Kenaikan Harga Minyak Global yang Mengancam Ekonomi Indonesia
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak global. Serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap fasilitas di Iran pada Sabtu (28/2/2026) meningkatkan ketegangan, yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak dunia. Selat Hormuz, jalur ekspor minyak strategis, juga ditutup oleh Iran, sehingga memperparah situasi.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai bahwa dalam jangka pendek, harga minyak akan melonjak secara signifikan. Ia mengingatkan PT Pertamina (Persero) untuk segera mengantisipasi kenaikan ini dan berkomunikasi dengan pemerintah.
“Bagaimana mitigasinya? Apakah harus ditanggung Pertamina, kemudian direimburse ke pemerintah dengan kenaikan pagu subsidi dalam APBN atau pemerintah dan DPR mengizinkan kenaikan BBM di tengah beratnya tekanan ekonomi. Pilihan yang sulit dan harus diputuskan pemerintah,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, Hadi menyarankan pemerintah untuk membuat program konversi BBM ke gas. Menurutnya, sumber daya gas Indonesia jauh lebih besar dibanding minyak. Selain itu, gas lebih efisien dan lebih bersih dari minyak dalam menghasilkan emisi karbon.
“Konversi BBM ke gas dapat mengurangi ketergantungan impor minyak dan BBM dari luar negeri. Menghemat devisa dan subsidi negara,” katanya.
Hadi juga menyatakan bahwa eskalasi perang saat ini lebih serius dibandingkan sebelumnya. Selat Hormuz dilewati 20% ekspor minyak dunia dan 30% ekspor LNG. Prediksi harga minyak akan naik signifikan karena ketidakpastian pasokan dari negara-negara teluk.
Ia menilai harga BBM dalam negeri pun berpotensi naik. Pasalnya, Indonesia masih melakukan impor minyak mentah sekitar 1 juta barel per hari (bph). Namun, mekanisme kenaikan BBM ini harus persetujuan pemerintah. Jadi, walau crude impor naik, tidak serta merta secara langsung Pertamina menaikkan BBM tanpa persetujuan pemerintah.
Perlu Efisiensi Anggaran untuk Menghadapi Kenaikan Harga Minyak
Sementara itu, pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menyoroti pentingnya efisiensi anggaran pemerintah dalam menghadapi kenaikan harga minyak global. Ia menilai, pemerintah perlu memutar otak untuk mengalihkan anggaran lain guna mendanai subsidi energi.
Harga minyak melonjak tajam pada Senin (2/3/2026). Harga minyak Brent melonjak hingga 13% ke level sekitar US$82 per barel. Minyak Brent untuk kontrak Mei melompat 12% ke level US$81,37 per barel pada pukul 07.01 pagi waktu Singapura. Harga minyak tersebut telah melampaui patokan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian crude price (ICP) di APBN 2026, yakni US$70 per barel.
Yayan berpendapat, pemerintah perlu melakukan efisiensi di tengah belanja yang sangat besar seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), KDMP (Koperasi Desa Merah Putih), dan lain-lain. Dengan efisiensi ini, anggaran bisa dialihkan untuk subsidi energi, sehingga meringankan beban rakyat.
Langkah Strategis untuk Mengurangi Ketergantungan Impor
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan energi nasional, termasuk mengembangkan infrastruktur energi alternatif. Konversi BBM ke gas adalah salah satu solusi jangka panjang yang dapat dilakukan. Dengan demikian, ketergantungan terhadap impor minyak bisa dikurangi, sekaligus menghemat devisa negara.
Langkah-langkah ini diperlukan agar Indonesia tetap stabil dalam menghadapi fluktuasi harga minyak global. Dengan perencanaan yang matang dan kebijakan yang tepat, pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Kesimpulan
Kenaikan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi tantangan besar bagi pemerintah Indonesia. Untuk menghadapi situasi ini, diperlukan langkah-langkah strategis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Mitigasi kenaikan harga minyak, efisiensi anggaran, serta pengembangan energi alternatif menjadi prioritas utama. Dengan komitmen dan kerja sama yang kuat, Indonesia dapat menghadapi tantangan ini dengan lebih baik.





