Nafsu Trump dalam Perang Amerika-Iran, Senjata IRGC Lengkap di Timur Tengah

104958346 Trumpirakafp 2
104958346 Trumpirakafp 2

Eskalasi Konflik di Timur Tengah: Persenjataan Iran dan Kemampuan Militer

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mencapai titik puncak setelah Iran meluncurkan Operasi True Promise 4 sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Serangan ini terjadi hanya satu hari setelah konflik dimulai, menunjukkan bahwa Iran siap untuk menghadapi perang jangka panjang. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dan militer Israel (IDF) telah menyatakan kesiapan penuh untuk meladeni ancaman tersebut, bahkan tidak menutup kemungkinan diterjunkannya pasukan darat.

Senjata yang Dimiliki Iran

Menurut para analis pertahanan, Iran memiliki salah satu persenjataan rudal terbesar dan paling beragam di kawasan Timur Tengah. Ini termasuk mortir, roket, drone, dan rudal jelajah. Rudal jelajah dirancang untuk terbang di ketinggian rendah dan menyerang target di darat. Selain itu, Iran juga memiliki senjata “tingkat atas” seperti rudal balistik, yang memiliki peluncuran bertenaga roket yang terarah tetapi kemudian mengikuti lintasan jatuh bebas menuju targetnya.

Rudal balistik menjadi alat serangan jarak jauh terpenting bagi Republik Islam Iran. Jenis-jenis rudal ini dapat berupa rudal jarak dekat, jarak menengah, dan jarak jauh. Jarak terjauh yang dapat dicapai adalah hingga 3.000 km, namun Iran memberlakukan batasan sendiri hingga 2.000 km. Meski demikian, para analis Barat memperingatkan bahwa batasan tersebut bisa saja dicabut kapan saja.

Pada tahun 2023, media pemerintah Iran mengungkap gambar rudal balistik hipersonik bernama Fattah-1 dan Fattah-2, yang mampu mencapai jarak hingga 1.400 km dan melaju dengan kecepatan 15 kali kecepatan suara. Rezim tersebut telah meningkatkan kesiapan tempurnya selama dua dekade terakhir, dengan peningkatan dalam jangkauan, presisi, mobilitas, daya tahan, dan daya hancur rudal balistik.

Drone serang satu arah, atau drone bunuh diri, juga telah memperluas kekuatan serangan jarak jauh Iran dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan rudal. Drone ini mampu menyerang target tanpa perlu kembali ke pangkalan, sehingga efektif dalam operasi militer.

Jumlah dan Jangkauan Rudal Iran

Jumlah pasti rudal Iran masih belum jelas. Pada tahun 2022, Jenderal Kenneth McKenzie dari Komando Pusat AS mengatakan bahwa Iran memiliki lebih dari 3.000 rudal balistik. Namun, banyak senjata tersebut telah digunakan atau dihancurkan selama perang 12 hari tahun lalu. Para pejabat Israel mengklaim pasokan peluncur rudal balistik Iran berkurang setengahnya selama perang, tetapi citra satelit menunjukkan bahwa rezim tersebut sebagian besar telah membangun kembali programnya sejak Juni.

Senjata-senjata juga telah dipindahkan ke bawah tanah, sebagai upaya untuk melindunginya dari serangan. Menurut Rosa Freedman, Profesor Hukum, Konflik, dan Pembangunan Global di Universitas Reading, tidak ada cara untuk benar-benar mengetahui apa yang tersisa dari rezim Iran. Namun, seperti yang Anda lihat dalam dua hari terakhir, mereka sudah siap untuk berangkat.

Dengan pembatasan yang diberlakukan sendiri oleh Iran, rudal balistik rezim tersebut dapat mencapai negara-negara dalam radius 2.000 km di sekitar negara itu. Ini mencakup seluruh wilayah Timur Tengah, serta sebagian Afrika Barat, Asia Timur, dan Asia Selatan. Meskipun ada klaim dari Presiden AS Donald Trump bahwa Iran telah mengembangkan rudal yang “dapat segera mencapai wilayah Amerika”, tidak ada bukti yang menunjukkan hal ini benar.

Perbandingan dengan AS dan Israel

Meskipun ada peningkatan dalam rudal balistik, persenjataan Iran “masih jauh tertinggal” dibandingkan dengan Israel atau AS, kata Taleblu kepada ITV News. Pada hari Minggu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa mereka telah menjatuhkan lebih dari 1.200 amunisi di seluruh Iran selama serangan yang menewaskan Khamenei. Serangan itu juga menewaskan keluarga Khamenei, serta kepala staf angkatan darat Jenderal Abdol Rahim Mousavi dan menteri pertahanan Jenderal Aziz Nasirzadeh.

Militer AS mengatakan pesawat pembom siluman B-2 telah menyerang fasilitas rudal balistik Iran dengan bom seberat 2.000 pon, dan Trump mengklaim sembilan kapal perang Iran telah dihancurkan. Sebelum melancarkan serangan pertamanya, AS telah membangun apa yang disebut Trump sebagai “armada” kekuatan militer Amerika di wilayah tersebut, dengan analis di International Institute for Strategic Studies memperkirakan bahwa armada tersebut mencakup 10 persen dari kekuatan udara AS yang tersedia.

Lebih dari 100 jet tempur AS, yang mampu mencegat drone dan rudal, juga telah dikirim ke wilayah tersebut. Sementara AS menggempur dari udara dan laut, Israel melalui IDF memberikan sinyal kuat akan melakukan invasi darat.

Kesiapan Militer Iran dan Israel

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Angkatan Bersenjata Iran merilis peringatan keras bahwa sirine peringatan misil di wilayah pendudukan Israel tidak akan berhenti. Juru bicara militer Iran, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa fase kesepuluh dari operasi ini telah menghantam markas besar rezim di Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem Timur menggunakan misil Kheybar.

Tidak hanya menyasar Israel, Iran mengklaim telah menyerang aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Iran mengklaim rudalnya menghantam kapal induk USS Abraham Lincoln hingga dipaksa menjauh ke Samudra Hindia. Serangan Iran dilaporkan melumpuhkan Pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan merusak pangkalan angkatan laut AS di Pelabuhan Salman, Bahrain.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, mengatakan Iran siap untuk mempertahankan konflik jangka panjang. “Tidak seperti Amerika Serikat, Iran telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” kata Larijani dikutip PressTV. Ia menegaskan Iran tidak memulai perang ini, namun angkatan bersenjata Iran sejauh ini hanya bertindak untuk membela diri.

Presiden Donald Trump, dikutip CBS News, menyatakan militer AS siap bertempur dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dan tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat jika diperlukan. Tujuan utama Trump, yakni menghancurkan kapabilitas misil Iran, mencegah kepemilikan senjata nuklir, dan memutus aliran dukungan kepada kelompok proksi.

Sementara AS menggempur dari udara dan laut, Israel melalui IDF memberikan sinyal kuat akan melakukan invasi darat. Juru Bicara IDF, Brigjen Effie Defrin, menyatakan bahwa semua opsi terbuka, termasuk serangan darat ke Lebanon untuk melumpuhkan Hizbullah. IDF kini terus memperkuat pasukan di perbatasan utara seiring meningkatnya intensitas serangan dari proksi Iran.

Pos terkait