Pemuda Asal Sinjai yang Memilih Jadi Petani
Di tengah banyaknya generasi muda yang mengidamkan pekerjaan sebagai pegawai negeri atau bekerja di perusahaan besar, Burhan Sj justru memilih jalan hidup sebagai petani. Pemuda asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, ini menunjukkan bahwa profesi petani tidak selalu identik dengan kesulitan dan ketidakpastian. Justru, ia merasa lebih tenang dan bahagia dalam menjalani kehidupan sebagai petani.
Burhan lahir pada 8 Juni 1994 dan merupakan anak kedua dari pasangan Bahtiar dan Muluati. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan pertanian, sehingga tidak heran jika ia memiliki rasa cinta terhadap bidang pertanian. Ia juga lulusan sarjana pertanian, yang membuatnya semakin yakin untuk memilih jalur petani.
“Pertama karena saya lahir dari keluarga petani. Selain itu, orangtua juga punya lahan dan saya lulusan sarjana pertanian,” ujarnya.
Menurut Burhan, menjadi petani memberinya ketenangan yang tidak ditemukan di pekerjaan lain. Ia menyebutkan bahwa profesi ini memberinya kebebasan tanpa tekanan jam kerja seperti di kantor pemerintahan atau BUMN.
“Tidak ada tekanan jam kerja seperti di kantor pemerintahan atau BUMN,” katanya.
Ia menilai kebebasan adalah nilai utama dalam profesi yang digelutinya saat ini. Menurutnya, menjadi petani lebih damai dan tenang dibanding pekerjaan lain.
“Enaknya jadi petani itu tenang, damai rasanya, dan yang paling utama adalah kebebasan,” lanjutnya.
Saat ini, Burhan fokus membudidayakan tanaman porang. Komoditas tersebut dinilai lebih efisien dan memiliki prospek pasar yang menjanjikan. Ia mengungkapkan bahwa porang tidak memerlukan banyak biaya perawatan setelah ditanam.
“Porang tidak memerlukan banyak biaya perawatan setelah ditanam,” jelasnya.
Selain biaya yang relatif ringan, proses pengolahan porang juga dinilai lebih mudah dengan harga jual yang cukup tinggi di pasaran.
“Porang lebih efisien. Setelah ditanam tidak memakan banyak biaya perawatan,” kata dia.
” Selain mudah pengolahannya, harganya juga mahal,” ujarnya.
Dalam setahun, Burhan mengaku mampu menghasilkan sekitar 10 ton porang. Dari hasil tersebut, omzet kotor yang diperoleh mendekati Rp100 juta per tahun.
“Sekitar 10 ton per tahun, tidak jauh dari Rp100 juta. Tapi itu masih kotor karena dibagi ke pekerja juga,” katanya.
Meski tidak seluruhnya menjadi pendapatan bersih, Burhan merasa cukup dengan hasil yang diperolehnya. Baginya, ketenangan dan kebebasan jauh lebih berharga dibanding pekerjaan dengan aturan ketat.
“Kalau kerja di perusahaan harus disiplin, rapi, dan masuk tepat waktu. Kalau petani bebas, mau kerja sesukanya dan tidak akan dipecat,” tuturnya.
Keuntungan Berkebun Porang
- Porang tidak memerlukan banyak biaya perawatan setelah ditanam.
- Proses pengolahan porang lebih mudah dibanding komoditas lain.
- Harga jual porang cukup tinggi di pasaran.
- Produksi porang mencapai sekitar 10 ton per tahun.
- Omzet kotor yang diperoleh mendekati Rp100 juta per tahun.
- Meskipun tidak sepenuhnya menjadi pendapatan bersih, hasil yang diperoleh cukup memadai.





