JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat penghunian kamar (TPK) alias okupansi hotel klasifikasi bintang di Indonesia mengalami penurunan pada Januari 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa okupansi kamar hotel bintang tercatat sebesar 47,53% pada bulan tersebut. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 8,59 poin secara bulanan (MtM) dan 0,85 poin secara tahunan (YoY).
Ateng menjelaskan bahwa seluruh provinsi di Indonesia mengalami penurunan TPK hotel bintang pada Januari 2026 dibandingkan dengan Desember 2025. Meskipun demikian, Provinsi Bali mencatatkan TPK tertinggi dalam kategori ini, yaitu sebesar 56,67%. Namun, angka ini juga lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 60,88%.
Menurut Ateng, penurunan TPK hotel berbintang secara umum dipengaruhi oleh berakhirnya momentum puncak atau peak season Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang terkonsentrasi pada Desember 2025. Selain itu, faktor cuaca ekstrem di berbagai daerah juga diduga memengaruhi minat wisatawan untuk melancong.
“Ada kondisi cuaca ekstrim di beberapa daerah yang pada bulan Januari diduga mempengaruhi penurunan aktivitas kunjungan wisatawan untuk menginap di hotel berbintang,” ujarnya.
Selain data tentang hotel bintang, BPS juga mencatat TPK hotel klasifikasi nonbintang dan akomodasi lainnya sebesar 24,48% pada Januari 2026. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan TPK hotel nonbintang tertinggi, yaitu sebesar 38,9%. Disusul oleh Bali dengan 32,7% dan Kepulauan Riau dengan 31,11%.
Ateng menegaskan bahwa TPK hotel bintang di seluruh provinsi di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan TPK hotel nonbintang. Hal ini menunjukkan bahwa hotel berbintang masih menjadi pilihan utama bagi wisatawan meskipun mengalami penurunan pada awal tahun ini.
Beberapa faktor yang memengaruhi penurunan TPK antara lain:
- Berakhirnya masa liburan Nataru – Momentum Nataru yang biasanya meningkatkan jumlah pengunjung ke hotel berbintang telah berlalu, sehingga mengurangi permintaan.
- Cuaca ekstrem – Beberapa wilayah mengalami kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti hujan deras atau angin kencang, yang membuat wisatawan enggan melakukan perjalanan.
- Perubahan preferensi wisatawan – Sebagian wisatawan mungkin memilih akomodasi nonbintang karena alasan biaya atau kenyamanan.
Dalam laporan tersebut, BPS juga menyebutkan bahwa penurunan TPK hotel berbintang tidak hanya terjadi di satu provinsi saja, tetapi merata di seluruh Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya tren yang lebih luas terkait perilaku wisatawan dan kondisi ekonomi serta lingkungan.
Meski terjadi penurunan, angka TPK hotel bintang masih menunjukkan bahwa sektor pariwisata tetap memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Dengan adanya perbaikan cuaca dan momentum liburan berikutnya, diperkirakan akan ada peningkatan kembali pada bulan-bulan berikutnya.





