Penyelidikan Kasus Vina: Terungkap Nama-nama WNI yang Diduga Terlibat
Kasus yang menimpa Vina, warga Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, kini semakin mengemuka setelah dugaan keterlibatan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam proses perkenalan hingga pemberangkatan dirinya ke China terungkap. Kuasa hukum keluarga Vina dari YLBHI Garuda Sakti, Asep Maulana Hasanudin, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai peran para individu yang disebut terlibat dalam kasus ini.
Peran Penghubung Awal dan WNI Aktif
Menurut Asep, peran awal sebagai penghubung dilakukan oleh seorang warga negara asing bernama Zhang Haibo. Ia disebut sebagai orang Tiongkok yang fasih berbahasa Mandarin dan menjadi penghubung awal antara Vina dengan pihak lainnya. Namun, ia menegaskan bahwa ada peran aktif dari beberapa WNI dalam proses tersebut.
“Ada yang mengakui sebagai agen, iya,” ujar Asep saat ditemui di Desa Gombang, Jumat (27/2/2026). Menurutnya, nama-nama seperti S, N, dan H diduga memiliki peran signifikan dalam membantu proses administrasi keberangkatan Vina ke China.
S Sebagai Tokoh Paling Dominan
Dari sekian banyak nama yang muncul, Asep menyebut bahwa S diduga memiliki peran dominan karena memiliki pengalaman bolak-balik ke China dan kemampuan berbahasa Mandarin. “S itu punya track record orang yang sudah bolak-balik ke Cina dan spesialis kayak TKI gitu. Dan dia juga bisa berbahasa Mandarin, sehingga jasanya itu digunakan,” jelasnya.
Selain itu, S disebut berperan sebagai orang yang mengaku sebagai saudara Wang Jun kepada pihak Vina. “Iya, ngaku masih paman dan bibi gitu. Nah, ketahuannya setelah Vina di sana, ternyata nggak ada tuh mereka. Paman dan bibi nggak ada pas sampai di sana,” ujarnya.
Rombongan Asing dan Kedatangan ke Gombang
Asep menjelaskan, rombongan warga negara asing bersama sejumlah WNI tercatat empat kali datang ke Desa Gombang untuk menemui keluarga Vina. Dalam kedatangan pertama, rombongan tersebut terdiri dari Liu Guanggun, Zhang Haibo, dan Wang Jun, yang ditemani oleh N, H, dan S. Mereka datang dengan maksud silaturahmi.
Pada kedatangan keempat, rombongan tersebut menyerahkan mahar. Dua hari kemudian, tepatnya 7 Agustus 2025, Vina diberangkatkan ke China.
Kesadaran Setelah Berada di Luar Negeri
Menurut Asep, kliennya baru menyadari kondisi sebenarnya setelah berada di luar negeri. “Vina baru sadar ternyata calon suaminya ini, yang awalnya dianggap normal, ternyata memiliki kelainan secara mental. Jadi Vina merasa dibohongi,” jelas dia.
Ia juga mengungkap adanya dugaan penjebakan tanda tangan dokumen. “Vina diarahkan untuk menandatangani berkas-berkas dokumen. Setelah disadari, ternyata itu persetujuan pernikahan dan terbitlah buku nikah. Jadi Vina dikelabui,” katanya.
Permintaan Pulang dan Pemerasan
Tidak hanya itu, Vina disebut sempat meminta pulang namun diminta mengembalikan mahar hingga empat kali lipat. “Kalau kamu mau kembali ke Indonesia, kamu harus mengembalikan uang mahar empat kali lipat, sekitar Rp 500 juta. Itu kan bentuk pemerasan,” ujarnya.
Keluarga kini telah melaporkan kasus tersebut ke sejumlah pihak dan berharap Vina dapat segera dipulangkan.
Video Viral Meminta Bantuan
Sebelumnya, video yang memperlihatkan Vina menangis meminta pertolongan sempat viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia mengaku menjadi korban pengantin pesanan dan dokumennya ditahan di China.
Dalam rekaman itu, Vina memohon bantuan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. “Yang terhormat Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi. Perkenalkan, nama saya Fitna, saya dari Cirebon. Saya sedang berada di China saat ini,” ucap Vina, dalam video tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat Jabar maupun aparat penegak hukum terkait perkembangan kasus tersebut.





