Perjalanan Kreatif Muna Masyari: Dari Penjahit Hingga Pemenang Anugerah Sutasoma
Muna Masyari adalah seorang cerpenis asal Pamekasan, Madura, yang dikenal dengan karya-karyanya yang mengangkat lokalitas dan budaya daerahnya. Meski bekerja sebagai penjahit di rumah, ia tetap konsisten menulis dan membagikan pesan-pesan penting melalui karyanya.
Latar Belakang dan Perjuangan Hidup
Muna lahir dari keluarga sederhana di Desa Larangan Badung, Kabupaten Pamekasan. Kondisi ekonomi yang terbatas membuatnya tidak bisa menamatkan pendidikan sekolah dasar. Ia berhenti sekolah saat duduk di kelas enam SD dan lebih banyak membantu kedua orang tuanya sejak kecil. Meskipun begitu, semangat belajarnya tidak pernah padam. Di sela-sela kesibukan membantu keluarga, ia gemar membaca berbagai buku dan majalah. Kegemaran ini menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kreatifnya di dunia sastra.
Sejak remaja, Muna mulai mencoba menulis cerita bergenre religi dan roman. Awalnya hanya sebatas hobi, namun kebiasaan membaca cerpen di media cetak nasional sekitar tahun 2010 membuatnya terdorong untuk mengirimkan karya ke surat kabar.
Menjahit dan Menulis
Dalam kesehariannya, Muna bekerja sebagai penjahit di rumah. Aktivitas menjahit menjadi sumber penghasilan utama untuk membantu ekonomi keluarga. Uniknya, ia kerap menulis di sela-sela aktivitas menjahit. Ide-ide cerita biasanya muncul secara spontan. Ia terbiasa mencatat gagasan dalam buku kecil, lalu mengendapkannya selama beberapa hari hingga satu bulan sebelum dikembangkan menjadi cerita utuh.
Ia belajar menulis secara autodidak tanpa bergabung dengan komunitas atau memiliki mentor khusus. Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil ketika tulisannya dimuat di berbagai media nasional seperti Jawa Pos, Republika, Surabaya Post, Tempo, hingga Kompas sejak 2011.
Karya-Karya yang Mengangkat Lokalitas Madura
Sejumlah karya Muna dikenal luas karena kuat mengangkat lokalitas Madura. Di antaranya adalah “Martabat Kematian (2019),” “Kasur Tanah” yang masuk Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2017, “Tanah Air” dalam Antologi Cerpen Pilihan Kompas 2016, serta “Doa yang Terapung” dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2018. Ia juga menulis kumpulan puisi berjudul “Munajat Sesayat Doa” pada 2011.
Karakter cerpennya dikenal sarat nilai spiritualitas dan tradisi Madura. Ia sengaja mendokumentasikan budaya yang mulai terkikis zaman agar tetap dapat dikenang generasi mendatang. Baginya, menulis bukan hanya sarana berekspresi, melainkan juga upaya menjaga identitas budaya.
Raih Anugerah Sutasoma 2020
Dedikasinya di dunia sastra mendapat pengakuan ketika ia meraih Anugerah Sutasoma 2020 dari Balai Bahasa Jawa Timur. Buku berjudul “Martabat Kematian” dinobatkan sebagai Karya Sastra Indonesia Terbaik 2020. Penghargaan tersebut diserahkan di Ballroom Favehotel Sidoarjo dan disertai uang pembinaan sebesar Rp 10 juta. Atas capaian itu, Muna menyatakan akan terus konsisten menulis karya yang mengangkat kebudayaan Madura serta mempersembahkan penghargaan tersebut untuk masyarakat Madura.
Nama Pena dan Filosofi Berkarya
Berdasarkan laporan, nama Muna Masyari merupakan gabungan dari nama aslinya, Munawarroh, dan nama kakaknya. Nama tersebut muncul karena ia pernah meminjam nama dan alamat kakaknya untuk menerima kiriman paket buku. Ia tidak ingin karyanya dinilai secara berlebihan. Baginya, penilaian sepenuhnya merupakan hak pembaca. Yang terpenting adalah niatnya untuk mengabadikan kisah dan tradisi yang pernah hidup di tengah masyarakat Madura.
Pesan untuk Generasi Muda
Kini, di tengah perannya sebagai ibu rumah tangga, produktivitasnya memang tidak seintens dulu. Namun semangatnya tetap menyala. Ia mendorong generasi muda agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Menurutnya, kunci utama menjadi penulis adalah banyak membaca. Ia berharap para penulis muda Madura berani menggali dan mengangkat kekayaan lokalitas daerahnya agar citra Madura dikenal melalui nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang luhur.
Ke depan, ia berencana terus mengembangkan karya sastra, termasuk novel yang tetap mengusung tema lokalitas Madura.





