Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat, Antisipasi Dampak Perang AS-Iran

Aa1vyma4 1
Aa1vyma4 1



JAKARTA – Pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global yang disebabkan oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam pernyataannya, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Kementerian Keuangan untuk memastikan kesiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam meredam dampak dari konflik tersebut, khususnya pada sektor energi dan pangan.

“Fokus utama adalah menjaga daya beli masyarakat jika terjadi fluktuasi harga komoditi, terutama energi di tingkat global,” ujar Haryo.

Menurutnya, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini bertujuan untuk memastikan agar daya beli masyarakat tetap stabil dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri tidak terganggu. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyaluran bantuan pangan berupa 10 kg beras dan 2 liter minyak goreng kepada 35,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Penyaluran bantuan ini juga dipercepat untuk memastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi.

Selain itu, pemerintah juga akan mengeluarkan kebijakan lanjutan dalam momentum hari raya Idulfitri. Langkah-langkah ini diharapkan menjadi fondasi ekonomi yang kuat untuk mendorong roda konsumsi domestik di tengah situasi yang tidak pasti.

Haryo juga menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, posisi cadangan devisa per Januari 2026 mencapai US$ 154,6 miliar, yang relatif aman sebagai instrumen untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, Pertamina telah memberikan jaminan bahwa stok BBM dan LPG nasional dalam kondisi aman untuk kebutuhan selama periode Ramadan dan Idulfitri. Berdasarkan pengalaman sebelumnya tahun 2025, Pertamina telah menyiapkan beberapa alternatif jalur pelayaran lain guna menjaga keberlangsungan rantai pasok minyak dan menjaga kestabilan harga BBM dalam negeri.

“Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan kami akan terus memonitor situasi dari waktu ke waktu dan mengambil kebijakan yang diperlukan demi kepentingan masyarakat,” tambah Haryo.

Saat ini, operasi militer Israel bersama Amerika Serikat di Iran masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump memperkirakan operasi ini akan berlangsung selama empat pekan atau mungkin lebih singkat. AS akan terus menyerang Iran sampai semua tujuannya tercapai.

Iran pun menyatakan akan membalas setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah tokoh penting Iran tewas. Tiga tentara AS dilaporkan tewas, dan Trump akan membalaskan kematian mereka.

“Kami perkirakan ini akan memakan waktu sekitar empat minggu. Sekuat apa pun Iran, Amerika adalah negara besar. Bisa empat minggu atau kurang. Operasi tempur akan berlanjut dengan kekuatan penuh sampai semua tujuan kami tercapai,” kata Trump, Minggu (1/3/2026) waktu setempat.

Pos terkait