Netanyahu Dituduh Serang Iran Sebelum 30 Maret, Ini Motifnya

108495303 056028417 1
108495303 056028417 1

Dinamika Politik Israel dan Peran Konflik dengan Iran

Perang yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika politik domestik negara tersebut. Banyak analis mengatakan bahwa arah dan durasi konflik ini sangat berpengaruh terhadap stabilitas pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Netanyahu diduga sengaja melancarkan serangan ke Iran sebelum tenggat waktu politik 30 Maret, agar pengesahan anggaran negara yang sulit mendapatkan dukungan mayoritas di parlemen bisa ditunda. Jika anggaran tersebut gagal disahkan, pemerintahan Netanyahu akan jatuh pada 1 April, sehingga Israel harus menggelar pemilihan umum lebih cepat.

Dalam situasi ini, Netanyahu, yang berusia 76 tahun, dinilai akan memasuki masa kampanye dari posisi politik yang lemah. Popularitasnya telah tergerus akibat perang Gaza yang dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang merupakan hari paling mematikan dalam sejarah Israel.

Para pengkritik menuding bahwa Netanyahu mencoba menghindari tanggung jawab atas kegagalan mencegah serangan tersebut. Meski ia adalah perdana menteri terlama dalam sejarah Israel dengan total masa jabatan lebih dari 18 tahun, ia kehilangan mayoritas parlemen sejak pertengahan 2025 karena krisis politik dengan sekutu ultra-Ortodoksnya. Di tengah tekanan politik, Netanyahu juga masih menjalani persidangan kasus korupsi yang telah berlangsung lama. Ia bahkan dilaporkan meminta ampunan kepada Presiden Israel, Isaac Herzog.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut beberapa kali mendesak agar pengampunan diberikan. Namun, upaya untuk memperbaiki citra Netanyahu tampaknya sedang berjalan melalui konflik dengan Iran.

Upaya Pulihkan Citra Lewat Perang Iran

Sehari setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam gelombang serangan gabungan AS-Israel, Netanyahu menegaskan bahwa kedekatannya dengan Washington memainkan peran penting dalam operasi tersebut. Ia menyebut hubungan eratnya dengan Amerika Serikat memungkinkan Israel melakukan hal yang telah lama diinginkannya selama lebih dari 40 tahun, yakni melancarkan serangan besar terhadap Iran.

Analis politik dari Tel Aviv University, Emmanuel Navon, menilai Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilu. “Sudah jelas. Dia tidak akan menunggu sampai Oktober mengingat peringatan 7 Oktober,” ujar Navon kepada AFP, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, posisi politik Netanyahu yang sempat berada di titik terendah kini berangsur membaik.

“Jika Netanyahu berada di titik terendah setelah serangan Hamas, ia secara bertahap telah membalikkan keadaan,” katanya. Navon juga menyoroti serangkaian pukulan militer Israel terhadap Hamas, Hizbullah, dan Iran sejak dimulainya perang Gaza.

Berdasarkan sejumlah jajak pendapat, Partai Likud diperkirakan unggul apabila pemilu digelar dalam waktu dekat. Meski demikian, partai tersebut masih berpotensi kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutunya saat ini. Sejumlah pengamat menilai kemenangan atas Iran dapat mengubah kalkulasi politik tersebut secara signifikan.

“Iran Tetaplah Iran”

Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan otomatis menguntungkan Netanyahu. Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan orang-orang bahwa kemenangan itu total meskipun hanya ilusi, sembari menekankan bahwa “Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026).”

Di situs berita Walla, jurnalis Ouriel Deskal bahkan menilai waktu pecahnya konflik bisa berkaitan dengan tenggat politik domestik. Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran yang sulit ia dapatkan dukungannya di parlemen.

Meski demikian, “Jika perang melawan Iran ini sukses bagi Israel, itu akan menjadi kemenangan politik bagi Netanyahu,” kata Navon. Namun, Horowitz mengingatkan bahwa risiko tetap ada jika konflik berkepanjangan.

“Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah,” ujarnya. Dalam perang pada Juni 2025, serangan rudal Iran menewaskan 30 orang di Israel. Sejak Sabtu, 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran.

Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer ketimbang kepada Netanyahu. “Kemenangan Israel terutama disebabkan oleh tentara dan ketahanan warga sipil, yang memungkinkan negara itu untuk melancarkan perang terpanjang dalam sejarahnya,” katanya. “Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu.”

Pos terkait