Kekurangan Bahan Bakar dan Makanan di Gaza Mengancam Kehidupan Warga
Gaza kini menghadapi ancaman serius terkait kekurangan bahan bakar dan makanan yang bisa segera terjadi. Hal ini disebabkan oleh tindakan Israel yang menutup semua akses masuk ke wilayah tersebut setelah mengumumkan serangan udara terhadap Iran bersama Amerika Serikat. Penutupan ini dilakukan dengan alasan bahwa perang antara Israel dan Iran membuat akses ke Gaza tidak aman.
Selama dua tahun terakhir, warga Palestina di Gaza bergantung sepenuhnya pada pasokan bahan bakar yang dibawa oleh truk dari Israel dan Mesir. Dengan penutupan akses ini, kondisi di Gaza bisa semakin memburuk. Para pejabat setempat mengkhawatirkan operasi rumah sakit akan terganggu, serta layanan air dan sanitasi bisa terancam.
“Saya memperkirakan kami mungkin memiliki waktu bertahan beberapa hari,” kata Karuna Herrmann, direktur Kantor Layanan Proyek PBB (UNOPS) di Yerusalem, yang mengelola distribusi bahan bakar di Gaza. Ia menegaskan bahwa kekurangan bahan bakar bisa menyebabkan kesulitan besar bagi penduduk.
Amjad Al-Shawa, seorang pemimpin bantuan Palestina di Gaza, memperkirakan bahwa pasokan bahan bakar hanya akan bertahan selama tiga atau empat hari. Selain itu, stok sayuran, tepung, dan kebutuhan pokok lainnya juga bisa habis jika penyeberangan tetap ditutup.
Badan militer Israel COGAT, yang mengontrol akses ke Gaza, mengklaim bahwa Gaza telah mendapatkan cukup pasokan makanan untuk memenuhi kebutuhan penduduk sejak dimulainya gencatan senjata pada Oktober lalu. “Persediaan yang ada diperkirakan cukup untuk jangka waktu yang lama,” kata COGAT, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Namun, mereka menolak berkomentar tentang potensi kekurangan bahan bakar.
Gencatan senjata ini merupakan bagian dari rencana yang lebih luas yang didukung AS untuk mengakhiri perang. Rencana ini membuka kembali penyeberangan perbatasan Rafah dengan Mesir, meningkatkan aliran bantuan ke wilayah tersebut, dan rencana pembangunan kembali wilayah Gaza.
Hamada Abu Laila, seorang pengungsi Palestina di Gaza, mengatakan bahwa penutupan akses ini memicu ketakutan akan kembalinya kelaparan. Sebelumnya, sebagian wilayah Gaza pernah mengalami kelaparan setelah Israel memblokir pengiriman bantuan selama 11 pekan.
“Mengapa ini menjadi kesalahan kami, di Gaza, dengan perang regional antara Israel, Iran, dan Amerika? Ini bukan kesalahan kami,” kata Abu Laila.

Master Plan Jared Kushner untuk Gaza seperti disampaikan di Davos pada 22 Januari 2026. – (X)





