Penurunan Pertumbuhan PDB AS di Kuartal IV-2025
Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) melaporkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) riil hanya tumbuh sebesar 1,4 persen secara tahunan pada kuartal IV-2025. Angka ini jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebelumnya memprediksi pertumbuhan sebesar 2,5 persen hingga 3,0 persen. Proyeksi tersebut dibuat sebelum data defisit perdagangan Desember dipublikasikan.
Sebelumnya, ekonomi AS mengalami pertumbuhan yang kuat sebesar 4,4 persen pada kuartal III-2025, namun laju pertumbuhan itu terpangkas drastis. Penurunan ini disebabkan oleh penutupan pemerintah federal selama 43 hari mulai 1 Oktober hingga 12 November 2025, yang menjadi salah satu shutdown terpanjang dalam sejarah dan mengganggu berbagai aktivitas ekonomi lintas sektor.
Shutdown Pemerintah Pangkas Pertumbuhan PDB AS
Departemen Perdagangan AS menghitung bahwa shutdown tersebut memangkas sekitar 1 persen dari pertumbuhan PDB, meskipun besaran pastinya sulit diukur. Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan dampaknya lebih dalam, sekitar 1,5 persen. Tekanan ekonomi muncul akibat penyusutan layanan federal, penurunan belanja barang dan jasa pemerintah, serta penghentian sementara bantuan pangan melalui Program Bantuan Nutrisi Tambahan (SNAP).
Dilansir dari The Guardian, CBO memperkirakan sebagian besar output yang hilang dapat kembali pada periode selanjutnya. Namun, lembaga tersebut juga mencatat ada kerugian permanen senilai 7–14 miliar dolar AS (sekitar Rp118-236 triliun). Kerugian tersebut menunjukkan dampak jangka panjang dari shutdown berkepanjangan.
Pertumbuhan 2025 Melemah Dibayangi Pasar Kerja Lesu

Secara keseluruhan, pertumbuhan PDB AS sepanjang 2025 berada di level 2,2 persen, lebih rendah dibandingkan 2,8 persen pada 2024. Sepanjang tahun itu, penciptaan lapangan kerja hanya mencapai 181 ribu posisi. Jumlah tersebut menjadi yang terendah di luar masa pandemi sejak Resesi Besar 2009, jauh di bawah 1,459 juta pekerjaan yang tercipta setahun sebelumnya.
Sejumlah ekonom menggambarkan 2025 sebagai ekspansi tanpa penyerapan tenaga kerja serta pemulihan berbentuk K. Kelompok berpendapatan tinggi relatif mampu bertahan, sedangkan rumah tangga berpendapatan rendah tertekan inflasi, tarif impor, dan stagnasi upah. Sementara itu, derasnya investasi pada alat imitasi (AI) mencakup pusat data, semikonduktor, perangkat lunak, hingga riset dan pengembangan membantu menopang pertumbuhan pada tiga kuartal pertama sekaligus meredam dampak tarif serta penurunan imigrasi.
Konsumsi Melemah Suku Bunga Diprediksi Stabil

Pada kuartal IV, belanja konsumsi pribadi meningkat 2,4 persen, melambat dari 3,5 persen pada periode sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama disokong oleh rumah tangga berpendapatan tinggi. Di saat bersamaan, ekspor terkontraksi 0,9 persen setelah sebelumnya melonjak 9,6 persen.
Secara keseluruhan, belanja dan investasi pemerintah turun 5,1 persen karena aktivitas federal merosot 16,6 persen. Penurunan itu sebagian diimbangi kenaikan 2,4 persen pada tingkat negara bagian dan lokal. Dari sektor swasta, investasi bruto tumbuh 3,8 persen setelah sebelumnya stagnan, sedangkan penjualan akhir kepada pembeli domestik swasta naik 2,4 persen.
“Penutupan oleh Demokrat merugikan AS setidaknya dua poin dalam GDP. Itulah sebabnya mereka melakukannya lagi, dalam bentuk mini. Tidak Ada Penutupan! Juga, TURUNKAN SUKU BUNGA. ‘Two Late’ Powell adalah yang TERBURUK!!!” tulis Trump di Truth Social, sebelum data PDB dirilis.
Ekonom kepala Fwdbonds, Chris Rupkey, menilai penutupan pemerintah federal membuat ekonomi menyimpang dari jalur pertumbuhan kuat pada kuartal IV dan menyebutnya sebagai kejadian satu kali yang tak akan terulang di awal 2026.
Ekonom kepala Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyoroti arah pemulihan dan daya tahan sektor konsumsi serta investasi teknologi.
“Penutupan pemerintah merugikan pertumbuhan di akhir 2025. Ekonomi kemungkinan akan pulih di awal 2026, tetapi melakukan penutupan berkepanjangan bukanlah hal yang tak berbahaya. Secara keseluruhan, ekonomi AS tangguh di tahun 2025 meskipun menghadapi banyak hambatan. Konsumsi yang solid dan booming AI menjaga ekonomi tetap tumbuh,” katanya, dikutip dari CNBC.
Laporan PDB yang dirilis lebih lambat dan berada di bawah ekspektasi ini diperkirakan tidak mengubah arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.





