Pemuda Masjid Dunia Minta RI dan OKI Redam Perang Timur Tengah

Aa1xow15 2
Aa1xow15 2

Presiden Pemuda Masjid Dunia Minta Tindakan Konkret untuk Cegah Konflik di Timur Tengah

Presiden Pemuda Masjid Dunia, Said Aldi Al Idrus, menyerukan agar Indonesia dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengambil langkah konkret untuk mencegah konflik di Timur Tengah meluas. Hal ini menyusul laporan serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Said menilai bahwa eskalasi konflik ini berpotensi menyeret lebih banyak negara ke pusaran perang terbuka, serta mengguncang stabilitas global, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.

Jalur Diplomasi Perlu Diintensifkan

Said meminta jalur diplomasi diintensifkan melalui OKI dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), guna mencegah konflik semakin meluas. Ia menekankan bahwa jika konflik ini terus bereskalasi, dampaknya tidak hanya akan terasa secara regional, tetapi juga global—termasuk terhadap stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan internasional.

Menurutnya, tragedi ini bisa menjadi momentum refleksi global untuk menata ulang arsitektur keamanan internasional, agar lebih adil dan berorientasi pada perlindungan manusia, bukan sekadar kepentingan geopolitik.

Mencederai Nilai Kemanusiaan

Said mengecam keras serangan yang terjadi bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 H. Menurutnya, serangan tersebut bukan hanya menyasar simbol kepemimpinan sebuah negara berdaulat, tetapi juga mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal.

“Serangan ini bukan sekadar operasi militer. Ini tindakan yang mengancam fondasi perdamaian dunia. Apalagi dilakukan di bulan yang disucikan umat Islam,” ujarnya.

Said juga menyinggung peran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dinilai telah melanggar kedaulatan wilayah negara lain, serta memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Menurut Said, pembunuhan terhadap seorang pemimpin negara melalui serangan militer terbuka, berpotensi menjadi preseden berbahaya dalam tata hubungan internasional.

Melanggar Prinsip Hukum Internasional

Usai bertemu Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, Said menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan setiap negara. Ia menyebut tindakan militer sepihak sebagai bentuk pengingkaran terhadap prinsip hukum internasional dan Piagam PBB.

“Apapun dalihnya, penggunaan kekuatan bersenjata yang menghilangkan nyawa dan menghancurkan infrastruktur sipil adalah kemunduran peradaban. Dunia harus mengedepankan dialog, bukan dominasi militer,” tegasnya.

Ia juga menyoroti dampak kemanusiaan dari serangan tersebut. Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, kerusakan tidak hanya terjadi pada fasilitas militer, tetapi juga di sejumlah wilayah strategis di Iran, termasuk Teheran. Korban sipil dilaporkan berjatuhan dan ribuan warga mengungsi.

Langkah-Langkah yang Diperlukan

  • Peningkatan koordinasi antar lembaga internasional

    Penting bagi organisasi seperti PBB dan OKI untuk meningkatkan koordinasi dan mempercepat proses diplomasi. Dengan kolaborasi yang kuat, potensi konflik dapat diminimalkan.

  • Kemajuan dalam dialog diplomatik

    Negara-negara terlibat harus duduk bersama untuk mencari solusi damai. Dialog yang transparan dan inklusif dapat membantu mencegah eskalasi konflik.

  • Peningkatan kesadaran kemanusiaan

    Masyarakat internasional perlu lebih sadar akan dampak kemanusiaan dari tindakan militer. Setiap tindakan harus diimbangi dengan pertimbangan etika dan moral.

  • Penguatan prinsip hukum internasional

    Hukum internasional harus dipatuhi oleh semua pihak. Tidak ada negara yang boleh melanggarnya tanpa konsekuensi.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan dunia dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan harmonis, serta menjaga stabilitas global.

Pos terkait