Pengamat: Indonesia Bisa Jadi Perantara Damai AS-Israel dengan Iran

Aa1xklpy 8
Aa1xklpy 8



Indo Pacific Strategic Intelligence (ISI) memberikan analisis terkait ketegangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurut lembaga tersebut, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi perantara perdamaian dalam konflik ini.

ISI mengamati bahwa posisi geopolitik Iran saat ini relatif lebih rentan. Hal ini didasarkan pada keterbatasan dukungan dari Rusia, mitra utama Iran, yang tengah menghadapi konflik dengan Ukraina. Sementara itu, China menunjukkan sikap hati-hati, dengan fokus utama pada isu Taiwan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, China juga mempertimbangkan secara cermat biaya dan manfaat jika terlibat langsung dalam konflik Timur Tengah.

Namun, jika China memutuskan untuk terlibat dalam konflik di kawasan tersebut, situasi bisa menjadi lebih rumit. Keterlibatan dapat berupa dukungan ekonomi, militer, atau kehadiran angkatan laut di Teluk Persia. Jika hal ini terjadi, konflik berpotensi meluas dan menciptakan dampak yang tidak langsung hingga ke kawasan Indo-Pasifik.

Lembaga think tank independen yang fokus pada isu pertahanan dan keamanan kawasan ini juga memberikan pandangan tentang langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan oleh Indonesia dalam menghadapi situasi ini.

“ISI menilai bahwa Indonesia perlu memperkuat kesiapan strategis tanpa terjebak dalam rivalitas antar kekuatan besar. Politik luar negeri bebas dan aktif tetap menjadi dasar utama, sementara keterlibatan Indonesia di kawasan Timur Tengah harus dibatasi pada upaya perdamaian dan bantuan kemanusiaan,” demikian penjelasan ISI.

Di sisi lain, peningkatan kesiapsiagaan pertahanan nasional diperlukan, mulai dari pengembangan strategi pertahanan anti-decapitation, doktrin perang berlarut mandiri yang terfragmentasi dalam satuan kecil, anti-perang informasi, hingga taktik evakuasi massa.



Menurut ISI, langkah-langkah ini penting untuk mengantisipasi berbagai dampak tidak langsung, termasuk ancaman keamanan maritim, serangan siber, serta ketidakstabilan ekonomi.

ISI juga menekankan bahwa Indonesia memiliki modal diplomatik yang signifikan untuk menjadi perantara perdamaian. Reputasi sebagai negara Islam moderat, pengalaman kepemimpinan di ASEAN dan G20, serta hubungan baik dengan berbagai pihak menjadi kekuatan tambahan.

“Upaya diplomasi, baik melalui forum multilateral maupun jalur dialog informal, sangat penting untuk mendorong de-eskalasi dan mencegah konflik meluas,” ujarnya.

Dari sudut pandang ekonomi, ISI mengingatkan potensi dampak terhadap ketahanan energi, pasar keuangan, dan rantai pasok global. Terutama jika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terganggu. Oleh karena itu, mitigasi proaktif melalui diversifikasi pasokan energi, stabilisasi pasar keuangan, serta penguatan produksi domestik menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas nasional.

Keselamatan Warga Negara Indonesia di kawasan konflik juga menjadi prioritas utama. ISI merekomendasikan penguatan koordinasi lintas lembaga untuk pendataan, perlindungan, dan kesiapan evakuasi WNI, mengingat meningkatnya risiko keamanan akibat eskalasi militer.

ISI menegaskan bahwa operasi militer AS terhadap Iran bukan hanya konflik regional di Timur Tengah, tetapi juga menjadi titik kritis dalam dinamika keamanan global yang berdampak langsung terhadap Indo-Pasifik.

“Dengan kebijakan yang tepat dan antisipatif, Indonesia tidak hanya dapat meminimalkan dampak krisis ini, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai middle power yang berpengaruh dan konstruktif dalam tatanan regional,” ujarnya.

Pos terkait