Program Pelatihan Vokasi Nasional resmi diluncurkan oleh pemerintah pada Jumat (27/2/2026). Tujuan utama dari program ini adalah untuk meningkatkan kompetensi kerja lulusan SMA/SMK agar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Program ini ditujukan khusus bagi alumni SMA/SMK yang lulus dalam tiga tahun terakhir.
Pada batch pertama, kuota yang tersedia sebanyak 20 ribu peserta. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menjelaskan bahwa pendaftaran sedang dibuka, dan masyarakat dapat melihat informasi lebih lanjut melalui situs web Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Di sana juga tersedia fasilitas-fasilitas pendukung lainnya.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran APBN untuk mengelola program ini bagi 70 ribu orang. Namun, pada tahap awal, program akan menyasar 20 ribu peserta terlebih dahulu. Jika hasil evaluasi menunjukkan antusiasme tinggi, jumlah peserta berpeluang ditingkatkan.
“Semoga nanti hasil evaluasi batch 1, 20 ribu orang, kalau nanti antusiasmenya bagus, kita tentu berharap jumlahnya tidak cukup hanya 70 ribu orang ya. Jadi 70 ribu orang itu sudah ada anggaran dari APBN,” ujar Yassierli.
Masyarakat yang tertarik diminta segera mendaftar sesuai dengan keahlian dan latar belakang pendidikan. Selanjutnya, Kemenaker akan melakukan proses seleksi. Para peserta akan mengikuti pelatihan di balai-balai vokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kemenaker juga menyiapkan asrama bagi peserta dari luar daerah serta uang transport sebesar Rp20 ribu per hari selama mengikuti pelatihan.
“Kalau untuk pelatihan kita sesuai dengan Kepmen ya, bahwa uang sakunya Rp20 ribu per hari. Itu untuk membantu mereka yang mengikuti pelatihan,” tambahnya.
Durasi pelatihan bervariasi, tergantung jenis program yang diikuti, mulai dari dua pekan, satu bulan, hingga tiga bulan. Harapan pemerintah adalah program ini bisa dioptimalkan sebagai alternatif bagi lulusan SMA dan SMK setelah lulus dari perguruan tinggi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi kerja lulusan SMA/SMK, sekaligus meningkatkan produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja agar siap memasuki dunia kerja.
Menurut dia, program ini mencakup penguatan hard skill dan soft skill, sejalan dengan visi pemerintah mewujudkan generasi emas 2045. “Program ini mengedepankan link and match, kurikulum pelatihan yang kuat dan dekat dengan dunia usaha ataupun industri, dan diharapkan lulusan bisa langsung sesuai dengan tuntutan pasar kerja,” katanya.
Airlangga menambahkan bahwa peserta juga akan memperoleh bantuan transportasi, jaminan keselamatan kerja (JKK), dan jaminan kematian (JKM). Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta akan mendapatkan sertifikasi berbasis BNSP.
“Kompetensinya berbasis BNSP. Dan pada pelatihan tertentu juga disediakan asrama bagi mereka yang mendaftar di luar kota,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan pelatihan dilaksanakan dalam tiga batch, masing-masing diikuti 20 ribu peserta. Program akan digelar di 33 unit pelaksana teknis balai pelatihan vokasi dan produktivitas serta satuan pelayanan Kemenaker di berbagai provinsi.
Bidang pelatihan yang tersedia antara lain teknologi informasi dan komunikasi, bisnis manajemen, pariwisata, fesyen atau tata busana, garmen, otomotif, hingga konstruksi. Pelatihan dilaksanakan secara luring, daring, dan hybrid melalui lebih dari 820 kelas pada 31 kejuruan.





