Tindakan Diplomatik Iran Pasca Kematian Pemimpinnya
Pemerintah Iran mengambil langkah diplomatik yang tegas setelah kematian tokoh utamanya, Ayatollah Seyed Ali Khamenei. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara resmi mengirimkan surat protes keras kepada Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal PBB serta kepada Dewan Keamanan PBB.
Surat yang dikirim pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat itu berisi tudingan langsung terhadap Amerika Serikat dan Israel. Araghchi menyatakan bahwa kedua negara tersebut bertanggung jawab penuh atas serangan 28 Februari yang menewaskan tokoh tertinggi Iran itu. Bagi Teheran, insiden tersebut bukan sekadar operasi militer biasa. Iran menilainya sebagai bentuk terorisme negara yang dilakukan secara sistematis.
“Serangan ini membawa konsekuensi yang sangat dalam dan luas.”
“Tanggung jawab penuh atas dampak yang terjadi sepenuhnya berada di tangan para pelaku,” tegas Araghchi dalam pernyataan resminya yang dikutip dari WANA News.
Dalam suratnya, Araghchi juga menilai serangan itu merupakan pelanggaran nyata terhadap Pasal 2 (4) Piagam PBB. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut telah mencederai prinsip kesetaraan kedaulatan negara serta imunitas kepala negara yang dilindungi hukum internasional. Menurutnya, dunia tidak boleh membiarkan preseden semacam ini terjadi tanpa respons tegas.
“Menargetkan pejabat tertinggi negara yang merdeka adalah tindakan pengecut dan tidak dapat dibenarkan.”
“Ini menciptakan preseden buruk dan berbahaya dalam diplomasi serta kedaulatan bangsa-bangsa di dunia,” tambahnya.
Serangan Israel Meluas ke Lebanon
Militer Israel dilaporkan meluncurkan gelombang serangan udara besar-besaran ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Senin (2/3/2026) dini hari. Langkah ini diambil Israel sebagai respons atas hujan rudal dan drone yang dilepaskan kelompok Hizbullah ke wilayah mereka. Hizbullah mengklaim serangan tersebut merupakan aksi balas dendam atas tewasnya Khamenei.
Eskalasi ini menandai babak baru konflik yang kian meluas, menyeret Lebanon kembali ke pusaran perang regional. Mengutip Reuters, saksi mata melaporkan setidaknya ada belasan ledakan hebat yang menggetarkan ibu kota Lebanon tersebut. Serangan yang dimulai sekitar pukul 02.40 waktu setempat itu menyasar distrik Dahiyeh, basis pertahanan kuat Hizbullah.
Suasana mencekam menyelimuti kota saat ribuan warga berusaha menyelamatkan diri. Jalan-jalan utama Beirut seketika macet total oleh kendaraan penduduk yang mengungsi, sementara sebagian lainnya terpaksa melarikan diri dengan berjalan kaki di bawah bayang-bayang kepulan asap hitam.
Kepala Staf Umum IDF, Eyal Zamir, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam atas keterlibatan Hizbullah dalam konflik ini. “Hizbullah telah membuka front pertempuran melawan Israel semalam.”
“Mereka memikul tanggung jawab penuh atas segala bentuk eskalasi yang terjadi saat ini,” tegas Zamir dalam keterangan resminya.
Hingga berita ini diturunkan, militer Israel telah memerintahkan evakuasi massal bagi warga di lebih dari 50 desa di wilayah selatan dan timur Lebanon. Hal ini mengisyaratkan bahwa serangan udara kemungkinan akan terus berlanjut dan bahkan meluas ke operasi darat.

Konflik yang awalnya terpusat pada ketegangan Israel-Iran kini resmi merembet ke Lebanon, memicu kekhawatiran dunia internasional akan terjadinya perang terbuka yang jauh lebih besar di kawasan Mediterania.





