Pengalaman Ibu Disabilitas di Balik Dapur MBG

Aa1xlrvc 1
Aa1xlrvc 1

Kehidupan yang Berubah dengan Dapur Makan Bergizi Gratis



Tri Wahyuni (52 tahun) masih mengingat betul bagaimana rasanya harus menahan malu saat meminjam beras ke tetangga untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sebagai asisten rumah tangga (ART) kala itu, dia terpaksa mengutang beras karena pendapatannya kecil dan dibayarkan sebulan sekali. Saat itu, kehidupan Tri Wahyuni penuh dengan kesulitan ekonomi yang membuatnya sering merasa tidak nyaman.

Namun, sejak ia bergabung dengan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), segalanya berubah. Asap dari dapur MBG perlahan bisa menghapus kenangan pahit itu. Berkat program ini, Tri Wahyuni tak perlu lagi khawatir kehabisan beras. Ia bisa rutin belanja kebutuhan sehari-hari seperti beras, sabun, hingga elpiji. Bahkan, kebutuhan anaknya yang masih SMA bisa terpenuhi secara teratur.

Sejak suaminya meninggal, Tri Wahyuni harus berjuang sendirian menghidupi dua orang anaknya. Tapi, dengan adanya dapur MBG, ia kini bisa membayar biaya sekolah anaknya dan bahkan memberi uang saku seminggu sekali. Keinginan untuk bisa menyokong kebutuhan anaknya berkegiatan di sekolah juga terwujud. “Alhamdulillah, kemarin juga bisa bayar kontrakan pelan-pelan,” ujarnya sambil terbata-bata menahan haru.

Dapur MBG juga membantu Tri Wahyuni mencicil beli sepeda motor bekas. Cicilan itu sudah lunas, dan kini ia bisa menggunakan sepeda motor tersebut bolak-balik ke tempat kerja. Sebelum memiliki kendaraan sendiri, ia harus menahan malu minta dibonceng temannya untuk berangkat ke dapur MBG.

Tri Wahyuni meminta Presiden RI Prabowo Subianto agar tidak menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Pak, kalau bisa MBG ada terus ya Pak. Jangan libur-libur, kasihan kami. Jangan ditutup ya Pak Prabowo,” katanya saat ditemui pekan ini.



Bagi Tri Wahyuni, bekerja di SPPG bukan sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan sebuah tali penyelamat bagi ekonomi keluarga. Sejak suaminya wafat tiga tahun lalu, ia harus berjuang sendirian menghidupi dua anaknya. Kemiskinan sempat memaksa anak pertamanya merantau jauh ke Kalimantan mengikuti kerabat karena keterbatasan biaya.

Untuk itu, ia meminta Presiden Prabowo untuk memastikan program MBG terus berjalan, memberikan berkah bagi dirinya maupun masyarakat luas. “Mudah-mudahan saya bisa mengabdi lewat (program) MBG ini. Karena MBG ini benar-benar, Pak, saya merindukannya. Dan saya merasa nyaman kerja di sini,” kata dia.

Disabilitas Berdaya



Bahagia itu sederhana. Bagi Tri Widodo (31 tahun), orang berkebutuhan khusus sejak lahir, bekerja di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat dia bersemangat setiap kali memulai hari. Semua bermula saat ia memberanikan diri untuk mengikuti seleksi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pucangan 1 Kertasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dia antusias ikut mendaftar.

“Menunggu (pengumuman) beberapa hari, sambil mohon doa kepada teman-teman dan ibu. Akhirnya kesampaian juga kuterima di sini sebagai pencuci ompreng,” kata Widodo.

Sebelum bekerja di SPPG Pulangan 1, Widodo menjadi pegawai di sebuah percetakan lembar kerja siswa (LKS). Dia bertugas mengemas buku-buku LKS sebelum didistribusikan. Meski tak bisa sempurna menggerakkan tangan dan kakinya, Widodo masih dipercaya oleh dapur MBG untuk bekerja di sana. Dia pun senang karena rekan-rekannya tak mempermasalahkan kondisi fisiknya.

“Lingkungannya, teman-teman itu akrab sekali. Bisa membantu sesama. Bisa sharing bareng, bisa kompak gitu,” katanya.



Bekerja di dapur MBG membuat dia bisa memenuhi kebutuhan pribadinya. Dia juga terharu karena bisa memenuhi kebutuhan keluarga, terutama membahagiakan ibunya. “Saat ini bisa membeli barang sendiri, kebutuhan sendiri. Bisa menabung, bisa membantu orang tua,” kata Widodo.



Dia berharap bisa lebih lama lagi bekerja di dapur MBG. Untuk itu, dia sangat berterima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto yang telah mencetuskan program ini. “Harapan saya bisa cukup lama (di dapur MBG). Bisa kerja di sini terus,” ujarnya.

“Terima kasih Pak Prabowo atas MBG-nya. Aku sangat terbantu sekali dengan MBG ini. Bisa mencukupi (kebutuhan) keluarga,” kata Widodo yang mengaku masih ikut tinggal bersama orang tua dan seorang saudaranya.

Pos terkait