Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Mulai Diterapkan di Kota Jambi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan oleh pemerintah pusat mulai diterapkan di Kota Jambi. Namun, distribusi perdana di SMPN 7 Kota Jambi justru menimbulkan kritik dari sejumlah orangtua siswa.
Bukannya menerima nasi lengkap dengan lauk pauk sebagaimana harapan publik terhadap program pemenuhan gizi, para siswa hanya memperoleh paket makanan ringan yang dibungkus menggunakan tas keresek putih transparan.
Distribusi tahap awal pada 23–24 Februari 2026 mencakup tiga buah roti, satu kotak minuman sari kacang hijau, sebungkus kacang atom, sebungkus kacang polong goreng, satu buah jeruk, satu buah pisang, satu butir telur rebus, serta sekitar 10 butir kelengkeng untuk jatah dua hari.
“Baru dapat setelah sekian lama program diluncurkan, eh menunya malah begini. Ini bukan makan bergizi, ini snack box,” ujar seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya, Minggu (1/3/2026).
Distribusi berikutnya pada 25 Februari untuk jatah dua hari selanjutnya juga dinilai tidak jauh berbeda. Paket makanan berisi satu roti abon, tiga butir kurma, sebungkus kacang atom, sebungkus kacang kapri goreng, satu butir telur rebus, serta puding ubi tanpa minuman.
Sementara untuk jatah 26–27 Februari, siswa menerima enam butir anggur, tiga butir kurma, dua buah roti, dua kotak susu kemasan, satu butir telur rebus, dan sebungkus keripik tempe.
Pertanyaan dari Sisi Gizi dan Anggaran
Sejumlah orangtua mempertanyakan standar perhitungan gizi yang digunakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menentukan komposisi menu. Kekhawatiran semakin menguat karena sebagian siswa merupakan atlet sekolah dan pelajar berprestasi yang memiliki kebutuhan kalori lebih tinggi untuk menunjang aktivitas fisik maupun akademik.
“Saya tidak tahu bagaimana hitungannya, tapi kayaknya menu itu tidak cukup untuk memenuhi kalori anak saya yang atlet karate. Apalagi ini sudah memasuki Ramadan, kebutuhan gizinya harus tetap terjaga,” ujar seorang ayah siswa.
Tak hanya dari sisi nutrisi, nominal anggaran Rp15 ribu per porsi juga menjadi sorotan. Beberapa wali murid menilai isi paket makanan yang diberikan tidak mencerminkan nilai tersebut jika dihitung berdasarkan harga pasar.
“Menu seadanya, bungkusnya pakai keresek. Apa itu memenuhi syarat minimal Rp15 ribu per menu? Kalau dihitung-hitung di pasar, mungkin cuma Rp5–7 ribu,” kata Amin, salah satu orangtua siswa.
Harapan Evaluasi Menjelang Ramadan
Meski menyampaikan kekecewaan, sebagian besar orangtua memilih menerima kondisi tersebut dengan alasan program ini tidak dipungut biaya dari siswa. Namun demikian, mereka berharap ada evaluasi menyeluruh, terutama menjelang bulan suci Ramadan, di mana kualitas dan keseimbangan asupan gizi anak dinilai semakin krusial.
“Ya, mau gimana lagi. Sudah dapat gratis. Tapi semoga ke depan ada perbaikan,” ujar seorang ibu wali murid.
Program MBG sebelumnya digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi bagi pelajar sekaligus upaya menekan angka kekurangan gizi. Namun, implementasi di lapangan menunjukkan tantangan tersendiri, mulai dari kualitas menu, transparansi penganggaran, hingga pengawasan distribusi.
Publik kini menanti respons dan langkah evaluasi dari pihak terkait agar tujuan awal program menjamin asupan bergizi bagi siswa tidak melenceng dari harapan.





