Sejarah Pempek Panggang Legendaris Curup
Di tengah hiruk-pikuk kota Curup, Rejang Lebong, Bengkulu, terdapat satu rasa yang tak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu. Rasa itu menghadirkan kenangan masa kecil, menemani langkah pulang para perantau, dan menjadi penanda bahwa rumah selalu punya cara sederhana untuk dikenang.
Pempek panggang legendaris Curup telah bertahan sejak 1983, setia menjaga rasa dan cerita lintas generasi. Saat menyambangi lokasi ini pada petang hari, asap tipis dari bara arang mengepul perlahan. Aroma khas pempek panggang menyergap udara sore Curup, menghadirkan suasana yang akrab bagi siapa pun yang pernah tumbuh di kota ini.
Bagi warga Curup dan para perantau, jajanan ini bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari ingatan masa kecil, teman sepulang sekolah, hingga sajian pembuka yang selalu dicari setiap kali kembali dari rantau. Sejak 1983, jajanan sederhana ini menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak orang. Bukan sekadar makanan ringan, melainkan simbol ketekunan dan warisan keluarga yang terus dijaga lintas generasi.
Dirintis dari Gerobak Sederhana Sejak 1983
Pempek Panggang Legend ini pertama kali dirintis pada tahun 1983 di kawasan Setia Negara, Curup. Saat itu, pempek panggang ini dijajakan menggunakan gerobak sederhana di sekitar Lapangan Setia Negara, Curup. “Dulu pertama kali jualan tahun 1983. Harganya masih Rp 50 per-satunya. Jualannya di sekitar Lapangan Setia Negara,” kata Eka, salah satu anak perintis Pempek Panggang Legend kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).
Kemudian, sejak awal 2000-an, usaha ini dilanjutkan oleh 4 anak almarhum pendirinya. Salah satunya adalah Eka, yang mulai berjualan sejak tahun 2004. Seiring waktu, lokasi berjualan sempat berpindah-pindah dan terus berkembang. Meski demikian, cita rasa asli tetap dijaga. Resep adonan dan racikan khas warisan orang tua tersebut tetap dipertahankan oleh keempat anaknya.
Setelah melalui beberapa perpindahan lokasi, usaha tersebut akhirnya menetap di Jalan Kartini, tepat di depan Masjid Al Jihad. Selain Eka, anggota keluarga lainnya juga turut mengembangkan usaha serupa. Di antaranya Pempek Panggang Legend Cik Leni yang berada di kawasan Setia Negara, Curup, serta Pempek Panggang Legend Cik Oni di kawasan Tebing STM yang mulai beroperasi sekitar tahun 2011.
Bertahan Lewat Konsistensi Rasa
Dengan harga Rp 1.500 per buah, pempek panggang ini tergolong ramah di kantong. Dalam kondisi normal, Eka mengaku mampu menjual hingga 800 potong pempek per hari. “Kalau momen tertentu seperti Lebaran atau Tahun Baru, paling banyak bisa sampai 1.500 potong sehari,” ungkapnya.
Pada bulan Ramadan, usaha ini tetap beroperasi dengan menyesuaikan waktu pembeli yang mencari takjil untuk berbuka puasa. Jumlah pembeli pun disebut tidak mengalami penurunan. Menjelang waktu berbuka, kawasan ini selalu ramai oleh pembeli yang rela mengantre demi menikmati pempek panggang dalam kondisi masih panas.
Menurut Eka, tantangan terberat justru terjadi pada masa awal memperkenalkan pempek panggang kepada masyarakat. Namun, konsistensi rasa membuat usaha ini mampu bertahan hingga lebih dari empat dekade. “Banyak suka dukanya. Tapi saya tetap semangat karena ini usaha orang tua. Kami ingin terus lanjutkan,” katanya.
Dari Curup ke Bengkulu, hingga Jadi Oleh-oleh
Kini, pempek panggang tersebut tidak hanya dikenal di Curup. Usaha ini telah membuka cabang di Kota Bengkulu dan menerima pesanan untuk berbagai acara. Pempek panggang ini juga kerap menjadi oleh-oleh khas yang dibawa para perantau saat kembali ke daerah masing-masing.
“Sering juga, biasanya kalau untuk oleh-oleh itu setengah matang dibuatnya,” ungkap Eka. Sejumlah figur publik juga diketahui pernah mencicipi jajanan ini. Di antaranya artis muda asal Curup, Rey Bong, serta artis Nikita Mirzani.
Obat Rindu bagi Para Perantau
Bagi banyak perantau, pempek panggang ini menjadi daftar pertama yang dicari saat tiba di Curup. Septiani, mahasiswi yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta, mengaku selalu menyempatkan diri membeli pempek panggang setiap pulang kampung. “Saya sudah suka sejak SMP. Rasanya khas dan belum tergantikan. Kalau lagi di Jogja, salah satu wishlist saat pulang ya pempek panggang ini,” ujarnya.
Menurut Septiani, rasa pempek panggang Curup memiliki ciri khas yang sulit ditemukan di daerah lain. Hal senada disampaikan Razik, pembeli lainnya. Ia mengaku menyukai rasa pedas yang pas dan tidak berlebihan. “Pedasnya itu pas. Ada khasnya, beda dari yang lain,” katanya.
Ikon Kuliner di Titik Strategis Kota
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Curup, mencicipi pempek panggang ini menjadi pengalaman kuliner yang mudah dijangkau. Lokasinya berada di sekitar Lapangan Setia Negara, dekat Masjid Al Jihad, hingga kawasan Tebing STM. Di tengah perkembangan kuliner modern, Pempek Panggang Legendaris Curup tetap bertahan dengan konsep sederhana. Tanpa kemasan mewah dan tanpa promosi berlebihan. Yang dijaga hanya satu hal: rasa.
Dan selama 43 tahun, rasa itulah yang membuat pempek panggang ini tetap hidup di hati warga Curup dan para perantau yang selalu ingin kembali.





