip Al Jazeera menyebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional yang selama ini telah berada dalam ketegangan tinggi.
MUI mengecam keras operasi militer tersebut dan menilai langkah itu sebagai bentuk kegagalan diplomasi internasional. Organisasi keagamaan tersebut menyatakan bahwa Board of Peace tidak mampu menjalankan mandatnya untuk menciptakan perdamaian yang autentik dan berkeadilan.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Sudarnoto Abdul Hakim, menilai serangan tersebut menunjukkan kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump justru melemahkan upaya perdamaian global. Ia berpendapat bahwa tindakan militer tersebut memperlihatkan hilangnya kredibilitas moral, politik, dan hukum dari lembaga yang seharusnya menjadi ruang dialog internasional.
“Mekanisme perdamaian tidak dapat dibangun melalui kekuatan militer,” ujar Sudarnoto, seraya menambahkan bahwa lembaga internasional yang gagal mencegah perang akan kehilangan legitimasi di mata masyarakat dunia.
Selain mendesak pemerintah Indonesia mengevaluasi keanggotaannya dalam Board of Peace, MUI juga menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil langkah tegas guna menghentikan konflik serta memastikan penghormatan terhadap hukum internasional.
Menurut MUI, perang tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi ekonomi, kemanusiaan, dan keamanan global. Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran komunitas internasional terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Ketegangan antara Iran, Israel, dan sekutu masing-masing dinilai berpotensi memicu ketidakstabilan energi global, gelombang krisis kemanusiaan baru, serta meningkatnya polarisasi geopolitik dunia.
Di Indonesia sendiri, isu konflik Timur Tengah memiliki sensitivitas tinggi karena berkaitan erat dengan solidaritas terhadap Palestina serta posisi diplomasi luar negeri Indonesia yang secara konsisten mendukung solusi dua negara dan kemerdekaan Palestina.
Desakan MUI ini berpotensi memicu diskusi lebih luas mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia, terutama dalam menyeimbangkan komitmen diplomasi perdamaian dengan dinamika politik global yang semakin kompleks.
Reaksi dan Dampak dari Pernyataan MUI
Pernyataan MUI telah menarik perhatian berbagai kalangan di Indonesia, termasuk tokoh-tokoh agama, aktivis, dan para ahli politik. Banyak dari mereka yang setuju dengan pendirian MUI bahwa kekerasan militer tidak akan memberikan solusi yang berkelanjutan bagi konflik di kawasan Timur Tengah.
- Beberapa pihak menilai bahwa MUI sudah tepat dalam menyampaikan kritik terhadap Board of Peace, yang dinilai tidak efektif dalam menjalankan tugasnya.
- Sejumlah organisasi masyarakat juga mengajak pemerintah Indonesia untuk lebih aktif dalam menegakkan prinsip-prinsip perdamaian dan hak asasi manusia.
- Di sisi lain, ada juga yang khawatir bahwa sikap MUI bisa memengaruhi hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Israel.
Dengan situasi yang semakin rumit, MUI menegaskan bahwa posisi Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip perdamaian dan kesejahteraan global. Hal ini menjadi penting mengingat konflik di kawasan Timur Tengah bisa berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meski pernyataan MUI mendapat dukungan dari berbagai pihak, tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam menjaga netralitas dan keseimbangan dalam konflik global tetap besar. Pemerintah harus mampu mengambil keputusan yang bijaksana tanpa merugikan kepentingan nasional maupun hubungan diplomatik dengan negara-negara lain.
Beberapa analis menilai bahwa MUI memiliki peran penting dalam membentuk opini publik dan memberikan pandangan yang berbeda dari pemerintah. Dengan demikian, peran MUI dalam isu-isu internasional seperti ini sangat diperlukan.
Di masa depan, kemungkinan besar akan muncul lebih banyak debat dan diskusi tentang bagaimana Indonesia bisa lebih aktif dalam menjaga perdamaian global, terutama di kawasan yang rentan konflik.





