PBNU: Manfaatkan BoP untuk Berhentikan Perang Iran

Aa1rob2x
Aa1rob2x



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyerukan pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan posisinya dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) guna menghentikan konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran. Menurutnya, Indonesia harus aktif mendorong negara-negara terkait untuk kembali berdialog dan mencari solusi damai.

“Pemerintah Indonesia perlu memanfaatkan keberadaannya di BoP untuk meminta AS, Israel, dan pihak-pihak lain yang terlibat menghentikan tindakan kekerasan dan berkomitmen pada jalur perdamaian,” ujar Yahya dalam pernyataannya. Ia menekankan bahwa upaya menjaga perdamaian adalah bagian dari amanat konstitusi Indonesia.

PBNU juga meminta pemerintah untuk lebih aktif dalam mencegah eskalasi konflik menuju resolusi damai. Dalam pandangan Gus Yahya, peran Indonesia sebagai pelaku perdamaian merupakan tanggung jawab moral dan politik. Selain itu, ia menyerukan masyarakat internasional untuk bekerja sama dalam memperkuat konsensus tatanan global melalui PBB.

Menurutnya, PBB harus menjalankan fungsi sebagai penjaga tatanan internasional secara efektif dan transparan. Karena itu, ia mengecam serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Bagi dia, tindakan tersebut tidak hanya merusak stabilitas regional tetapi juga berpotensi memicu konflik global yang sulit dikendalikan. “Tindakan ini bisa menjadi alasan bagi munculnya kembali radikalisme dan ekstremisme,” kata Yahya.

Ia juga menyampaikan rasa belasungkawa atas wafatnya Imam Ali Khamenei akibat serangan tersebut. Dalam pernyataannya, ia mengajak seluruh umat Islam dan komunitas internasional untuk mendoakan rakyat Iran yang sedang berduka.

Meski begitu, Yahya juga menyampaikan penyesalan atas tindakan Iran yang menyerang negara-negara tanpa alasan yang dapat diterima. Menurutnya, serangan tersebut justru memperburuk situasi dan menghambat upaya resolusi konflik. “Serangan itu akan membuat konflik semakin sulit diselesaikan,” ujarnya.

Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan agresi gabungan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa serangan tersebut menewaskan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran kemudian melancarkan balasan dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Kondisi saat ini masih memanas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Diberitakan Daily Mail, 2 Maret 2026, Donald Trump menyebut kemungkinan perang dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu ke depan.

Tantangan Global dan Peran Indonesia

Konflik antara Iran, AS, dan Israel memberikan tantangan besar bagi dunia. Tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga mengancam keamanan global. Dalam situasi seperti ini, peran Indonesia sebagai negara yang memiliki pengaruh di kawasan sangat penting.

  • Mempertahankan netralitas

    Indonesia perlu menjaga sikap netral dalam konflik ini. Netralitas tidak berarti tidak peduli, tetapi lebih pada kebijakan luar negeri yang seimbang dan tidak memihak salah satu pihak.

  • Meningkatkan diplomasi

    Pemerintah Indonesia perlu memperkuat hubungan diplomatik dengan semua pihak yang terlibat. Ini termasuk menjalin komunikasi langsung dengan pihak Iran, AS, dan Israel untuk menciptakan ruang dialog.

  • Mendorong solusi damai

    Selain melalui BoP, Indonesia bisa menggunakan forum-forum internasional seperti PBB untuk mendesak penyelesaian damai. Pemimpin nasional perlu menunjukkan komitmen kuat terhadap perdamaian global.

  • Melindungi kepentingan nasional

    Dalam situasi konflik yang memanas, Indonesia juga perlu memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi. Ini termasuk menjaga keamanan maritim dan kestabilan ekonomi.

Langkah-Langkah yang Bisa Dilakukan

  1. Meningkatkan partisipasi di BoP

    Indonesia perlu memaksimalkan perannya di BoP untuk mengambil inisiatif dalam menengahi konflik. Ini bisa dilakukan dengan mengusulkan pertemuan darurat atau mediasi.

  2. Membangun koalisi diplomatik

    Membentuk konsorsium negara-negara yang ingin menengahi konflik. Koalisi ini bisa mencakup negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

  3. Memperkuat hubungan dengan organisasi internasional

    Memperkuat kerja sama dengan PBB, ASEAN, dan organisasi lainnya untuk menciptakan mekanisme resolusi konflik yang lebih efektif.

  4. Meningkatkan kesadaran publik

    Melalui media dan pendidikan, pemerintah perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perdamaian dan dampak negatif konflik.

Kesimpulan

Peran Indonesia dalam konflik Timur Tengah sangat penting. Dengan memanfaatkan posisinya sebagai negara yang netral dan memiliki pengaruh di kawasan, Indonesia bisa menjadi mediator yang efektif. Selain itu, pemerintah perlu terus mendorong solusi damai dan menjaga stabilitas regional. Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia bisa menjadi contoh dalam menyelesaikan konflik secara damai.

Pos terkait