OJK: Ketidakpastian Global Naik, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen

Aa1rvyn3
Aa1rvyn3



JAKARTA – Friderica Widyasari Dewi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kiki, selaku ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, menyampaikan bahwa dinamika di sektor jasa keuangan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perekonomian global dan domestik. Ia menilai bahwa saat ini masih banyak ketidakpastian yang tinggi di dunia internasional.

“Risiko downside global terus meningkat seiring dengan berlanjutnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi serta meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap potensi pembentukan bubble harga aset pada sektor artificial intelligence,” ujar Kiki dalam webinar bertajuk “Outlook Ekonomi di 2026” di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Menurut Kiki, situasi tersebut memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global, memperpanjang fase kebijakan moneter yang ketat, dan memberi tekanan pada prospek pertumbuhan ekonomi global yang berada di bawah rata-rata historis jangka panjang. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kinerja perekonomian Indonesia tetap stabil dan menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan global.

“Kita harus bersyukur karena pertumbuhan ekonomi nasional secara konsisten berada di kisaran lima persen. Sepanjang tahun 2025, perekonomian domestik tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan,” kata Kiki.

Ia menilai capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. Bahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen menjadikannya sebagai salah satu pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara anggota G20.

“Sejalan dengan data tersebut, kita juga melihat data BPS menunjukkan sektor jasa keuangan tumbuh sebesar 7,92 persen secara tahunan pada periode yang sama,” tambah Kiki.

Angka pertumbuhan tersebut menjadi laju tertinggi sejak kuartal II 2021. Capaian ini didorong oleh kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit serta perbaikan kinerja sektor asuransi dan dana pensiun yang kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi dalam dua tahun sebelumnya.

Kiki menyebut bahwa kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional semakin meningkat. Hal ini tergambar dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang saat ini sudah mencapai 184 persen dari PDB Indonesia.

Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya peran pasar modal dalam pembiayaan perekonomian nasional serta semakin luasnya diversifikasi produk keuangan yang tersedia bagi masyarakat dan pelaku usaha. Kiki menegaskan bahwa struktur perekonomian domestik saat ini masih didominasi oleh sektor perbankan.

“Oleh karena itu pendalaman pasar keuangan menjadi fokus utama OJK dengan meningkatkan peran pasar modal, mendiversifikasi sumber pembiayaan serta mengurangi risiko maturity and funding mismatch dalam sistem keuangan nasional kita,” ujar Kiki.

Pos terkait