Penelitian IPB Ungkap Potensi Besar Sagu di 7 Kecamatan SBT

Ipb 01 1
Ipb 01 1

Potensi Sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur Ditemukan oleh Tim Akademisi IPB

Tim akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menemukan potensi besar dari komoditas sagu di tujuh kecamatan di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Penelitian yang berlangsung selama tiga bulan ini dilakukan untuk mengkaji luasan, produksi, serta masalah yang dihadapi para petani. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan merumuskan strategi pengembangan sagu secara berkelanjutan.

Hasil dari penelitian ini dipresentasikan dalam Focus Group Discussion (FGD) laporan akhir potensi dan kekerabatan sagu. Acara tersebut digelar oleh Dinas Pertanian SBT di Pujasera Pantai Wailola, Bula, pada Senin (2/3/2026) malam.

Kepala Dinas Pertanian SBT, Sofyan Waraiya, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi luasan dan sebaran tanaman sagu di wilayah SBT. “Penelitian ini tidak hanya mengkaji tingkat produksi tanaman sagu, tetapi juga mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi petani dan pelaku usaha, sekaligus merumuskan rekomendasi strategi pengembangan komoditas sagu secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, sagu merupakan identitas sekaligus anugerah bagi masyarakat Maluku, khususnya di Pulau Seram. “Sagu adalah makanan pokok orang Maluku yang merupakan anugerah dari Allah SWT dan tidak terdapat di semua daerah di Indonesia. Khususnya di Maluku, sagu banyak tumbuh di Pulau Seram,” jelasnya.

Sofyan menambahkan bahwa sekitar 97 persen total luas lahan sagu di Maluku berada di wilayah Seram, termasuk di Kabupaten SBT. Karena itu, jika potensi tersebut dikelola secara maksimal, SBT dinilai mampu meningkatkan pendapatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan serta pemanfaatan sagu.

Berbagai Masalah yang Dihadapi Petani Sagu

Selama penelitian, tim akademisi IPB menemukan beberapa tantangan yang dihadapi petani sagu di SBT. Beberapa masalah utama antara lain:

  • Kurangnya akses ke teknologi dan infrastruktur yang memadai untuk meningkatkan produksi.
  • Keterbatasan pemahaman tentang manajemen usaha tani yang efisien.
  • Minimnya dukungan dari pemerintah daerah dalam bentuk program atau kebijakan yang mendukung pengembangan sagu.

Masalah-masalah ini menjadi fokus utama dalam FGD yang diadakan untuk merumuskan strategi pengembangan sagu yang lebih berkelanjutan.

Strategi Pengembangan Sagu Berkelanjutan

Berdasarkan hasil penelitian dan diskusi dalam FGD, beberapa strategi pengembangan sagu berkelanjutan disarankan, antara lain:

  • Meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan dan pendidikan tentang pengelolaan tanaman sagu.
  • Membangun sistem distribusi yang lebih efisien untuk memperluas pasar sagu.
  • Mengembangkan produk turunan sagu agar dapat meningkatkan nilai ekonomi.

Strategi-strategi ini diharapkan mampu membantu petani meningkatkan pendapatan mereka serta memperkuat ketahanan pangan di daerah.

Harapan untuk Masa Depan Sagu di SBT

Sofyan Waraiya berharap hasil FGD ini dapat menjadi dasar perumusan kebijakan dan program pengembangan sagu di Kabupaten SBT. Ia berharap dengan adanya kebijakan yang tepat, sagu dapat menjadi salah satu komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan daerah.


Pos terkait