TEHERAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pemimpin tertinggi baru kemungkinan akan dipilih dalam satu atau dua hari ke depan. Iran telah memulai masa berkabung selama 40 hari setelah gugurnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Araghchi menjelaskan bahwa mekanisme konstitusional suksesi sudah mulai berjalan. Ia mengatakan bahwa dewan transisi telah dibentuk, yaitu sebuah badan yang terdiri dari tiga orang: presiden, kepala lembaga peradilan, dan seorang ahli hukum dari Dewan Penjaga Konstitusi. Badan ini akan bertindak sebagai penanggung jawab kepemimpinan sementara sebelum pemimpin baru terpilih.
“Saya berasumsi bahwa prosesnya akan memakan waktu singkat. Mungkin dalam satu atau dua hari, mereka akan memilih pemimpin baru untuk negara ini,” ujar Araghchi, merujuk pada badan terpisah yang bertugas mengemban tanggung jawab tersebut.
Presiden Masoud Pezeshkian pada Ahad (2/3/2026) mengonfirmasi bahwa dewan tersebut telah memulai pekerjaannya. Dalam pidato yang direkam sebelumnya dan disiarkan di televisi pemerintah Iran, ia juga mengutuk pembunuhan Khamenei sebagai “kejahatan besar” dan menyatakan tujuh hari libur nasional bersamaan dengan masa berkabung.
Khamenei, yang berusia 86 tahun, dibunuh pada hari Sabtu dalam gelombang serangan AS-Israel di seluruh negeri yang menewaskan sedikitnya 201 orang secara total. Di antara yang tewas terdapat tokoh-tokoh keamanan senior dan anggota keluarga Khamenei sendiri: putrinya, menantunya, dan cucunya.
Proses pemilihan pengganti Khamenei diatur dalam konstitusi Iran. Majelis ulama yang terdiri dari 88 anggota, yang dipilih oleh masyarakat, memiliki wewenang untuk menunjuk pemimpin tertinggi baru dengan suara mayoritas sederhana.
Terakhir kali proses ini dipicu adalah pada tahun 1989, ketika Khamenei yang relatif masih muda diangkat ke posisi tersebut setelah kematian bapak pendiri revolusi, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Siap membalas
Araghchi menyebut pembunuhan Khamenei sebagai suatu peristiwa yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya dan pelanggaran besar terhadap hukum internasional. Dia memperingatkan bahwa hal itu telah membuat konflik “menjadi lebih berbahaya dan lebih rumit”.
Ia mengatakan bahwa Khamenei bukan hanya pemimpin politik Iran, tetapi juga “pemimpin agama berpangkat tinggi bagi jutaan umat Muslim, bahkan di luar Iran, di seluruh wilayah”, merujuk pada protes yang meletus di Irak, Pakistan, dan tempat lain di mana pemimpin tersebut memiliki pengikut.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyuarakan kemarahan itu dalam pidato yang disiarkan televisi, dengan mengatakan, “Kalian telah melanggar garis merah kami dan harus membayar harganya”, dan menambahkan bahwa Iran akan “memberikan pukulan yang begitu dahsyat sehingga kalian sendiri akan terpaksa mengemis”.
Perang tidak berakhir
Araghchi bersikap menantang ketika ditanya tentang posisi militer Iran, menolak anggapan bahwa serangan AS-Israel telah mencapai tujuannya meskipun pemimpin negara itu tewas. “Tidak ada kemenangan dalam perang ini. Mereka belum mampu mencapai target mereka, dan mereka tidak akan mampu mencapai target mereka dalam beberapa hari mendatang,” katanya kepada Al Jazeera.
Dengan membandingkannya dengan perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu, yang sempat diikuti oleh AS, Araghchi mengatakan bahwa AS dan Israel “berharap bahwa dalam dua atau tiga hari Iran akan menyerah. Tetapi butuh 12 hari bagi mereka untuk memahami bahwa Iran tidak akan menyerah, dan bahwa mereka tidak punya pilihan selain meminta gencatan senjata tanpa syarat. Saya tidak melihat perbedaan antara kali ini dan sebelumnya.”
Pembalasan yang mungkin
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa setiap pembalasan hanya akan menyebabkan eskalasi lebih lanjut. Wawancara oleh Aragchi diberikan ketika serangan Iran meluas di seluruh Teluk untuk hari kedua berturut-turut, dengan serangan dilaporkan di Dubai, Doha, Manama, dan pelabuhan Duqm di Oman.
“Apa yang terjadi di Oman bukanlah pilihan kami. Kami telah memberi tahu angkatan bersenjata kami untuk berhati-hati dalam memilih target,” kata Araghchi, menambahkan bahwa tentara Iran bertindak berdasarkan instruksi umum.
Araghchi berupaya menjauhkan Iran dari anggapan bahwa negara-negara tetangganya adalah target utama, dan menegaskan bahwa ia telah menjalin kontak langsung dengan rekan-rekan regional sejak pertempuran dimulai. Ia mengakui bahwa sebagian orang “tidak senang”, sementara yang lain “bahkan marah”. Namun, menteri luar negeri Iran itu tidak meminta maaf.
“Ini adalah perang yang dipaksakan kepada kita oleh Amerika Serikat dan Israel,” katanya. “Saya berharap mereka memahami bahwa apa yang terjadi di wilayah ini bukanlah kesalahan kita, itu bukan pilihan kita.”
“Mereka (mitra Teluk) seharusnya tidak menekan kami untuk menghentikan perang ini. Mereka seharusnya menekan pihak lain.”





