Pedagang Malang Prioritaskan Kualitas dan Keamanan Minuman Saat Ramainya Pembeli Takjil

168039978721357 1
168039978721357 1

Kualitas dan Keamanan Makanan di Pasar Takjil Kota Malang

Pasar takjil selama bulan Ramadhan tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi para pedagang, tetapi juga menjadi tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas makanan dan minuman yang dijual. Salah satu penjual yang memperhatikan hal ini adalah Nur Khadijah, yang menjajakan berbagai minuman segar seperti es melon, es blewah, es teh manis, dan kolak buah di Kota Malang.

Di balik meja sederhananya, Nur Khadijah terlihat cekatan dalam meracik minuman pesanan pembeli. Ia menegaskan bahwa menjaga keamanan konsumsi menjadi prioritas utamanya, terutama karena minuman dingin sangat digemari saat berbuka puasa.

“Saya harus pastikan semua bahan bersih dan segar. Pembeli kan minumnya pas perut kosong, jadi harus benar-benar aman,” ujarnya.

Khadijah mengaku selalu mengolah sendiri seluruh bahan yang ia gunakan. Hal itu dilakukan untuk menjaga kualitas produknya sekaligus memastikan keamanan. Buah-buahan seperti melon, blewah, dan pepaya dipilih langsung dari pasar, dan ia membelinya pagi hari. Ia tidak pernah menggunakan buah yang terlalu matang karena berpotensi cepat terfermentasi.

“Kalau buahnya terlalu lembek, cepat busuk. Saya pilih yang masih bagus, terus dicuci tiga kali sebelum dipotong,” katanya.

Untuk pemanis, ia menegaskan bahwa tidak pernah menggunakan pemanis buatan. Gula pasir yang digunakan direbus hingga menjadi larutan gula murni. Bahkan untuk minuman yang identik dengan warna cerah, ia menggunakan bahan alami.

“Saya tidak pakai sirup warna-warni yang banyak campurannya. Kalau mau warna merah muda, saya rebus sedikit ekstrak buah naga. Kalau kuning, pakai air rebusan kunyit tipis, tapi sedikit saja biar tidak terasa,” jelasnya sambil memperlihatkan satu wadah kecil berisi ekstrak buah naga.

Air yang digunakan pun telah dimasak lebih dulu, bukan air mentah. Es batu yang dipakai merupakan es batu kemasan pabrik, bukan es balok yang dijual curah. “Ini penting, soalnya es curah kadang tidak jelas kebersihannya. Pembeli biasanya tidak tahu, tapi saya sebagai penjual harus sadar,” ujarnya.

Selama mengolah minuman, Khadijah juga memperhatikan cara penyimpanan. Buah potong disimpan dalam wadah tertutup rapat, sedangkan kolak atau bahan olahan santan hanya dibuat sekali setiap sore agar tidak basi. Ia memastikan minuman santan tidak lewat dari waktu empat jam sejak dimasak.

Meski cara pengolahan yang ia lakukan membutuhkan tenaga lebih banyak, Khadijah mengaku melakukannya dengan senang hati demi membuat pembeli merasa aman. Sebab, ia menyadari bahwa makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga kesehatan.

Selama Ramadhan, lapak Nur Khadijah tidak pernah sepi. Banyak pelanggan yang kembali karena percaya pada kualitas dan kebersihan produknya.

Pedagang Lain yang Juga Memperhatikan Keamanan Makanan

Hal yang sama juga dilakukan Ifan, pedagang minuman di Pasar Takjil Jalan Surabaya. Ia mengatakan memilih menggunakan bahan alami untuk menunya. Menurutnya, justru bahan alami terasa lebih segar.

“Saya tidak berani menggunakan bahan kimia yang terlalu banyak, tidak tahu juga bagaimana menakarnya,” ujar Ifan.

Ifan menjual minuman es jeruk dan aneka jenis minuman lainnya seperti blewah dan kolak. Menurutnya, keamanan makanan sangat penting agar pelanggan tetap datang dan bertransaksi.

“Saya memang sering dengar katanya ada jajanan yang pakai bahan kimia, tapi sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Jualan yang alami saja lebih segar,” ungkapnya.


Pos terkait