Kehidupan Cinta yang Penuh Harapan dan Kekecewaan
Ferdi, pacar dari Farra Pramesti, yang menjadi korban pembacokan oleh selingkuhannya, mengungkapkan bahwa ia tetap setia mendampingi kekasihnya. Hubungan keduanya disebut sudah serius, bahkan telah membeli baju Lebaran secara berpasangan. Ia menulis pesan penuh perhatian kepada Farra, berharap agar ia segera pulih dan bisa merayakan Lebaran dengan baju baru yang mereka beli bersama.
“Sayang cepat sembuh yaa biar lebaran nanti kita pakai baju baru yg kamu pilih, bajunya baru sampai semalam loh sayang pas banget dengan kejadian itu, kamu ga mau pakai sayang kamu pasti cantik banget kalo pakai bajunya,” tulis Ferdi.
Selain itu, Ferdi juga mengungkapkan bahwa ia telah membelikan tiket agar Farra bisa pulang kampung saat Lebaran. “Kamu juga bilang bakal pulang ke Bintan sebelum lebaran jadi aku belikan tiket biar kamu pulang lebaran bisa sama keluarga dan aku,” tulisnya lagi.
Ia meminta Farra untuk tidak memikirkan hal lain dan fokus pada pemulihan kesehatannya. “Terlepas dari itu semua tak perlu kamu pikirkan, cukup kamu pikirkan gimana biar kamu cepat sembuh, sehat biar bisa ngumpul sama keluarga dan kita bisa jalan jalan sayang,” tulis Ferdi lagi.
Bahkan, keduanya telah menyusun rencana untuk berlibur bersama ke Batam setelah Lebaran. “Kita juga ada rencana habis lebaran mau jalan jalan ke Batam kan sehat sehat yaa sayanggku. Aku selalu kasih doa terbaik buat kamu… I LOVE YOU @_frrpra,” tulisnya.
Namun kini tampaknya Ferdi justru berubah pikiran setelah video ciuman mesra Farra dan Raihan selingkuhannya viral di media sosial. Ia bercerita bahwa baru delapan bulan menjalin hubungan dengan Farra. “Gak sampai setahun kok, cuma 8 bulan lah,” katanya saat live TikTok.
Ferdi mengatakan bahwa ia belum bertemu lagi. “Gak bisa jenguk, saya kerja, gak bisa ninggalin masalahnya. Sabar banget nih,” katanya. Mendapati bahwa pacarnya selingkuh, Ferdi tidak menafikan mengalami sakit hati. “Sakit,” katanya. Sampai kini pun Ferdi belum memutuskan melanjutkan hubungan dengan Farra atau tidak. “Iya. Ini memang harus dipikir matang-matang,” katanya.
Ferdi merasa kapok menjalani hubungan long distance relationship (LDR) karena sudah dua kali dikhianati. “Udah gak mau LDR lagi. Dua kali dikhianati, apes, apes,” katanya.
Motif Asmara di Balik Kekerasan
Penyelidikan mengungkap bahwa latar belakang penyerangan ini berkaitan dengan persoalan asmara. Pelaku diduga tidak mampu menerima penolakan dari korban. Kapolsek Bina Widya, Nusirwan, menjelaskan bahwa sakit hati menjadi pemicu utama tindakan tersebut. “Pelaku merasa sakit hati, karena korban mau memutuskan hubungan kedekatan karena sudah punya pacar,” ungkap Nusirwan kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis.
Menurut Nusirwan, pelaku memang telah merencanakan aksinya sejak awal. Ia berangkat dari Bangkinang dengan membawa senjata tajam di dalam tas. “Pelaku sudah menyiapkan senjata tajam, dan berniat membunuh korban,” kata Nusirwan.
Pengakuan Raihan
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru, Anggi Rian Diansyah, menyatakan bahwa tersangka telah menyimpan niat melakukan penganiayaan sejak lama. Bahkan, penyidik menduga pelaku memiliki keinginan untuk menghabisi nyawa korban. “Pada saat kami periksa, tersangka menyatakan dari awal November 2025 sudah ada niat untuk melakukan hal ini (penganiayaan). Namun, baru dilakukan pada Kamis kemarin,” ujar Anggi saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (27/2/2026).
Fakta ini menegaskan bahwa apa yang terjadi bukanlah luapan emosi sesaat, melainkan puncak dari niat yang terus dipelihara dalam diam. Polisi memastikan, Raihan tidak datang ke kampus tanpa persiapan. Dari rumahnya di Bangkinang, Kabupaten Kampar, ia membawa senjata tajam berupa kapak dan parang. Senjata tersebut diketahui merupakan milik orang tuanya. “Pelaku mengaku sempat mengasah sajam (senjata tajam) di rumahnya sebelum berangkat ke UIN Suska,” ungkap Anggi.
Menanti di Ruang Ujian yang Sepi
Pagi itu, Farradhila sudah berada di kampus Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum. Mahasiswi semester delapan tersebut dijadwalkan menjalani seminar proposal tahapan penting dalam perjalanan akademiknya. Ia duduk seorang diri di ruang ujian lantai dua. Suasana masih lengang, belum banyak mahasiswa maupun dosen yang datang. Dalam kondisi itulah, sekitar pukul 07.30 WIB, Rehan muncul menghampirinya. Di dalam tas yang dibawanya, tersimpan kapak dan parang.
Cekcok Singkat, Serangan Terjadi
Pertemuan itu diwarnai pertengkaran singkat. Adu mulut terjadi sebelum situasi berubah drastis. “Mereka sempat cekcok mulut. Kemudian pelaku mengeluarkan kapak dan mengayunkan ke korban,” kata Anggi. Akibat serangan tersebut, Farradhila mengalami delapan luka bacok di bagian kening, leher, punggung, dan tangan kiri. Insiden itu terjadi pada Kamis (26/2/2026) pagi dan langsung menggegerkan civitas akademika kampus.
Resmi Menjadi Tersangka, Terancam 12 Tahun Penjara
Unit Reskrim Polsek Bina Widya telah menetapkan Rehan Mujafar sebagai tersangka dalam kasus ini. “Pelaku sudah tersangka,” ujar Nusirwan. Atas perbuatannya, Rehan dijerat Pasal 469 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Ia terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.
Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan dapat tumbuh dari relasi yang tidak sehat dan kekecewaan yang tak terkelola. Di ruang akademik yang semestinya melahirkan gagasan dan masa depan, sebuah tragedi nyaris merenggut nyawa meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi dunia pendidikan itu sendiri.





