NTP NTT Turun 0,19 Persen di Februari 2026

Aa1xnzpl
Aa1xnzpl



Kupang, NTT – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 100,92 poin pada Februari 2026. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,19 persen dibandingkan dengan NTP pada Januari 2026 yang mencapai 101,11 poin.

Menurut Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, penurunan ini disebabkan oleh pertumbuhan indeks harga terima yang lebih lambat dibandingkan indeks harga bayar. Ia menjelaskan bahwa indeks harga terima petani turun sebesar 0,06 persen, sedangkan indeks harga bayar meningkat 0,12 persen.

Pada komponen indeks bayar, indeks konsumsi rumah tangga naik 0,12 persen, sementara indeks biaya produksi dan penambahan barang modal meningkat 0,19 persen. Hal ini berdampak langsung pada penurunan NTP Februari 2026.

Beberapa subsektor juga menjadi penyebab penurunan NTP. Subsektor tanaman pangan mengalami penurunan sebesar 0,10 persen, didorong oleh penurunan produksi jagung dan gabah. Sementara itu, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 0,89 persen akibat penurunan harga komoditas seperti kakao, kelapa, dan kopi.

Subsektor peternakan juga mengalami penurunan sebesar 0,01 persen, dengan ayam kampung sebagai penyumbang utama. Namun, ada beberapa subsektor yang mengalami peningkatan. Subsektor hortikultura meningkat 1,51 persen, didorong oleh komoditas seperti wortel, cabai rawit, terung, dan tomat. Selain itu, subsektor perikanan naik 0,09 persen karena kenaikan harga ikan tembang dan ikan selar.

Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Februari 2026 tercatat sebesar 105,03, turun 0,26 persen dibandingkan Januari 2026. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh kinerja subsektor perkebunan rakyat dan budidaya ikan. Sebaliknya, subsektor hortikultura dan peternakan mengalami peningkatan.

Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani pedesaan pada Februari 2026 meningkat 0,12 persen. Secara tahunan, IKRT Februari 2026 terhadap Februari 2025 meningkat sebesar 2,57 persen. Beberapa komoditas memberikan andil signifikan terhadap kenaikan IKRT, antara lain ikan tongkol, cabai rawit, ikan kembung, tomat, dan bawang putih.

Dengan data ini, BPS Provinsi NTT terus memantau perkembangan ekonomi pertanian di NTT agar dapat memberikan informasi yang akurat dan relevan bagi para pemangku kepentingan.

Pos terkait