Nelayan Trenggalek Hilang Usai Kapal Tenggelam, Tim Pencari Selidiki 8 Pantai Wonogiri

Aa1xcoft 1
Aa1xcoft 1

Upaya Pencarian Nelayan yang Hilang di Perairan Paranggupito Terus Berlangsung

Pencarian terhadap seorang nelayan asal Trenggalek yang dilaporkan hilang saat melaut di perairan Paranggupito di laut selatan terus berlanjut. Korban diketahui bernama Jumali (50), warga Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek. Ia dilaporkan hilang setelah kapal yang ia tumpangi ditemukan terbalik di Pantai Watumandi, Dusun Dawung, Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, pada Kamis (26/2/2026) lalu.

Kasi Humas Polres Wonogiri, AKP Anom Prabowo mengatakan pencarian lanjutan dilaksanakan mulai pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB. “Hingga hari ini, korban belum berhasil ditemukan,” jelasnya. Menurutnya, pencarian korban melibatkan tim gabungan dari Polsek Paranggupito, Koramil 25 Paranggupito, BPBD Kabupaten Wonogiri, Basarnas Trenggalek, PMI Kabupaten Pacitan, unsur pemerintah kecamatan, serta masyarakat sekitar.

Tim gabungan melakukan penyisiran di sejumlah titik pantai, diantaranya Pantai Watumandi, Pantai Kalimirah, Pantai Karangpayung, Pantai Waru, Pantai Nampu, Pantai Sembukan, Pantai Klotok, hingga Pantai Ndadapan. “Masyarakat agar melapor kepada petugas apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban,” ujarnya. Pihaknya juga mengimbau masyarakat pesisir agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut.

Perkembangan hasil pencarian akan terus dilaporkan secara berkala oleh Polres Wonogiri. Pencarian tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel di lapangan.

Kronologi Kejadian

Sebuah kapal nelayan ditemukan terbalik di kawasan Pantai Watumandi, Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jumat (27/2/2026). Kapal berjenis daplang tersebut bernama Manis Rizky 59, ditemukan terbalik di atas batu karang, menurut Kasi Humas Polres Wonogiri, AKP Anom Prabowo. “Posisinya terbalik. Selain itu juga ditemukan sejumlah peralatan pencari udang lobster berserakan di atas pasir,” ujar Anom.

Kapal terbalik pertama kali diketahui warga sekitar pukul 08.00 WIB di tepi Pantai Watumandi, tepatnya di wilayah Dawung RT 002/RW 004, Desa Gudangharjo. Berdasarkan penyelidikan, Kamis (26/2/2026), ada 10 kapal nelayan yang berangkat melaut dari terminal kapal di Pantai Watukarung, Kabupaten Pacitan. Salah satunya adalah kapal Manis Rizky 59 yang ditumpangi seorang diri oleh Jumali (50), warga Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek.

Korban dan nelayan lain menuju perairan selatan untuk memancing sekaligus memasang jaring rendet udang lobster. Sekitar pukul 21.00 WIB, salah satu nelayan dari kapal berbeda masih melihat lampu kapal korban menyala dengan jarak kurang lebih satu kilometer. Namun pada pukul 22.30 WIB, cahaya lampu tersebut sudah tidak terlihat lagi.

“Karena rekannya ini curiga, lalu mendekati lokasi terakhir kapal terlihat. Namun saat tiba di sekitar rumpon, korban maupun kapalnya tidak ditemukan,” jelas Anom. Pencarian dilakukan selama kurang lebih dua jam, tetapi tidak membuahkan hasil karena gelombang laut selatan cukup tinggi. Para nelayan kemudian kembali ke Pantai Watukarung dan melaporkan kejadian kepada pemilik kapal.

Informasi kehilangan kapal dan ABK pun disebarluaskan ke nelayan di wilayah Pacitan hingga Pantai Sadeng, Girisubo, DIY.

Penemuan Kapal Terbalik

Jumat pagi, warga menemukan kapal dalam kondisi terbalik. Mengetahui informasi kapal hilang dari Pacitan, warga melaporkannya ke Polsek. Hingga saat ini, korban masih dalam pencarian oleh rekan-rekan nelayan dari Pantai Watukarung Pacitan dan Pantai Sadeng DIY, dengan penyisiran di laut maupun sepanjang pesisir Pantai Watumandi dan Kalimirah.

Dugaan Penyebab Kecelakaan

Dugaan sementara kecelakaan laut ini terjadi akibat gelombang tinggi di perairan selatan dan kemungkinan mesin kapal tidak berfungsi optimal, sehingga kapal diterjang ombak hingga terbalik dan terdampar. “Korban masih dalam pencarian. Akses menuju lokasi kejadian cukup sulit dan terjal, sehingga menyulitkan proses evakuasi bangkai kapal. Saat ini, bangkai kapal masih berada di atas batu karang dalam posisi terbalik,” tambah Anom.

Pos terkait