Pelaku Usaha Kuliner di Pangandaran Kewalahan Akibat Kenaikan Harga Bawang Merah
Di tengah situasi yang semakin memprihatinkan, pelaku usaha kuliner di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kini menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga bawang merah. Hal ini menyebabkan banyak usaha kecil menengah terpuruk karena biaya produksi meningkat tanpa diimbangi dengan kenaikan harga jual produk.
Berdasarkan laporan dari kontributor setempat, Ariz (36), seorang pengusaha keripik bawang asal Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, menjadi salah satu korban dari kenaikan harga bawang merah. Ia mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan baku ini sangat memberatkan, terutama karena tidak bisa langsung diikuti dengan kenaikan harga jual produknya.
“Saya merasa terbebani karena harga bahan pokok naik, terutama bawang merah. Itu bahan utama produksi keripik bawang kami, sedangkan harga keripik tidak bisa dinaikkan,” ujar Ariz melalui WhatsApp, Minggu (1/3/2026) pagi.
Ariz memprediksi bahwa harga bawang merah masih berpotensi terus merangkak naik hingga menjelang Hari Raya Idulfitri. Dengan kondisi tersebut, usahanya semakin terjepit karena margin keuntungan kian menipis.
Biasanya, Ariz membeli bawang merah dengan harga sekitar Rp 30 ribu per kilogram. Namun kini, harga bawang merah sudah melonjak menjadi lebih dari Rp 40 ribu per kilogram. Bahkan, harga itu berlaku untuk pembelian minimal 10 kilogram. “Kalau beli di bawah 10 kilogram, harganya Rp 42 ribu sampai Rp 43 ribu per kilogram,” katanya.
Ia berharap harga bawang merah dapat segera kembali normal atau setidaknya untuk kenaikannya tidak terlalu tinggi. Menurutnya, kestabilan harga sangat penting karena bawang merah merupakan bahan baku utama dalam produksi keripik bawang yang dijalankan.
Dampak Kenaikan Harga Bawang Merah pada Usaha Kecil
Kenaikan harga bawang merah bukan hanya berdampak pada Ariz, tetapi juga pada pelaku usaha lainnya di daerah ini. Sejumlah usaha kuliner yang sebelumnya stabil kini mulai merasakan tekanan ekonomi yang signifikan. Beberapa di antaranya bahkan mempertimbangkan untuk menghentikan operasional sementara.
Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab kenaikan harga bawang merah antara lain permintaan yang meningkat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. Namun, belum ada informasi pasti mengenai penyebab utama kenaikan tersebut.
Tantangan yang Dihadapi Pelaku Usaha
Selain kenaikan harga bawang merah, pelaku usaha juga menghadapi tantangan lain seperti persaingan yang semakin ketat dan kesulitan dalam mendapatkan pasokan bahan baku yang cukup. Hal ini membuat mereka semakin kesulitan untuk menjaga kualitas produk serta menawarkan harga yang kompetitif.
“Kami berharap pemerintah atau instansi terkait bisa segera melakukan tindakan untuk menstabilkan harga bawang merah. Tanpa itu, banyak usaha kecil akan terpaksa tutup,” ujar Ariz.
Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha harus mencari solusi alternatif, seperti mencari bahan pengganti atau meningkatkan efisiensi produksi. Namun, hal tersebut tidak selalu mudah dilakukan, terutama bagi usaha yang terbatas modal dan sumber daya.
Harapan Masa Depan
Meski situasi saat ini sangat berat, Ariz tetap optimis bahwa kondisi akan membaik seiring waktu. Ia berharap agar harga bawang merah dapat kembali stabil dan tidak lagi mengalami lonjakan yang tidak terkendali.
“Penting bagi kita semua untuk tetap bersabar dan saling mendukung. Semoga keadaan bisa segera pulih,” harap Ariz.
Dengan dukungan dari masyarakat dan pemerintah, pelaku usaha di Pangandaran diharapkan bisa kembali bangkit dan menjalankan usahanya dengan lebih baik.





