Pemerintah yakin ekonomi RI kuat di tengah ketegangan Iran vs AS-Israel

Aa1xlhl5
Aa1xlhl5

Pemerintah Memantau Dampak Geopolitik terhadap Rantai Pasok Global

Pemerintah Indonesia sedang memperhatikan meningkatnya risiko gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik antara Iran dan AS-Israel yang berpotensi menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Meskipun demikian, pemerintah menilai bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menjadi penyangga di tengah ketidakpastian global.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengatakan bahwa pemerintah terus memantau dampak dari peristiwa geopolitik tersebut, khususnya terkait potensi gangguan pasokan energi, minyak bumi, serta volatilitas pasar keuangan dunia.

“Fundamental eksternal Indonesia tetap baik, yang tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut,” ujar Febrio dalam keterangan resmi, Senin (2/3).

Neraca Perdagangan Tetap Menguntungkan

Pada Januari 2026, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sebesar US$ 950 juta. Kinerja ini didukung oleh pertumbuhan ekspor yang mencapai US$ 22,16 miliar atau tumbuh 3,39% secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama berasal dari ekspor nonmigas.

Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan sebesar 8,19% (yoy), yang dipengaruhi oleh komoditas bernilai tambah seperti minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta produk manufaktur otomotif dan elektronik.

Adapun impor pada periode yang sama juga meningkat sebesar 18,21% (yoy) menjadi US$21,20 miliar. Peningkatan ini didominasi oleh bahan baku dan barang modal, yang menjadi cerminan aktivitas produksi dan investasi domestik yang terus meningkat.

Indikator Domestik Menunjukkan Ketahanan Ekonomi

Selain itu, indikator-indikator domestik menunjukkan ketahanan ekonomi nasional. Kinerja manufaktur nasional tetap ekspansif dengan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026, yang merupakan angka tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan permintaan baru dan pertumbuhan produksi yang signifikan.

Dari sisi konsumsi, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 tumbuh sebesar 7,9% (yoy), didukung oleh peningkatan penjualan makanan dan minuman, sandang, serta meningkatnya mobilitas masyarakat. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level optimis sebesar 127, yang dinilai sebagai cerminan terjaganya optimisme konsumen.

Stabilitas Harga Masih Terkendali

Meski ada tekanan global yang berpotensi mempengaruhi stabilitas harga, pemerintah menilai bahwa tekanan harga secara fundamental masih terkendali. Inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% (yoy), namun dengan mengabaikan dampak kebijakan diskon listrik pada awal 2025, inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,59%.

“Secara fundamental, tekanan harga tetap terkendali dan diperkirakan kembali normal mulai Maret 2026,” kata Febrio.

Kebijakan untuk Menjaga Ketahanan Ekonomi

Untuk menjaga ketahanan ekonomi ke depan, pemerintah akan terus mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara hati-hati, termasuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% dari PDB.

Selain itu, bauran kebijakan akan diperkuat melalui beberapa langkah, antara lain:

  • Percepatan hilirisasi sumber daya alam, yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas lokal.
  • Peningkatan daya saing ekspor bernilai tambah, dengan fokus pada produk-produk yang memiliki pangsa pasar yang luas.
  • Diversifikasi mitra dagang, guna meredam dampak ketegangan perdagangan dan geopolitik global yang semakin kompleks.

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional meski di tengah tantangan global yang terus berkembang.

Pos terkait