OJK Mengamati Dampak Geopolitik terhadap Pasar Saham
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa eskalasi situasi geopolitik saat ini berdampak pada seluruh bursa regional dan global, yang menyebabkan kebanyakan indeks utama pasar saham mengalami penurunan. Hal ini disampaikan oleh pejabat sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam konferensi pers di kompleks Bank Indonesia, Selasa, 3 Maret 2026.
Hasan menjelaskan bahwa pelemahan pasar saham tersebut merupakan respons dari para investor terhadap meningkatnya ketidakpastian global. “Pasar saham memang selalu melakukan pricing in dan risk off terhadap kejadian yang sedang terjadi untuk masa-masa mendatang,” ujarnya.
Menurut Hasan, volatilitas harga di pasar saham Indonesia, khususnya melalui indeks harga saham gabungan (IHSG), merupakan bagian dari transmisi global yang normal. Ini mencerminkan evaluasi risiko awal yang dilakukan oleh para investor terhadap eskalasi geopolitik yang sedang berlangsung.
Kebijakan dan Instrumen untuk Menjaga Stabilitas Pasar
Untuk menjaga stabilitas pasar di tengah ketidakpastian global, OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki beberapa kebijakan dan instrumen. Contohnya adalah kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS, penerapan mekanisme auto rejection bawah, serta trading halt. Kebijakan-kebijakan ini diharapkan dapat membantu menahan pelemahan harga saham tertentu.
Namun, Hasan juga menegaskan bahwa stabilitas pasar sangat bergantung pada perilaku dan respons investor. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada investor domestik, baik individu maupun retail, yang aktif bertransaksi di pasar untuk tetap berhati-hati, rasional, dan berbasis analisis data. Ia juga menyarankan agar investor mempertimbangkan faktor risiko dan aspek fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.
Pergerakan Investor di Tengah Dinamika Geopolitik
Berdasarkan pengalaman dari eskalasi geopolitik sebelumnya, Hasan mengatakan bahwa investor cenderung melakukan pemindahan atau repositioning portofolio saham ke aset yang termasuk dalam kelompok safe haven, seperti emas, valuta asing, dan obligasi. Selain itu, pasar biasanya bersikap wait and see, menunggu perkembangan kondisi terkini.
Oleh karena itu, Hasan menilai bahwa OJK akan terus memantau potensi capital outflow dalam jangka pendek. “Yang perlu kita waspadai bersama sebagai bagian dari dinamika respon kondisi global dimaksud,” katanya.
Pemantauan Intensif oleh OJK dan Lembaga Terkait
Hasan menambahkan bahwa OJK, bersama lembaga lain dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), akan terus melakukan pemantauan intensif dan close monitoring terhadap likuiditas dan risiko pasar. Tujuannya adalah untuk memastikan stabilitas di sektor jasa keuangan.
Meskipun fundamental perekonomian Indonesia saat ini relatif stabil dengan indikator makro yang terjaga, Hasan menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menghadapi potensi transmisi dari situasi geopolitik global.
Perkembangan IHSG dan Harga Minyak
Pada pagi hari ini, IHSG melemah seiring mode risk-off investor yang ingin mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah di tingkat global. IHSG dibuka melemah 43,39 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896,38. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802,31.
Harga minyak Brent juga naik hingga kisaran US$ 81-82 per barel, sementara US WTI naik ke rentang US$ 74-75 per barel. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga hampir 10 persen intraday dan mencapai level tertinggi sejak 2024–2025.





