Jakarta – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) melaporkan bahwa penjualan mobil secara wholesales pada Januari 2026 mencapai 66.447 unit, meningkat sebesar 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan ritel dari dealer ke konsumen tercatat sebanyak 66.936 unit, naik 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pengamat Industri Pembiayaan Jodjana Jody menilai capaian positif ini menjadi tanda baik bagi industri pembiayaan kendaraan. Ia mengatakan bahwa pertumbuhan ini dapat memberikan dorongan bagi perusahaan multifinance dalam menyalurkan pembiayaan kendaraan. Namun, ia juga memperingatkan agar industri tersebut tetap waspada terhadap tren ekonomi hingga akhir kuartal pertama 2026.
Menurut Jody, ketidakpastian ekonomi masih bisa memengaruhi keputusan konsumen untuk membeli kendaraan. Ia menyebutkan bahwa situasi ini bisa membuat masyarakat menunda pembelian hingga kondisi lebih stabil.
“Masih terlalu dini untuk memprediksi bahwa penjualan kendaraan akan terus tumbuh positif. Karena hari kerja di bulan Maret 2026 sangat sedikit, performa kuartal I-2026 dibandingkan tahun lalu bisa saja sama. Di sisi lain, kondisi global yang tidak menentu juga bisa membuat konsumen bersikap wait and see,” ujarnya pada Sabtu (28/2/2026).
Momen Katalis Penting
Jody menambahkan bahwa pertumbuhan pembiayaan kendaraan pada tahun ini sangat bergantung pada momen tertentu seperti libur Lebaran, pameran otomotif, serta program subsidi kredit yang biasanya didorong oleh perbankan. Ketiga faktor tersebut dinilai sebagai katalis positif yang bisa memengaruhi pertumbuhan industri multifinance, khususnya dalam hal pembiayaan kendaraan.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa pembiayaan mobil baru oleh perusahaan multifinance pada November 2025 mencapai Rp 142,59 triliun, turun 4,65% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pembiayaan mobil bekas mencatat pertumbuhan sebesar 0,42% menjadi Rp 87,46 triliun.
Untuk tahun 2026, OJK memproyeksikan bahwa pembiayaan mobil bekas akan relatif lebih resilien dibandingkan mobil baru. Meski demikian, pembiayaan mobil baru dinilai memiliki peluang untuk kembali tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan kendaraan.





