Negara Paling Bergantung pada Wisata



JAKARTA — Pariwisata merupakan salah satu sektor industri terbesar di dunia, yang diperkirakan akan berkontribusi sebesar 11,7 triliun dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2025. Angka ini setara dengan sekitar 10% dari total output ekonomi dunia. Namun, pentingnya sektor ini bervariasi cukup signifikan antar negara.

Bagi sebagian negara, pariwisata hanya menjadi sumber pendapatan tambahan. Namun, bagi negara lain, pariwisata menjadi pilar utama dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Berdasarkan data dari PBB dan IMF, berikut adalah daftar negara-negara yang memiliki kontribusi terbesar dari sektor pariwisata terhadap PDB mereka:

  • Makau: 70,8%
  • Aruba: 69,7%
  • Maladewa: 68,1%
  • Andorra: 66,5%
  • Saint Lucia: 53,8%
  • Grenada: 48,1%
  • Antigua dan Barbuda: 47,8%
  • Seychelles: 46,6%
  • Bahama: 35,0%
  • Saint Kitts dan Nevis: 32,9%
  • Saint Vincent dan Grenadines: 26,9%
  • Malta: 26,4%
  • Belize: 25,5%
  • Cabo Verde: 23,8%
  • Libanon: 23,6%
  • Albania: 21,9%
  • Fiji: 21,5%
  • Samoa: 19,8%
  • Montenegro: 19,8%
  • Jamaika: 19,7%

Ekonomi Kecil Memimpin Peringkat

Makau menduduki peringkat pertama. Pengeluaran wisatawan mencapai 32,4 miliar dolar AS, yang setara dengan 70,8% dari total ekonominya senilai 45,8 miliar dolar AS. Diikuti oleh Aruba dengan 69,7%, Maladewa (68,1%), dan Andorra (66,5%). Saint Lucia berada di posisi kelima dengan kontribusi pariwisata sebesar 53,8% dari PDB.

Negara-negara kecil yang didominasi oleh ekonomi resor seringkali mengandalkan pengunjung internasional sebagai sumber utama devisa dan lapangan kerja. Hal ini karena pasar domestik yang terbatas dan kurangnya industri besar skala.

Ekonomi yang Terdiversifikasi Berperingkat Lebih Rendah

Sementara itu, Amerika Serikat berada di peringkat 151 dalam daftar tersebut. Meskipun penerimaan pariwisata mencapai 251,6 miliar dolar AS, kontribusinya hanya sebesar 0,86% terhadap PDB. Negara yang paling tidak bergantung pada pariwisata adalah Papua Nugini, di mana pariwisata hanya menyumbang 0,01% dari output ekonominya. Guinea dan Angola juga berada di bawahnya dengan kontribusi masing-masing sebesar 0,02%.

Sebanyak 47 negara dalam kumpulan data ini memiliki kontribusi pariwisata di bawah 1% dari PDB mereka. Ini menunjukkan bahwa sektor ini belum menjadi prioritas utama bagi banyak negara.

Wilayah dengan Ketergantungan Pariwisata di Destinasi Wisata Ransel

Klaster negara dengan tingkat ketergantungan pariwisata yang tinggi juga terlihat di wilayah seperti Amerika Tengah, Eropa Timur, dan Asia Tenggara. Wilayah-wilayah ini sering dijadikan destinasi wisata yang terjangkau. Meskipun manfaat ekonomi telah tercatat secara baik, ekonomi yang sangat bergantung pada pariwisata rentan terhadap guncangan global.

Contohnya, PDB riil Aruba mengalami kontraksi sebesar 24% pada tahun 2020 ketika pandemi menghentikan aktivitas pariwisata. Hal ini memicu situasi ekonomi yang tidak stabil bagi pemilik bisnis dan warga setempat. Namun, sejak saat itu, ekonomi Aruba mulai pulih.

Di sisi lain, pariwisata yang berlebihan juga dapat memberikan beban berlebihan kepada penduduk lokal dan menyebabkan ketegangan di berbagai bidang, termasuk lingkungan dan sosial. Oleh karena itu, penting bagi negara-negara yang bergantung pada pariwisata untuk mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan serta sosial.

Pos terkait