Pemerintah: Pemangkasan Produksi Nikel Tidak Pengaruhi Industri EV

Aa1wemhu
Aa1wemhu

Peran Nikel dalam Industri Baterai Kendaraan Listrik



Pengurangan produksi nikel di Indonesia tidak dianggap akan memberikan dampak signifikan terhadap industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Hal ini karena sebagian besar nikel yang diproduksi, baik secara global maupun domestik, digunakan untuk industri baja tahan karat (stainless steel) dan bukan sebagai bahan utama dalam baterai.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, menjelaskan bahwa kontribusi nikel untuk baterai kendaraan listrik relatif kecil dibandingkan sektor lainnya. Ia menegaskan bahwa tidak semua nikel yang ada di Indonesia digunakan untuk membuat baterai. Banyak dari hasil produksi tersebut justru digunakan dalam pembuatan besi.

“Tidak ada pengaruhnya. Nikel di Indonesia itu tidak semuanya dibuat baterai. Banyaknya dibuat besi. Jadi kecil persentase buat baterainya,” ujarnya kepada .co.id saat ditemui di kantornya pada Sabtu (14/2).

Ia merujuk pada data Nickel Institute, yang menyebutkan bahwa sekitar 65% penggunaan nikel global dialokasikan untuk produksi stainless steel, sementara hanya sekitar 18% digunakan untuk baterai. Sisanya digunakan untuk campuran logam lain dan berbagai kebutuhan industri lainnya.

Tren Teknologi Baterai EV Mengurangi Ketergantungan pada Nikel

Selain itu, tren teknologi baterai kendaraan listrik saat ini juga menunjukkan bahwa tidak semua baterai EV menggunakan nikel sebagai bahan utama. Dominasi baterai lithium iron phosphate (LFP) telah mengurangi ketergantungan pada nikel.

Rachmat menjelaskan bahwa sebagian besar kendaraan listrik saat ini menggunakan baterai LFP, yang tidak membutuhkan nikel. Ia menambahkan bahwa baterai nikel lebih cocok untuk negara-negara dengan musim dingin karena kapasitasnya besar dan tahan suhu dingin, tetapi harganya lebih mahal.

“Baterai nikel itu bagus buat negara-negara yang musim dingin karena kapasitasnya besar dan tahan suhu dingin, tapi harganya mahal. Kalau Indonesia butuh yang murah, tidak tahan dingin tidak apa-apa karena kita tidak ada salju,” ujarnya.

Menurut data International Energy Agency, distribusi baterai EV global menunjukkan penggunaan baterai LFP terus meningkat. Secara global, pangsa baterai LFP meningkat dari 37% pada 2022 menjadi 50% pada 2024. Sebaliknya, baterai berbasis nikel, terutama kategori high-nickel, cenderung mengalami penurunan pangsa pasar.

Dominasi baterai LFP bahkan lebih kuat di Cina, yang merupakan pasar EV terbesar dunia, dengan pangsa mencapai sekitar 75% pada 2024. Sementara itu, baterai berbasis nikel masih dominan di Eropa dan Amerika Serikat, terutama untuk kendaraan premium yang membutuhkan jarak tempuh lebih jauh.

Produksi Nikel Indonesia yang Dominan Namun Tidak Terlalu Digunakan untuk Baterai

Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 50% dari total produksi global. Dari sisi cadangan, Indonesia juga memiliki sekitar 55 juta metrik ton nikel atau sekitar 52% dari total cadangan dunia, berdasarkan data Kementerian ESDM yang mengacu pada USGS 2024.

Cadangan tersebut bahkan melampaui Australia, serta jauh di atas negara lain seperti Brasil dan Rusia. Namun, serapan domestik nikel untuk industri kendaraan listrik masih terbatas. Hal ini karena industri otomotif nasional masih relatif kecil dibandingkan skala produksi nikel nasional.

“Produksi mobil Indonesia itu cuma 2% dari dunia. Jadi nikel Indonesia itu lebih banyak diekspor. Serapan pasar mobil pun cuma 2%, itu juga kalau semua pakai baterai nikel, padahal tidak semuanya,” ujar Rachmat.

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar produksi nikel Indonesia tetap akan diarahkan ke pasar ekspor, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri baja tahan karat dan manufaktur global. Rachmat menekankan bahwa yang lebih penting saat ini adalah memastikan keberlanjutan penyerapan produksi nikel Indonesia di pasar global.

“Yang perlu kita pastikan nikel kita bisa diserap. Karena memang sebagian besar akan tetap diekspor,” ujarnya.

Pos terkait