Ning Margaret, Ketum PP Muslimat NU, Tutup Usia, Dikenal Setia dan Peduli

Nu Gresik Ketum Fatayat Nu Di Sunan Giri 1
Nu Gresik Ketum Fatayat Nu Di Sunan Giri 1

Duka Mendalam atas Kematian Ketua Umum PP Fatayat NU

Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) setelah meninggalnya Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah. Kepergian sosok yang sangat dihormati ini meninggalkan kesan mendalam bagi rekan-rekan sesama aktivis dan tokoh-tokoh yang pernah bekerja sama dengannya.

Sosok yang Berjiwa Kesetiakawanan

Hikmah Bafaqih, mantan Ketua PW Fatayat NU Jatim sekaligus politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mengungkapkan rasa duka yang dalam atas kepergian Ning Margaret. Menurut Hikmah, almarhumah dikenal memiliki sifat kesetiakawanan yang tinggi serta peduli terhadap isu perempuan, anak, dan kelompok rentan.

“Almarhumah adalah tokoh yang sangat baik,” ujar Hikmah yang juga Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim. Ia menjelaskan bahwa Ning Margaret telah lama dikenalnya, bahkan ia memanggil Margaret dengan sebutan Mbak Iyet, yang merupakan panggilan akrab di lingkungan almarhumah.

Selain aktif di Fatayat, Hikmah juga memiliki kedekatan emosional dengan Ning Margaret karena anak pertamanya menjadi santri dari ayahanda almarhumah. Hal ini menunjukkan hubungan yang tidak hanya profesional, tetapi juga penuh kepercayaan dan kasih sayang.

Latar Belakang Keluarga yang Menginspirasi

Sebagai informasi, Ning Margaret adalah putri dari pasangan KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah. Dari garis keturunan, ia adalah cucu buyut dari KH M Bisri Syansuri, salah satu tokoh pendiri NU sekaligus ahli fiqih ternama dari Jombang, Jawa Timur. Selain itu, ia juga merupakan pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.

Sosok ini tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Hal ini membentuk kepribadiannya yang penuh semangat dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Peran dalam Berbagai Organisasi

Ning Margaret dikenal sebagai sosok yang merangkul dan menghargai kompetensi orang-orang di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah bagaimana ia mengakomodir banyak tokoh daerah dalam kepengurusan PP Fatayat NU.

“Beliau menghargai dan tetap mengapresiasi kawan-kawan lamanya yang menurut dia punya kompetensi luar biasa untuk bersama-sama membantu dia di PP. Karenanya banyak pengurus Fatayat di Jawa Timur yang kemudian ditarik juga untuk membantu dia di PP,” jelas Hikmah.

Hal ini menunjukkan bahwa Ning Margaret tidak hanya fokus pada posisinya sebagai ketua, tetapi juga berupaya membangun kerja sama yang solid antara pusat dan daerah.

Dedikasi Terhadap Anak dan Kelompok Rentan

Di samping peran organisasinya, Ning Margaret juga dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap isu anak, perempuan, dan kelompok rentan lainnya. Ia bahkan menjabat sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Perjuangan yang cukup luar biasa untuk menunjukkan dedikasi penuh pembelaan terhadap anak-anak kelompok rentan selama ini,” tambah Hikmah. Jabatan ini membuat Ning Margaret hadir di berbagai momen penting yang memperjuangkan hak-hak anak dan kelompok rentan.

Kehadiran yang Tidak Terlupakan

Kabar duka ini disampaikan oleh PP Fatayat NU melalui pesan singkat WhatsApp (WA) oleh Eli Rosyidah, Minggu 1 Maret 2026. Kepergian Ning Margaret meninggalkan kesan mendalam bagi banyak pihak, termasuk rekan-rekan, keluarga, dan masyarakat luas.


Pos terkait