Perkembangan Ekonomi Sulawesi Selatan
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) masih menjadi perhatian utama bagi berbagai pihak. Bank Indonesia (BI) tetap optimis bahwa angka pertumbuhan ekonomi wilayah ini bisa mencapai lebih dari 6%, meskipun prediksi tahun ini hanya mencapai maksimal 5,8%. Jika tidak tercapai pada tahun 2026, maka capaian tersebut diharapkan bisa terwujud dalam beberapa tahun mendatang.
Secara historis, pertumbuhan ekonomi Sulsel sempat melampaui angka 6% sebelum pandemi. Pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,91%, sedangkan pada 2018, angka tersebut menembus 7,04%. Namun, situasi berubah setelah wabah Covid-19 mengganggu berbagai sektor ekonomi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menekankan pentingnya upaya dari pemangku kepentingan untuk mengakselerasi investasi agar kembali mencapai tingkat pertumbuhan sebelum pandemi. Ia menilai, pemerintah provinsi perlu memiliki aturan khusus yang mendorong penanaman modal tanpa hambatan. Dengan banyak potensi yang belum tergarap, waktu pengurusan izin investasi harus dipercepat.
Fokus pada Sektor Perikanan
Rizki menyoroti sektor perikanan sebagai fokus utama. Investasi yang belum optimal pada industri pengolahan perikanan bisa menjadi peluang besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut bahwa saat ini banyak pabrik manufaktur pengalengan berada di wilayah Jawa, padahal produksi perikanan Sulsel memiliki kualitas yang baik.
Oleh karena itu, ia menilai perlu adanya peningkatan pengadaan cool storage untuk mengawetkan ikan. Dengan demikian, kualitas produk bisa meningkat. Contohnya, industri pengolahan ikan seperti nugget, ikan asap, dan bakso perlu dikembangkan di Sulsel. Jika potensi ini bisa dimanfaatkan secara optimal, pertumbuhan ekonomi bisa lebih cepat.
Rekomendasi BI untuk Pemangku Kepentingan
Bank Indonesia merekomendasikan kepada pemangku kepentingan untuk melakukan perluasan hilirisasi mineral bernilai tambah tinggi. Hal ini bisa dilakukan melalui penguatan produk turunan strategis dan penerapan standar keberlanjutan agar daya saing industri meningkat.
Selain itu, diversifikasi struktur ekonomi daerah melalui pengembangan industri pengolahan berbasis pertanian dan sektor jasa produktif juga diperlukan. Tujuannya adalah memperluas sumber pertumbuhan ekonomi.
Mendorong Konsumsi Masyarakat
Dari sisi konsumsi masyarakat, Rizki mendorong penguatan daya beli dan pasokan pangan. Ini bisa dilakukan melalui penguatan distribusi antarwilayah dan mitigasi risiko cuaca ekstrem. Selain itu, penguatan pasar domestik dan ekosistem industri hilir diperlukan untuk mendorong permintaan domestik.
Perluasan jaringan distribusi, peningkatan keterjangkauan harga, serta penguatan rantai pasok menjadi langkah penting dalam memperkuat permintaan domestik.
Percepatan Belanja Pemerintah
Dari sisi belanja pemerintah, BI menilai realisasinya perlu dipercepat melalui frontloading belanja produktif dan percepatan belanja modal. Langkah ini bertujuan menjaga momentum permintaan domestik di awal tahun.
Selanjutnya, penguatan ketahanan fiskal daerah melalui optimalisasi PAD, peningkatan kualitas belanja, serta pemanfaatan skema pembiayaan alternatif seperti KPBU dan kerja sama pembiayaan dengan perusahaan lokal juga diperlukan.
Penutup
Terakhir, Rizki menekankan pentingnya pemerintah menjaga output sektor nikel dan industri pengolahan melalui koordinasi penyesuaian RKAB. Hal ini bertujuan agar transisi produksi terukur dan utilisasi smelter tetap optimal.





