Pada awal tahun 2026, industri otomotif di Indonesia menunjukkan tanda-tanda penguatan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan bahwa penjualan mobil secara wholesales pada Januari mencapai 66.447 unit, meningkat sebesar 7% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan ritel dari dealer ke konsumen mencapai 66.936 unit, atau naik 4,5% secara Year on Year (YoY). Angka ini menjadi indikasi positif bagi sektor pembiayaan kendaraan bermotor.
PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), salah satu perusahaan multifinance terkemuka, mengamati data ini sebagai sinyal kenaikan potensi penyaluran kredit kendaraan. Direktur Utama Clipan Finance, Harjanto Tjitohardjojo, menjelaskan bahwa kenaikan penjualan tersebut menunjukkan permintaan konsumen yang masih kuat di awal tahun. Ia menyatakan bahwa hal ini berdampak langsung pada peluang perusahaan pembiayaan dan perbankan untuk memperluas portofolio kredit kendaraan.
Namun, meskipun angka penjualan Januari menunjukkan pertumbuhan, Harjanto menilai data satu bulan ini belum cukup untuk dijadikan acuan utama. Menurutnya, bulan Januari sering kali memiliki karakteristik khusus karena adanya efek awal tahun, di mana konsumen dan dealer cenderung lebih aktif dalam transaksi setelah liburan akhir tahun. Oleh karena itu, ia menyarankan industri pembiayaan untuk tetap memantau tren penjualan hingga akhir kuartal pertama tahun ini sebelum membuat kesimpulan definitif.
Harjanto juga menyoroti beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan multifinance dalam menggenjot kinerja pembiayaan kendaraan. Di antaranya adalah stabilitas nilai tukar Rupiah, arah kebijakan suku bunga, serta daya beli masyarakat yang masih perlu terus dipantau. Faktor-faktor ini menjadi variabel penentu yang sangat berpengaruh terhadap prospek sektor pembiayaan.
Secara umum, Harjanto optimis tentang prospek pembiayaan kendaraan bermotor pada tahun 2026. Ia menilai bahwa tren elektrifikasi kendaraan membuka segmen baru yang semakin berkembang. Selain itu, program subsidi atau insentif pemerintah yang berpotensi berlanjut juga turut mendukung daya beli masyarakat. Kompetisi yang sehat antara penyelenggara pembiayaan juga mendorong inovasi produk kredit yang lebih fleksibel dan terjangkau bagi konsumen.
Di sisi lain, Harjanto tidak menyangkal bahwa ada tantangan yang tetap perlu diperhatikan. Misalnya, tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi dapat menghambat sebagian konsumen untuk mengambil kredit kendaraan. Selain itu, kualitas aset atau Non Performing Financing (NPF) juga harus dijaga di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat. Persaingan dengan skema pembelian tunai yang didorong oleh program trade-in maupun diskon langsung dari produsen juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Harjanto berpendapat bahwa industri multifinance berpotensi menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan catatan, momentum positif pada awal tahun ini dapat terjaga dan kondisi makro ekonomi tetap kondusif sepanjang 2026.
Untuk meningkatkan kinerja pembiayaan kendaraan, Clipan Finance akan fokus pada beberapa strategi. Pertama, mereka akan memaksimalkan kehadiran di dealer atau showroom, serta pameran otomotif. Kedua, pihaknya akan menawarkan skema pembiayaan yang kompetitif, lalu fokus pada segmen kendaraan yang diminati pasar. Selain itu, transformasi digital dan efisiensi proses akan menjadi prioritas, serta penerapan manajemen risiko yang lebih terukur.
Pada 2025, Clipan Finance mencatatkan piutang pembiayaan sebesar lebih dari Rp 9 triliun. Dengan strategi yang telah dirancang, perusahaan ini berharap dapat terus berkembang dan memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.





