Pemerintah Libatkan Seniman dalam Penyusunan Kebijakan Budaya Daerah

Aa1xng5g
Aa1xng5g



JAKARTA — Upaya pemajuan kebudayaan Indonesia saat ini tengah memasuki fase baru yang menekankan dua aspek utama: penguatan dasar kebijakan di tingkat pusat dan pelestarian tradisi lokal yang berdampak ekonomi di daerah.

Sinergi antara suara seniman dalam perencanaan pembangunan serta dukungan nyata pemerintah terhadap festival rakyat menjadi kunci keberlanjutan ekosistem budaya nasional. Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa penyusunan Dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) tidak boleh hanya menjadi rutinitas administratif. Staf Khusus Menteri Kebudayaan, Annisa Rengganis, menyamakan seniman sebagai pihak yang paling memahami “penyakit” dalam ekosistem budaya. Tanpa partisipasi mereka, kebijakan publik berisiko salah diagnosis dan tidak relevan dengan kebutuhan lapangan.

Untuk menjembatani kesenjangan antara pelaku seni dan birokrasi, Koalisi Seni meluncurkan buku panduan strategis berjudul “PDKT sama PPKD: Kiat Sukses Seniman Intervensi Kebijakan Seni”. Buku ini bertujuan memberdayakan seniman agar mampu melakukan advokasi bottom-up, memastikan suara mereka tidak hilang saat isu kebudayaan bersaing dengan sektor lain dalam perencanaan anggaran di Bappeda maupun Kementerian Dalam Negeri.

Festival Sahur-Sahur: Manifestasi Budaya yang Berdaya

Implementasi nyata dari pelestarian budaya yang partisipatif terlihat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Festival Sahur-Sahur ke-23 tahun 2026 kini bukan lagi sekadar tradisi membangunkan warga, melainkan aset nasional yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN).

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menunjukkan komitmen kuat dengan mengucurkan total dukungan senilai Rp100 juta untuk pelaksanaan tahun ini. Beliau bahkan menargetkan peningkatan bantuan hingga Rp200 juta pada tahun 2027 mendatang. Langkah ini diambil karena festival yang menonjolkan perkusi tradisional tersebut terbukti menjadi magnet wisata religi yang mampu menggerakkan ekonomi pelaku UMKM melalui Ramadan Fair.

Sinergi Tradisi dan Modernisasi

Bupati Mempawah, Hj. Erlina, mengapresiasi pengakuan nasional terhadap tradisi Sahur-Sahur yang telah melalui proses pengusulan panjang. Baginya, tantangan terbesar adalah melibatkan generasi muda agar kearifan lokal ini tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Beberapa langkah penting dilakukan untuk menjaga kelangsungan tradisi ini. Misalnya, program pendidikan budaya di sekolah-sekolah setempat, pelibatan seniman muda dalam penyelenggaraan festival, serta kolaborasi dengan lembaga-lembaga budaya untuk menciptakan inovasi yang tetap menjaga nilai-nilai tradisional.

Secara keseluruhan, keterkaitan antara panduan kebijakan PPKD yang inklusif dengan dukungan finansial pada festival daerah seperti di Mempawah mencerminkan visi besar pembangunan mental bangsa. Ketika seniman diberi ruang untuk mengintervensi kebijakan dan tradisi lokal diberi panggung yang layak, kebudayaan Indonesia tidak hanya akan bertahan sebagai identitas, tetapi juga tumbuh menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat yang harmonis.

Tantangan dan Peluang

Meskipun ada banyak kemajuan, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kurangnya koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat dalam hal alokasi anggaran. Selain itu, adanya tekanan dari sektor lain yang sering kali mengalahkan prioritas budaya dalam perencanaan anggaran.

Namun, dengan adanya buku panduan strategis dan kerja sama yang lebih baik antara seniman, pemerintah, dan masyarakat, peluang untuk memperkuat ekosistem budaya semakin terbuka. Dengan begitu, kebudayaan Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Pos terkait