Presiden AS, Donald Trump, Mengungkap Durasi Perang dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan bahwa perang melawan Iran bisa berlangsung selama setidaknya empat minggu. Jika prediksi ini benar, maka konflik bersenjata tersebut akan berlangsung hingga momen Lebaran yang diperkirakan jatuh pada Jumat (20/3/2026). Serangan rudal AS bersama Israel terhadap Teheran dilakukan pada Sabtu (28/2/2026), yaitu di tengah bulan suci Ramadan. Tindakan ini dinilai tidak menghormati umat Muslim karena dilakukan saat mereka sedang khidmat beribadah.
Momen Lebaran yang seharusnya menjadi ajang saling memaafkan dan berkumpul keluarga akan diselimuti suasana mencekam perang jika perhitungan Trump benar. Trump menyampaikan pernyataannya kepada Daily Mail, Minggu (1/3/2026), bahwa proses perang biasanya memakan waktu sekitar empat minggu. Meskipun Iran adalah negara yang kuat dan luas, perang tetap akan memakan waktu empat minggu atau kurang.
Trump mengaku terbuka dengan kemungkinan perundingan dengan Iran, namun menegaskan bahwa hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. “Mereka ingin bicara, tapi aku sudah bilang seharusnya kalian bicara minggu lalu, bukan minggu ini,” katanya.
Pada Senin (2/3/2026), Trump mengunggah video pidato terbarunya di media sosial Truth Social terkait serangan militer terhadap Iran. Dalam pidato tersebut, ia menyampaikan lima tujuan dari operasi perang bernama “Epic Fury” yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026).
Lima Tujuan Operasi Militer “Epic Fury”
-
Melindungi Rakyat Amerika
Trump menegaskan bahwa operasi militer dilakukan demi melindungi warga negaranya dari ancaman Iran. Ia menyebut rezim Iran sebagai kelompok yang berbahaya dan mengancam keamanan nasional AS. “Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran,” tegas Trump dalam pidatonya. -
Menghancurkan Kemampuan Militer Iran
Dalam pidato tersebut, Trump menyampaikan komitmen untuk menghancurkan infrastruktur militer Iran, khususnya sektor persenjataan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa operasi militer tidak hanya bersifat terbatas, tetapi menyasar kemampuan pertahanan strategis Iran. “Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka ke tanah. Semuanya akan dilenyapkan sepenuhnya. Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka,” ujarnya. -
Mencegah Iran Memiliki Senjata Nuklir
Trump juga menjadikan isu program nuklir Iran sebagai alasan penyerangan. Isu nuklir selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan utama antara Washington dan Teheran di berbagai forum internasional. “Ini adalah pesan yang sangat sederhana: mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya. -
Menghentikan Proksi Teroris
Trump menyebut keberadaan kelompok proksi Iran di kawasan Timur Tengah sebagai ancaman bagi stabilitas regional maupun global. Pernyataan tersebut merujuk pada kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini dituding memiliki kedekatan dengan pemerintah Iran. “Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengguncang stabilitas kawasan atau dunia dan menyerang pasukan kami,” ujarnya. -
Seruan Perubahan Rezim
Dalam pidato itu, Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka. “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian untuk diambil. Ini mungkin akan menjadi satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi,” kata Trump. Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa tujuan operasi militer tidak hanya terbatas pada isu keamanan, melainkan juga menyentuh aspek politik dalam negeri Iran.
Spekulasi tentang Keterlibatan Pihak Lain
Terlebih, serangan AS bersama Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Hingga kini, situasi di Timur Tengah masih berkembang dan memicu kekhawatiran komunitas internasional akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi terbaru terkait isi pidato tersebut.
Kritik terhadap Tindakan AS dan Israel
Tokoh Hubungan Internasional Indonesia, Dino Patti Djalal, angkat bicara menanggapi perang di Timur Tengah ini. Ia menyoroti serangan AS-Israel terhadap Iran yang dilakukan pada Bulan Ramadan. Menurutnya, hal itu jelas menunjukkan tidak acuhnya kedua negara terhadap umat Muslim. “Kita semua syok melihat serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Ini menunjukkan ketidakpekaan terhadap suasana batin dunia Islam,” ujarnya.
Menurut Dino, konflik tersebut berpotensi meluas karena tujuan serangan dinilai bukan sekadar menghentikan program nuklir Iran, tetapi juga mengarah pada upaya menjatuhkan pemerintahan di Teheran. Ia menilai kondisi tersebut membuka kemungkinan keterlibatan berbagai pihak lain di kawasan, mengingat Iran memiliki jaringan politik dan militer yang luas di Timur Tengah. “Perang ini hampir pasti akan menyeret pihak luar dan menyebarkan guncangan ke wilayah lain,” katanya.
Dino juga menegaskan bahwa dalam konflik tersebut Iran berada pada posisi sebagai pihak yang diserang, bukan penyerang. Karena itu, kegagalan jalur diplomasi tidak dapat dijadikan pembenaran atas aksi militer. Ia bahkan menyebut tren penggunaan kekuatan militer oleh Amerika Serikat untuk menyelesaikan perselisihan internasional sebagai perkembangan yang berbahaya bagi stabilitas global.





