Nizam Disiksa Orang Tua Tiri Sejak Usia 9 Tahun, Tetangga Bongkar Kelakuan Keji Anwar di Rumah

Aa1wvvsn 1
Aa1wvvsn 1

Penyiksaan yang Terungkap: Dugaan Kekerasan oleh Ayah dan Ibu Tiri

Kasus kematian Nizam Syafei, bocah 13 tahun asal Sukabumi, Jawa Barat, terus menjadi sorotan publik. Awalnya, kasus ini menimbulkan dugaan penyiksaan oleh ibu tiri korban, Teni Ridha, yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Sukabumi pada 24 Februari 2026. Namun, semakin banyak fakta yang muncul, mengungkap bahwa kekerasan tidak hanya dilakukan oleh ibu tiri, tetapi juga oleh ayah kandung Nizam.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama DPR RI pada Senin (2/3/2026), Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, membeberkan temuan berdasarkan aduan dari keluarga besar dan tetangga. Ia menyebut bahwa ayah kandung Nizam, Anwar Satibi, juga diduga melakukan pemukulan dan penamparan terhadap anaknya sendiri.

Anwar sebelumnya diketahui sebagai pihak yang melaporkan dugaan penganiayaan terhadap Teni Ridha. Namun, dalam RDPU tersebut, Diyah menjelaskan bahwa keluarga dan tetangga korban memberikan informasi bahwa kekerasan terhadap Nizam tidak hanya dilakukan oleh ibu tiri, tetapi juga oleh ayah kandungnya.

“Kami bertemu dengan keluarga dan kami juga bertemu dengan tetangga. Kami mendapatkan informasi bahwa yang melakukan kekerasan tidak hanya ibu tetapi ayah,” ujar Diyah Puspitarini.

Menurut informasi yang diperoleh, kekerasan terhadap Nizam telah terjadi sejak usia sekitar 9 tahun. Aduan dari tetangga dan keluarga besar menunjukkan bahwa kekerasan itu semakin intens dalam empat tahun terakhir. Meskipun ada upaya dari keluarga untuk mengingatkan Anwar, respons yang diterima justru mengejutkan.

“Ketika saya tanya kepada keluarga dan tetangga, apakah tidak ada yang mengingatkan? Keluarga besar berkata (sudah) mengingatkan. Tetapi jawaban dari ayah ‘itu anak saya, itu urusan saya’,” imbuh Diyah.

Selain itu, KPAI juga menyoroti sikap ayah korban setelah pemakaman. Nizam dimakamkan pada 18 Februari 2026, namun hingga 25 Februari 2026, saat KPAI melakukan kunjungan ke makam, ayah kandungnya disebut belum pernah datang berziarah.

Diyah juga menyebut bahwa sebelum meninggal, Nizam sempat sakit selama lima hari setelah pulang dari pondok, tetapi tidak dibawa berobat ke dokter. Selain itu, ia mengungkap adanya perlakuan terhadap korban yang disebut serupa dengan yang terekam dalam video yang beredar.

Berdasarkan rangkaian temuan tersebut, KPAI menduga kasus ini mengarah pada filisida, yakni tindakan orangtua yang dengan sengaja menghilangkan nyawa anaknya sendiri. “Ini termasuk filisida, Pak. Jadi, pembunuhan anak yang dilakukan oleh orangtua, baik orangtua kandung atau orangtua tiri,” pungkas Diyah.



Detik-detik NS Wafat

Kasus kematian Nizam Syafei atau NS (12) menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan penganiayaan di balik luka bakar yang ditemukan di sekujur tubuhnya. Peristiwa ini menyeret perhatian luas karena awalnya kematian bocah tersebut disebut akibat sakit panas tinggi. Namun, keterangan medis justru mengarah pada dugaan kekerasan fisik, yang kemudian memunculkan pertanyaan besar soal alibi yang sempat disampaikan ibu tirinya kepada sang ayah.

Anwar Satibi, ayah kandung Nizam, mengaku semula mempercayai penjelasan istrinya terkait kondisi anaknya. Dalam wawancara di podcast Denny Sumargo, Anwar menceritakan bahwa ia tidak langsung menaruh curiga ketika istrinya menyebut luka melepuh di tubuh Nizam sebagai dampak panas tinggi. Saat pertama kali membawa Nizam ke Rumah Sakit Jampang Kulon, Anwar masih berpegang pada keterangan tersebut. Ia bahkan menirukan langsung penjelasan istrinya kala itu.

“Istri saya menjawab, ‘Ya, ini kan sakit panas ya, si Raja. Jadi kalau sakit panas memang suka panas, kalau panasnya berlebihan suka melepus seperti ini, seperti kesiram air panas katanya gitu’,” ujar Anwar.

Alibi itulah yang awalnya diyakini Anwar sebagai penyebab kondisi putranya. Ia menerima penjelasan tersebut tanpa banyak pertanyaan, karena disampaikan dengan seolah masuk akal. Keyakinan itu runtuh ketika dokter perempuan yang menangani Nizam memberikan penegasan berbeda, bahkan di hadapan istrinya.

Hati bak hancur tahu fakta jika ada dugaan istrinya penyebab sang anak meninggal dunia. “Dia cek, cek, cek itu di depan istri saya. Dia ngomong di depan istri saya, ‘Bu, kita ini medis ya. Kita tahu mana yang sakit panas, mana yang bukan. Ini bukan karena sakit, tapi ini dianiaya.’ Itu dokternya yang ngomong. Di depan istri saya yang dokter perempuan itu ya. Dokter perempuan itu ngomong lantang loh,” tegas Anwar.

Pernyataan tersebut menjadi titik balik bagi Anwar. Ia mengaku baru menyadari ada kejanggalan setelah mendengar langsung penjelasan medis itu. “Oh saya ini kan Bang udah enggak muda. Maksudnya udah agak lama ya. Saya baru kali ini melihat orang sakit panas sampai pada melepuh gitu kulitnya. Apalagi dikuatkan dengan pernyataan doktor ke saya. Ini bukan karena sakit. Ada luka bakar. Luka bakar,” ungkapnya.

Setelah pemeriksaan, Nizam dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif. Namun sekitar dua jam kemudian, nyawanya tak tertolong. Sebelum mengembuskan napas terakhir, dokter sempat memanggil Anwar agar mendampingi putranya. “Justru saya nge-dzikirin, ‘tolong dituntun, katanya anaknya’. Dituntun berdoa gitu, dzikir. Udah gitu anak saya lewat. Udah enggak ada napas,” kenangnya pilu. Saat dokter menanyakan kemungkinan tindakan CPR, Anwar memilih menolak. “Dokter kan nanya ini mau, mau di apa? Kata saya jangan, jangan. Kasihan kata saya,” ucapnya.

Pos terkait