Naskah Ceramah Tarawih 3 Maret 2026: 3 Amal Peningkat Pahala

Salat Tarawih Di Kota Bandung Wa 20240312122248 2
Salat Tarawih Di Kota Bandung Wa 20240312122248 2

Perjalanan Bulan Ramadan yang Penuh Penghayatan

Perjalanan bulan Ramadan masih terus berjalan dengan penuh penghayatan. Ibadah puasa menjadi salah satu ibadah yang tidak bisa tertandingi dalam hal pahala. Hal ini didasarkan pada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh RasuluLlah, dalam hadist yang shahih diriwayatkan oleh Bukhari Muslim:

“Seluruh amal ibadah bani Adam adalah miliknya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10x lipat hingga 700x lipat. Kecuali ibadah puasa, ia adalah milik Allah dan akan langsung dibalas. Sebabnya pahala yang banyak dari seseorang yang telah menahan diri dari syahwat makanan dan minuman karena Allah semata. Ada 2 kegembiraan saat seseorang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka, saat bertemu dengan Allah.”

Maka dari itu, sudah sepatutnya jalannya rukun islam ke-3 ini bukan hanya sekedar menahan diri dari rasa lapar, tapi punya andil lain di sisi Tuhannya jika dia besungguh-sungguh.

Adapun, mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melaksanakan semua ibadah yang diperintahkan sejatinya ditanamkan dalam diri seorang muslim sebagai kewajiban yang perlu untuk dipenuhi tangkinya. Sebab seluruh amal sekecil apapun di bulan pengampunan ini, tentu akan diterima bahkan dilipatgandakan pahalanya hingga beratus-ratus kali lipat.

Banyak amalan atau ibadah yang bisa dikerjakan di bulan baik ini, salah satunya adalah dengan mendengarkan kultum atau ceramah. Selain itu, kamu pun juga bisa memberikan kultum atau ceramah singkat ini untuk mengisi bulan Ramadhan 1447 H. Berikut ini sudah merangkum satu naskah kultum Ramadhan yang bisa digunakan setelah melaksanakan ibadah salat subuh berjemaah maupun saat jelang tarawih di malam hari Ramadan.

3 Amal Peningkat Pahala

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya. Dengan izin dan kekuatan dari-Nya semata, kita masih mampu mengisi bulan Ramadhan ini sesuai tuntunan syariat-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan teruntuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta segenap keluarga dan sahabatnya. Semoga kelak di akhirat kita mendapatkan syafaatnya. Amiin.

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Umur kita di dunia ini terbatas. Maka, kita harus cerdas dan bijaksana dalam memilih amalan-amalan unggulan kita. Sebab nasib kita di alam akhirat apakah akan masuk surga ataukah masuk neraka, sangat ditentukan oleh jenis, kuantitas, dan kualitas amal perbuatan kita di alam dunia.

Imam Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan ad-Darimi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

“Apabila seorang manusia meninggal maka telah terputuslah amal kebajikan yang dilakukannya, kecuali tiga amalan (1) sedekah yang terus berlanjut manfaatnya (yaitu wakaf), (2) ilmu yang diambil manfaatnya, dan (3) anak shalih yang mendoakan kebaikan untuk orang tuanya.”

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Hadits shahih di atas menjelaskan bahwa ketika seorang hamba meninggal dunia, maka pahala amal shalihnya telah terputus dan berhenti mengalir. Kematiannya menghentikan amal shalih tersebut. Setelah ia mati, ia tidak mampu lagi melakukan amal shalih tersebut. Contohnya, pahala shalat, zakat, shaum, haji, umrah, dan membaca al-Quran akan berhenti ketika pelakunya meninggal dunia. Terputusnya pahala karena kematian si pelaku amal shalih ini berlaku pada sebagian besar amal shalih. Meskipun demikian, hadits shahih di atas menyebutkan tiga jenis amal shalih yang pahalanya akan terus mengalir untuk diri si pelaku, walaupun si pelaku tersebut telah meninggal dunia.

Kesamaan dari ketiga amal shalih tersebut adalah si pelaku melakukannya semasa hidupnya di dunia, kemudian manfaatnya tetap berlanjut setelah ia meninggal dunia. Si pelaku menjadi sebab keberlanjutan dan keberlangsungan manfaat amal shalih tersebut bagi masyarakat luas.

Demikian penjelasan Imam al-Qadhi Iyadh bin Musa al-Yahsubi al-Maliki, Abul Abbas al-Qurthubi al-Maliki, an-Nawawi Yahya bin Syaraf asy-Syafi’i, dan para ulama lainnya.

Tiga Amal yang Tidak Terputus Pahalanya

Pertama, Sedekah yang pahalanya terus mengalir adalah wakaf. Yaitu menyedekahkan benda tertentu atau kemanfaatan tertentu, yang bersifat awet, berkelanjutan, dan dapat dinikmati oleh orang banyak. Contohnya:

  • Menyedekahkan sawah, kebun sawit, toko, supermarket, SPBU, atau perusahaan untuk membiayai biaya operasional masjid, madrasah, pondok pesantren, panti asuhan, atau website Islam.
  • Menyedekahkan tanah atau lahan kosong untuk pembangunan masjid, madrasah, pondok pesantren, panti asuhan, atau rumah sakit Islam.
  • Menyedekahkan mobil, mobil layanan umat, atau ambulans untuk operasional kegiatan masjid, madrasah, pondok pesantren, panti asuhan, atau rumah sakit Islam.
  • Menyedekahkan mushaf al-Quran, kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits, kitab-kitab fikih, dan lain sebagainya untuk santri, ustadz, guru agama, guru TPA, masjid, madrasah, pondok pesantren, kampus, atau perpustakaan umum.
  • Membangun masjid, mushala, pondok pesantren, rumah sakit, atau panti asuhan, kemudian mewakafkannya kepada ulama, yayasan Islam, atau ormas Islam.

Kedua, Amal kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Yaitu mengajarkan ilmu-ilmu, terlebih ilmu-ilmu agama, kepada murid, santri, mahasiswa, dan masyarakat umum. Pengajaran tersebut bisa dilakukan secara lisan, maupun secara tulisan dalam bentuk karya tulisan. Selanjutnya ilmu tersebut diamalkan oleh para murid, santri, mahasiswa, dan masyarakat umum. Selama ilmu tersebut terus diajarkan atau diamalkan oleh mereka, niscaya sang guru pengajar tersebut akan terus mendapatkan aliran pahalanya, baik semasa hidupnya maupun setelah kematiannya.

Seorang ulama besar mazhab Syafii, al-Qadhi Tajuddin as-Subki Abu Nashr Abdul Wahhab bin Ali bin Abdul Kafi (w. 771 H) menjelaskan bahwa penulisan kitab-kitab ilmu dan karya-karya ilmiah itu paling layak masuk dalam kategori ilmu yang diambil manfaatnya. Sebab, ia bisa dibaca dan dipelajari oleh lebih banyak manusia, dan dapat berlangsung selama rentang waktu yang lebih panjang, dibandingkan pengajaran secara lisan.

Ketiga, Amal ketiga adalah doa anak yang shalih. Orang tua yang shalih mendidik anaknya sejak lahir sampai dewasa dengan sebaik-baik pendidikan. Baik dengan terjun mendidiknya secara langsung, maupun dengan mewakilkan prosesnya kepada pihak sekolah, madrasah, pondok pesantren, atau ulama-ulama. Dengan izin Allah Ta’ala, kemudian berkat kesungguhan orang tua dalam proses panjang pendidikan, sang anak akhirnya menjadi anak shalih.

Para ulama menjelaskan bahwa orang tua akan mendapatkan kiriman pahala dari anaknya yang shalih tersebut, “sekedar” karena keshalihan anaknya. Sebab, orang tua telah bersusah-payah melakukan usaha mendidik anaknya tersebut secara langsung maupun tidak langsung. Terlebih apabila si anak shalih tersebut secara sadar mendoakan ampunan Allah dan kebaikan untuk orang tuanya. Maka, pahala yang akan diterima oleh si orang tua akan semakin besar.

Pos terkait