JAKARTA – Di tengah volatilitas pasar saham pada awal tahun 2026, investor dapat mempertimbangkan emiten berdividen sebagai pilihan strategis. Hal ini didorong oleh penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 6,73% dalam sebulan terakhir dan turun 3,01% sejak awal tahun (year to date/ YTD).
Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), dividen menjadi imbal hasil yang menarik ketika harga saham sedang rendah atau murah. “Terkadang, dividen yield bahkan bisa lebih besar daripada imbal hasil bunga deposito maupun kupon ORI atau SBN,” ujarnya.
Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, menilai bahwa dividen tetap layak dipertimbangkan dalam membeli saham, tetapi dengan konteks yang tepat. “Dividen diibaratkan seperti arus kas nyata yang masuk ke kantong investor, sementara capital gain adalah potensi kenaikan harga yang masih bersifat mark to market,” katanya.
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, dividen menjadi bantalan psikologis sekaligus fundamental. Namun, secara matematis, investor harus membandingkan dividend yield dengan potensi risiko penurunan harga. Misalnya, jika dividend yield sebuah emiten sebesar 5%, tetapi saham tersebut berpotensi koreksi 10%-15% karena valuasi sudah mahal atau tekanan pasar, maka return bersihnya bisa tergerus.
“Idealnya, dividend yield minimal bisa mengompensasi risiko volatilitas jangka pendek, atau minimal berada di atas rata-rata deposito dan SBN agar ada premi risiko yang masuk akal,” kata Hendra.
Emenet Berdividen Menarik
Salah satu emiten yang menarik perhatian adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dividen yang akan dibagikan dari laba tahun buku 2025 dengan dividend payout ratio (DPR) sekitar 78%. Pada 2025, Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp 56,3 triliun atau tumbuh 0,93% secara tahunan (yoy). Dengan asumsi DPR 78%, total dividen yang berpotensi dibagikan mencapai sekitar Rp 43,9 triliun. Artinya, setiap pemegang saham bisa memperoleh dividen sekitar Rp 472 per saham.
Mengacu pada harga BMRI pada penutupan perdagangan Jumat (20/2) lalu di Rp 5.125 per saham, dividend yield BMRI sebesar 9,2x. Menurut Hendra, BMRI menawarkan dividend yield yang agresif karena laba besar dan payout ratio tinggi sebagai bank BUMN. “Dengan laba yang solid dan ekspansi kredit yang masih tumbuh, kombinasi yield dan potensi rerating valuasi membuatnya menarik untuk investor income sekaligus growth moderat,” ungkapnya.
Rekomendasi Investasi
Selain BMRI, ada beberapa emiten lain yang juga memiliki potensi dividen menarik. Di antaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). BBCA dinilai memiliki dividend yield yang cukup menarik untuk kategori bank menengah, tetapi potensi capital gain tidak seagresif bank besar. Sementara BBCA memiliki yield yang tidak setinggi BMRI, tetapi kualitas laba, konsistensi ROE, dan premium valuasi membuatnya lebih stabil.
Di sisi lain, UNVR secara historis dikenal sebagai saham dividen karena DPR yang tinggi. Namun tantangannya adalah pertumbuhan laba yang sempat melambat dan tekanan kompetisi FMCG.
Strategi Investasi
Hendra memberikan rekomendasi strategis untuk beberapa emiten. Untuk BBCA, ia merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 7.750 per saham. Sedangkan untuk BMRI dan UNVR, ia memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga masing-masing Rp 5.750 per saham dan Rp 2.500 per saham. Sementara itu, rekomendasi trading buy disematkan untuk BDMN dengan target harga Rp 3.000 per saham.





